Percepat Transisi Energi Hijau dan Ketahanan Pangan, APPMBGI Jabar Kerja sama dengan Cina

Kerja sama ini hanya fokus kepada transfer teknologi ramah lingkungan.

oleh Tim NewsDiterbitkan 07 Februari 2026, 03:05 WIB
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) Wilayah Jawa Barat, Riezka Rahmatiana (kiri) dan Managing Director Newfront International Group, Kevin Wang (kanan) saat penandatanganan Memorandum of Understanding (Mou) Kemitraan Strategis Indonesia–Cina untuk Transisi Energi Hijau dan Penguatan Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Kota Bandung, Jumat (6/2/2026) (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) Wilayah Jawa Barat, dan Cina resmi menjalin kemitraan strategis di sektor energi hijau dan ketahanan pangan untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kerja sama ini hanya fokus kepada transfer teknologi ramah lingkungan dan peningkatan efisiensi produksi dalam negeri. Kerjasama tidak mencakup pada impor bahan-bahan pangan dari Cina.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Makan Bergizi Gratis Indonesia Wilayah Jawa Barat, Riezka Rahmatiana menegaskan, kolaborasi tersebut tidak membuka kran impor pangan.Tapi sebatas pemanfaatan teknologi modern dari Cina.

“MoU ini fokus pada dua sektor utama. Yakni energi hijau dan ketahanan pangan. Dari Cina kita hanya mengambil teknologi, sistem dan kendaraan rendah polusi. Untuk program MBG, semuanya 100 persen lokal. Mulai dari UMKM, bahan baku hingga tenaga kerjanya,” kata Riezka Rahmatiana usai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Kemitraan Strategis Indonesia–Cina di Kota Bandung, Jumat (6/2) malam, dalam keterangan diterima.

Riezka menjelaskan, teknologi yang diadopsi akan di gunakan untuk meningkatkan efisiensi dapur produksi MBG, mempercepat proses pengolahan makanan. Sekaligus menekan konsumsi energi dan limbah operasional.

“Kita ingin produksi pangan semakin cepat, aman, efisien dan ramah lingkungan. Tidak ada barang impor untuk kebutuhan dapur, hanya teknologinya saja sebagai alat bantu,” katanya.

Selain di sektor pangan, kemitraan ini juga mencakup rencana pembangunan manufaktur kendaraan listrik di Indonesia. Langkah tersebut di nilai mampu membuka lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Manufaktur kendaraan elektrik akan di bangun di sini. Ini berarti ada penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekonomi, sekaligus kontribusi terhadap pengurangan polusi,” ujarnya.

 

Fokus Energi Hijau

Menurut Riezka, fokus pada energi hijau menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya polusi dan dampak perubahan iklim.

“Dunia sudah semakin panas. Kita harus mengurangi hal-hal yang membahayakan bumi. Energi hijau bukan hanya soal teknologi. Tapi tanggung jawab kita menjaga lingkungan,” ucapnya.

Managing Director Newfront International Group, Kevin Wang menyampaikan, kerja sama ini lahir dari kesamaan visi Indonesia dan Cina dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.

“Ini bukan sekadar kerja sama teknis. Ini adalah pilihan bersama yang berorientasi pada masa depan, menggabungkan potensi sumber daya Indonesia dengan keunggulan teknologi hijau Cina,” ujar Kevin.

Ia menilai, Indonesia memiliki potensi besar di sektor energi terbarukan. Seperti tenaga surya, angin dan panas bumi. Sedangkan Cina unggul dalam teknologi fotovoltaik, penyimpanan energi serta infrastruktur hijau.

“Sinergi ini akan membantu Indonesia mencapai target bauran energi terbarukan nasional sekaligus memperkuat pembangunan berkelanjutan,” katanya.

Di sektor pangan, Kevin menyoroti pengalaman Cina dalam pertanian modern. Mulai dari padi hibrida, mekanisasi hingga sistem pertanian digital yang di nilai relevan di terapkan di Indonesia.

“Ketahanan pangan tidak hanya soal produksi, tetapi juga distribusi. Teknologi logistik cerdas akan memastikan pangan sampai ke masyarakat secara aman dan tepat sasaran,” jelasnya.

Kerja sama ini akan di mulai dari Jawa Barat dengan rencana pembangunan sekitar 80.000 dapur terintegrasi di berbagai wilayah Indonesia.

Distribusi pangan akan di dukung kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya serta sistem manajemen berbasis komputasi awan.

“Transportasi cerdas akan memperkuat rantai distribusi pangan nasional. Ini bagian dari pendekatan menyeluruh dari lahan pertanian hingga ke meja makan,” ujarnya.

Kevin menegaskan, pentingnya keberlanjutan program untuk menjamin kesehatan generasi mendatang.

“Anak-anak adalah masa depan. Energi bersih, transportasi ramah lingkungan dan pangan aman harus menjadi fondasi kehidupan mereka,” katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya