Gol Pau Cubarsi Dianulir, VAR Bermasalah: Barcelona Dirugikan!

Gol Pau Cubarsi dianulir akibat gangguan VAR semi-otomatis saat Barcelona kalah 0-4 dari Atletico Madrid di Copa del Rey. CTR akui sistem bermasalah.

oleh Asad ArifinDiterbitkan 13 Februari 2026, 20:34 WIB
Bek Barcelona, Pau Cubarsi, mencetak gol yang kemudian dianulir ketika menghadapi Atletico Madrid dalam leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026 di Metropolitano Stadium, Madrid, Jumat (13/2/2026) dini hari WIB. (Oscar DEL POZO / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Barcelona tak hanya pulang dengan kekalahan 0-4 dari Atletico Madrid pada leg pertama semifinal Copa del Rey, Jumat (13/2) dini hari WIB di Stadion Metropolitano. Mereka juga membawa pulang kontroversi besar terkait keputusan wasit yang menganulir gol Pau Cubarsi.

Insiden tersebut menjadi salah satu momen paling krusial dalam pertandingan. Gol Cubarsi yang sempat memberi harapan dibatalkan setelah proses peninjauan VAR yang berlangsung sangat lama dan membingungkan banyak pihak.

Kini, Komite Teknis Wasit (CTR) akhirnya merilis pernyataan resmi. Badan tersebut menjelaskan secara detail apa yang sebenarnya terjadi selama proses review yang menyita perhatian publik.

Pengakuan bahwa sistem offside semi-otomatis mengalami kegagalan teknis pada momen penting semakin mempertegas bahwa laga tersebut tidak hanya soal performa, tetapi juga persoalan teknologi dan keputusan krusial.


VAR Bermasalah dan Pengakuan Resmi CTR

Wasit memberikan penalti lagi kepada FC Twente setelah pemeriksaan VAR (video assistant referee) selama pertandingan Liga Europa UEFA antara Malmoe FF dan FC Twente di Malmoe, pada 23 Januari 2025. (Johan NILSSON/KANTOR BERITA TT/AFP)

Dalam pernyataannya, CTR menjelaskan kronologi pembatalan gol Barcelona. Mereka menulis, “Sehubungan dengan permainan yang menyebabkan gol FC Barcelona dianulir,” tim VAR awalnya mencoba menggunakan sistem offside semi-otomatis (SAOT) sesuai prosedur standar.

Namun, teknologi tersebut mengalami kendala saat memproses situasi di dalam kotak penalti. Kepadatan pemain dinilai menjadi faktor utama yang memicu gangguan sistem.

Pihak komite mengungkapkan bahwa, sistem menghasilkan kesalahan dalam pemodelan pemain melalui kerangka.

Masalah muncul karena perangkat lunak gagal memproses gambar dengan benar ketika mendeteksi situasi kepadatan pemain yang tinggi di area penalti. Operator VAR sempat mencoba mengkalibrasi ulang pemodelan sistem, tetapi pada akhirnya dinyatakan bahwa tidak mungkin mengembalikan fungsi semi-otomatis tersebut.


Proses Manual dan Dampaknya pada Pertandingan

Pemain Barcelona, Jules Kounde, tampak kecewa setelah ditaklukkan Atletico Madrid pada leg pertama semifinal Copa del Rey 2025/2026 di Stadion Metropolitano, Madrid, Jumat (13/2/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Manu Fernandez)

Karena sistem utama tidak dapat digunakan, tim wasit beralih ke prosedur cadangan. Sesuai protokol, keputusan akhirnya diambil melalui metode manual.

Dalam penjelasan resminya disebutkan, “Tim VAR kemudian menggambar garis offside secara manual untuk membuat keputusan akhir dan benar.”

Langkah inilah yang menyebabkan penundaan panjang. CTR mengakui bahwa "proses peninjauan naskah drama tersebut memakan waktu lebih lama dari biasanya."

Dampaknya signifikan. Momentum Barcelona yang sempat terbangun meredup akibat jeda panjang tersebut. Dalam laga dengan intensitas tinggi, gangguan ritme seperti itu menjadi faktor krusial. Barcelona kalah 0-4 dan membuat peluang lolos ke final makin berat.

Sumber: Barca Universal

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya