Kekalahan dari Osasuna dan Keraguan terhadap Kepemimpinan Alvaro Arbeloa di Real Madrid

Kekalahan Real Madrid dari Osasuna di pekan ke-25 La Liga memicu keraguan terhadap Alvaro Arbeloa. Tekanan meningkat jelang laga Liga Champions.

oleh Asad ArifinDiterbitkan 22 Februari 2026, 15:48 WIB
Reaksi penyerang Real Madrid asal Prancis, Kylian Mbappe terhadap gol kedua Osasuna yang dicetak oleh Raul Garcia selama pertandingan pekan ke-25 La Liga 2025/2026 di Stadion El Sadar, Pamplona pada Sabtu 21 Februari 2026 waktu setempat atau Minggu (22/2/2026) dini hari WIB. Bertandang ke markas Osasuna, Real Madrid tersungkur. (ANDER GILLENEA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Real Madrid kembali diguncang keraguan pada musim 2025/2026. Kekalahan 1-2 dari Osasuna di pekan ke-25 La Liga, Minggu (22/2) dini hari WIB, menjadi titik terbaru yang memicu alarm.

Hasil di El Sadar bukan sekadar kehilangan tiga poin. Madrid kini terancam kehilangan posisi puncak klasemen dari Barcelona.

Sorotan tajam mengarah kepada pelatih Alvaro Arbeloa. Sosok yang awalnya diharapkan menjadi solusi justru kini berada di bawah tekanan besar.

Laporan Diario SPORT menyebutkan munculnya keraguan dari ruang ganti hingga jajaran manajemen yang dipimpin Florentino Perez. Situasi ini mempertegas bahwa musim Madrid jauh dari kata stabil.


Inkonsistensi dan Hilangnya Identitas Permainan

Di babak kedua, Real Madrid tampil lebih agresif dengan penguasaan bola yang lebih tinggi. Tampak dalam foto, bek Real Madrid asal Spanyol, Dani Carvajal (kiri) berebut bola dengan gelandang Osasuna asal Spanyol, Jon Moncayola, selama pertandingan pekan ke-25 La Liga 2025/2026 di Stadion El Sadar, Pamplona pada Sabtu 21 Februari 2026 waktu setempat atau Minggu (22/2/2026) dini hari WIB. (ANDER GILLENEA/AFP)

Sejak awal masa jabatannya, Arbeloa belum mampu menghadirkan konsistensi. Performa tim naik turun tanpa pola yang jelas.

Madrid bahkan tersingkir dari Copa del Rey secara memalukan oleh Albacete. Kebijakan rotasi yang agresif justru berujung kegagalan.

Identitas permainan yang dominan belum terlihat. Publik Santiago Bernabeu merespons dengan siulan keras dalam beberapa laga kandang.

Kekalahan dari Osasuna mempertegas persoalan itu. Rekor tak terkalahkan di liga terhenti dan celah mendasar dalam struktur tim kembali terekspos.


Ketergantungan Individu dan Tanda Tanya Taktis

Vinicius Junior dan Alvaro Arbeloa berpelukan dalam laga Real Madrid vs Monaco di Liga Champions, Rabu (21/1/2026). (AP Photo/Jose Breton)

Arbeloa memang mendapat kredit karena menghidupkan kembali performa Vinicius Junior. Namun, secara kolektif tim belum solid.

Banyak kemenangan diraih berkat momen individu dari Vinicius, Kylian Mbappe, atau penyelamatan krusial Thibaut Courtois. Sistem taktis belum menjadi fondasi utama.

Sejumlah laporan menyebut pemain mulai mempertanyakan keputusan pergantian yang sulit dipahami. Ada kesan beberapa keputusan dibuat untuk menjaga keseimbangan ego di ruang ganti.

Fakta lain yang mengkhawatirkan, Madrid belum pernah melakukan comeback ketika kebobolan lebih dulu di era Arbeloa. Statistik ini memperlihatkan problem mental dan respons taktis.

Tekanan diprediksi meningkat jelang leg kedua Liga Champions melawan Benfica. Meski unggul agregat 1-0, bayang-bayang kegagalan di Eropa dapat memperbesar krisis jika tak segera diatasi.

Sumber: Madrid Universal

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya