Liputan6.com, Jakarta - Sinetron Istiqomah Cinta Episode Senin 23 Februari menceritakan, kesehatan Ibu Linda yang semakin menurun dimanfaatkan secara licik oleh Darto dan Monika. Situasi yang seharusnya mengundang simpati justru dijadikan alat untuk menekan Fathan. Demi melihat sang ibu sembuh dan tidak semakin terpuruk, Fathan berada dalam posisi yang sulit.
Ia akhirnya mengucapkan janji pahit: mengubur masa lalunya dalam-dalam dan memberikan seluruh perhatian serta komitmennya kepada Monika. Kesempatan ini tidak disia-siakan Monika. Dengan penuh perhitungan, ia menampilkan diri sebagai perempuan yang telah berubah—lembut, sabar, dan tampak tulus—seolah benar-benar ingin menebus kesalahan dan menjadi calon istri idaman.
Advertisement
Sementara itu, di sisi lain cerita, Hutami tidak lagi mampu menahan amarah dan kekecewaannya. Selama ini ia menyaksikan ketegaran Khansa menghadapi berbagai penderitaan. Ketabahan itu akhirnya menyentuh nuraninya. Dengan tegas, ia mengusir Emran dan Yuda dari rumah. Ia memberi peringatan keras: mereka dilarang kembali sebelum membawa Khansa pulang dengan martabat yang layak sebagai istri sah, bukan sebagai sosok yang terus-menerus disakiti. Terdesak dan kehilangan arah, Emran serta Yuda pun berusaha mencari keberadaan Khansa hingga ke rumah Fathan.
Di tengah kekacauan itu, kehidupan Khansa justru mulai menunjukkan secercah harapan. Kebaikan hati Dr. Akhsan yang tersentuh oleh ketulusan Khansa saat merawat Nenek Inggit membuka jalan baru baginya. Ia ditawari bantuan untuk melanjutkan pendidikan di fakultas hukum—sebuah kesempatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun, keberuntungan tersebut memicu rasa iri di hati Funny dan Rara. Terlebih ketika Funny mengetahui bahwa mereka akan berada di kampus yang sama. Dengan sikap manis yang dibuat-buat, Funny menawarkan tumpangan dan bersikap seolah bersahabat, padahal diam-diam ia menyusun rencana agar Khansa merasa terasing dan tidak nyaman.
Khansa resmi diterima di Universitas Pelita Bangsa, tetapi dengan syarat tegas dari Rektor: ia wajib merahasiakan masa lalunya sebagai mantan narapidana dalam kasus pembunuhan. Beban itu menjadi bayang-bayang di hari pertamanya. Belum sempat beradaptasi, Funny sudah mulai menjalankan siasatnya. Ia meminta Kenzi, mahasiswa populer yang dikenal sebagai playboy kampus, untuk mempermalukan Khansa di depan banyak orang. Hari pertama yang seharusnya menjadi awal baru justru berubah menjadi ujian mental yang berat bagi Khansa.