Liputan6.com, Jakarta - Sinetron Jejak Duka Diandra Episode Kamis 12 Februari berkisah tentang, Diandra berdiri terpaku di dalam kamarnya yang telah dihias indah sejak pagi. Ia sudah mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang menjuntai anggun hingga lantai. Riasan di wajahnya begitu sempurna, membuatnya tampak semakin cantik dan bersinar. Namun keindahan itu berbanding terbalik dengan perasaan di dalam hatinya.
Di depan cermin besar, Diandra menatap bayangannya sendiri dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Bibirnya bergetar menahan tangis. Hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya justru terasa seperti mimpi buruk. Sebentar lagi ia akan resmi menikah… tetapi bukan dengan pria yang benar-benar ia cintai. Ada luka yang tak bisa ia ungkapkan pada siapa pun. Ia hanya bisa menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri sebelum semuanya benar-benar terjadi.
Advertisement
Di tempat lain, Dimitri perlahan membuka mata. Kepalanya terasa berat dan pandangannya masih buram. Ia terkejut saat menyadari dirinya berada di sebuah rooftop gedung yang tinggi. Angin berembus kencang menerpa wajahnya. Tangannya terikat, dan ia sendirian. Dim mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha mengingat apa yang terjadi. “Apa yang terjadi? Kok gue bisa di sini?!” gumamnya panik. Ia mencoba melepaskan diri, tapi tali itu terikat kuat. Tak lama kemudian, beberapa orang muncul dari balik pintu rooftop. Mereka tampak terkejut melihat Dimitri sudah sadar. Tanpa banyak bicara, mereka mendekat dengan niat melumpuhkannya lagi. Salah satu dari mereka mengangkat tangan, hendak memukul tengkuk Dimitri. Namun dengan sigap, Dimitri mengangkat kakinya dan menendang orang itu hingga terjatuh. Ia berusaha melawan sekuat tenaga, tak ingin menyerah begitu saja.
Sementara itu, sebuah mobil pengantin berhenti di depan rumah Diandra. Sopir turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang. Jupiter keluar dengan wajah penuh kebahagiaan. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Hari ini adalah hari yang sudah lama ia impikan—hari di mana ia akan menikahi wanita yang ia cintai. Ia merasa semua rencananya berjalan sempurna.
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Diandra melangkah keluar dengan gaun pengantin yang membuat semua orang terdiam kagum. Ia tampak begitu cantik dan anggun, bak putri dalam dongeng. Namun di balik senyum tipisnya, ada kesedihan yang berusaha ia sembunyikan.
Di tempat akad, Jupiter dan Diandra sudah duduk berdampingan di meja yang telah dihias bunga-bunga segar. Seorang penghulu duduk di hadapan mereka, sementara Umar berada di samping penghulu sebagai wali. Suasana terasa sakral dan tegang. Diandra kembali menahan air mata. Perang batin begitu jelas terlihat di wajahnya saat proses akad mulai dijalankan. Suara penghulu menggema, memandu jalannya ijab kabul.
Tiba-tiba, suara deru motor terdengar keras dari arah luar. Semua orang menoleh kaget ketika sebuah motor melaju cepat masuk ke area tempat akad. Suasana yang tadinya khidmat mendadak berubah tegang. Siapa yang datang di saat-saat genting seperti ini?