Changpeng Zhao Tak Lagi Yakin Bitcoin Masuk Supercycle, Ini Alasannya

Changpeng Zhao mengaku tak lagi yakin Bitcoin memasuki supercycle setelah harga jatuh dan FUD merebak di pasar kripto.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 07 Februari 2026, 13:30 WIB
Anjloknya Bitcoin dan gejolak global membuat Changpeng Zhao menarik keyakinannya soal supercycle kripto. Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Mantan CEO Binance, Changpeng Zhao (CZ), mengakui dirinya kini tidak lagi yakin Bitcoin akan memasuki fase supercycle pada 2026. Pernyataan ini disampaikan dalam sesi Ask Me Anything (AMA) akhir pekan lalu, hanya beberapa pekan setelah ia optimistis memprediksi reli besar jangka panjang di pasar kripto.

Perubahan sikap tersebut muncul menyusul anjloknya harga Bitcoin hingga ke level USD 75.000, disertai gelombang likuidasi besar yang menghapus hampir USD 2,5 miliar posisi leverage di berbagai bursa kripto.

“Beberapa minggu lalu saya sangat yakin soal supercycle. Tapi sekarang, dengan semua FUD yang beredar, saya tidak begitu yakin,” ujar Changpeng Zhao, dikutip dari CoinMarketCap, Sabtu (7/2/2026).

Ia menyoroti peran misinformasi di media sosial, khususnya di komunitas Crypto Twitter, yang dinilai memperbesar kepanikan investor.

Pernyataan Changpeng Zhao menjadi sorotan karena sebelumnya ia termasuk tokoh yang paling vokal menyuarakan optimisme terhadap masa depan Bitcoin. Ia percaya perubahan sikap regulator, terutama di Amerika Serikat, akan menjadi katalis utama bagi reli berkelanjutan.

Namun, koreksi tajam pasar dalam waktu singkat menunjukkan bahwa sentimen masih sangat rapuh. Tekanan jual yang masif dan reaksi berantai likuidasi membuat narasi supercycle kembali dipertanyakan oleh pelaku pasar.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Alasan Awal Changpeng Zhao Percaya Supercycle Bitcoin

Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Prediksi supercycle Bitcoin pertama kali disampaikan Changpeng Zhao dalam wawancara dengan CNBC Squawk Box. Saat itu, ia menilai kebijakan Amerika Serikat yang semakin ramah terhadap aset kripto akan mengubah pola pergerakan Bitcoin yang selama ini dikenal mengikuti siklus empat tahunan.

Secara historis, pergerakan harga Bitcoin erat kaitannya dengan peristiwa halving, yakni pemangkasan imbalan penambang setiap sekitar empat tahun. Pola ini sebelumnya memicu reli besar, seperti lonjakan harga pasca-halving 2012, 2016, dan 2020.

Changpeng Zhao meyakini tahun 2026 akan berbeda, seiring meningkatnya adopsi institusional dan dukungan kebijakan pemerintah. Menurutnya, arus modal besar dari investor institusi berpotensi mematahkan siklus lama Bitcoin.

“Saya pikir kita akan mematahkan siklus empat tahunan,” ujar Changpeng Zhao kala itu.

Namun, realita pasar terbaru membuat keyakinan tersebut mulai goyah.

 

Tekanan Global dan Sinyal Teknis Jadi Alarm

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Koreksi tajam Bitcoin akhir pekan lalu membuka sejumlah sinyal peringatan. Harga gagal bertahan di level USD 82.500, lalu turun menembus 50-day exponential moving average di sekitar USD 75.500, yang kerap dianggap sebagai sinyal bearish.

Lebih mengkhawatirkan, Bitcoin juga turun di bawah realized market value di kisaran USD 80.700. Kondisi ini berarti mayoritas pemegang Bitcoin berada dalam posisi rugi, sehingga meningkatkan potensi tekanan jual lanjutan.

Pelemahan tidak hanya terjadi di kripto. Emas turun sekitar 9 persen, sementara perak anjlok 26 persen, menandakan tekanan bersifat global. Changpeng Zhao menilai situasi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik, ketidakpastian kebijakan moneter, serta penguatan dolar AS.

Kondisi tersebut membuat Changpeng Zhao kini memilih bersikap lebih hati-hati. Ia menilai, narasi supercycle Bitcoin masih membutuhkan waktu dan stabilitas makro sebelum benar-benar terwujud.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya