Mengenal Musaharati, Tradisi Ramadan di Palestina Bertahan di Tengah Tekanan dan Pembatasan

Apa itu Musaharati dan mengapa tradisi ini masih bertahan?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 22 Februari 2026, 20:00 WIB
Ilustrasi puasa, Ramadan, Islami. (Photo by Ahmed Aqtai: https://www.pexels.com/photo/photo-of-ramadan-light-on-top-of-table-2233416/)

Liputan6.com, Gaza - Ramadan di Palestina tahun ini kembali diwarnai tradisi khas yang tetap bertahan di tengah situasi sosial dan politik yang menantang. Di sejumlah wilayah seperti Yerusalem, Gaza, dan Ramallah, warga menjaga praktik budaya turun-temurun sebagai bagian dari identitas kolektif selama bulan suci.

Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah kehadiran musaharati, petugas yang berkeliling kampung pada dini hari untuk membangunkan warga sahur. Dengan membawa beduk kecil atau mengetuk pintu sambil melantunkan syair religius, musaharati menjadi simbol kebersamaan dan solidaritas. Tradisi ini telah berlangsung sejak era Ottoman dan tetap dijalankan meski masyarakat kini mengandalkan alarm digital.

Di Kota Tua Yerusalem, suasana Ramadan terasa kuat di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa. Ribuan warga memadati area tersebut untuk melaksanakan salat tarawih. Lampu-lampu hias dipasang di gang-gang sempit, sementara pedagang musiman menjajakan kurma, qatayef, dan minuman khas seperti qamar al-din.

Di Jalur Gaza, tradisi berbuka puasa bersama di ruang terbuka tetap digelar secara sederhana. Warga saling berbagi makanan dalam semangat gotong royong, meski keterbatasan pasokan sering menjadi tantangan. Lembaga sosial dan komunitas lokal turut membagikan paket iftar kepada keluarga yang membutuhkan.

Sementara itu, di Tepi Barat, pemerintah daerah dan organisasi masyarakat mengadakan kegiatan keagamaan dan sosial untuk anak-anak, termasuk lomba hafalan Al-Qur’an dan pertunjukan seni islami. Tradisi lentera Ramadan dan dekorasi jalan juga menghiasi pusat kota.

Meski dihadapkan pada berbagai pembatasan mobilitas dan kondisi keamanan, tradisi Ramadan di Palestina tetap menjadi ruang penguatan identitas, spiritualitas, dan solidaritas sosial bagi masyarakat setempat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya