Tradisi Ramadan di Bahrain: Perpaduan Ibadah, Budaya dan Kebersamaan

Masjid-masjid di Bahrain juga dipenuhi jemaah saat Ramadan untuk salat Tarawih dan tadarus Al-Qur’an.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 27 Februari 2026, 20:00 WIB
Meski rasa lelah tersebut menjadi bagian dari proses ibadah yang penuh makna, menjaga kondisi fisik tetap prima juga penting agar kita bisa konsisten beribadah hingga akhir Ramadan. Tubuh yang nyaman membantu pikiran lebih fokus dan hati lebih khusyuk. (foto/dok: freepik)

Liputan6.com, Manama - Bulan suci Ramadan di Bahrain dirayakan dengan semangat religius sekaligus tradisi sosial yang kental. Sejak hari pertama, suasana ibu kota Manama berubah lebih semarak saat lampu hias dan lentera menghiasi jalanan serta kawasan permukiman.

Seperti di banyak negara Muslim, warga Bahrain menjalankan puasa dari fajar hingga matahari terbenam. Menjelang waktu berbuka, keluarga berkumpul menikmati hidangan khas seperti harees—olahan gandum dan daging yang dimasak perlahan—serta machboos, nasi berbumbu dengan daging atau ikan. Kurma dan minuman tradisional kerap menjadi menu pembuka sebelum salat Magrib.

Salah satu tradisi yang dinantikan anak-anak adalah “Gergaoon”, perayaan pertengahan Ramadan. Dalam tradisi ini, anak-anak mengenakan pakaian tradisional dan berkeliling lingkungan sambil menyanyikan lagu-lagu khas untuk menerima permen dan kacang dari warga. Tradisi tersebut mempererat hubungan antarwarga sekaligus melestarikan warisan budaya Teluk.

Masjid-masjid di Bahrain juga dipenuhi jemaah untuk salat Tarawih dan tadarus Al-Qur’an. Pemerintah dan berbagai organisasi sosial aktif menggelar kegiatan amal, termasuk pembagian makanan gratis bagi pekerja dan masyarakat kurang mampu.

Ramadan di Bahrain bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga waktu memperkuat solidaritas, berbagi rezeki, dan merawat identitas budaya di tengah modernitas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya