Liputan6.com, Jakarta - Bawang merah (Allium ascalonicum) menjadi salah satu bumbu dapur yang hampir selalu hadir dalam masakan sehari-hari. Rasanya yang khas, aromanya yang tajam, serta manfaat kesehatannya membuat bawang merah memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun, banyak petani masih terbiasa menanam bawang merah di lahan sawah dengan tanah lembab dan pengairan cukup, sehingga cara menanam bawang merah di lahan kering dianggap sulit dan kurang menguntungkan.
Meskipun begitu, bawang merah sebenarnya mampu beradaptasi dengan lahan kering, dengan catatan teknik budidaya dan pengelolaan tanah dilakukan dengan tepat. Lahan kering, yang selama ini jarang dimanfaatkan untuk bawang merah, memiliki potensi pengembangan yang cukup besar, apalagi jika dikombinasikan dengan manajemen irigasi minimal dan pemilihan varietas yang sesuai.
Advertisement
Dengan meningkatnya permintaan pasar dan harga bawang merah yang cenderung tinggi, mengembangkan budidaya di lahan kering bisa menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Liputan6.com akan membahas secara lengkap cara menanam bawang merah di lahan kering, mulai dari persiapan bibit hingga panen, merujuk pada pedoman budidaya resmi dari Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (2017) dan praktik budidaya di Distan Buleleng, Jumat (6/2/2026).
Persiapan Lahan untuk Budidaya Bawang Merah di Lahan Kering
Menanam bawang merah di lahan kering memerlukan persiapan tanah yang matang agar pertumbuhan optimal. Tanaman ini menyukai tanah berstruktur remah dengan tekstur sedang sampai liat, pH netral 5,6–6,5, drainase dan aerasi baik, serta kandungan bahan organik cukup (Distan Buleleng). Tanah lempung berpasir atau lempung berdebu sangat ideal, sedangkan penyinaran matahari harus mencapai minimal 70%.
Langkah-langkah persiapan lahan antara lain:
- Pengolahan tanah: Gemburkan tanah sedalam ±30 cm, bersihkan sisa tanaman sebelumnya.
- Pembuatan bedengan: Lebar 100–120 cm, tinggi 10 cm, dengan guludan keliling 20 cm untuk menahan erosi.
- Pemupukan dasar: Taburkan pupuk kandang (10–20 ton/ha) dan pupuk kimia seperti TSP (120–200 kg/ha), lalu aduk merata. Jika pH tanah <5,6, tambahkan dolomit 1–1,5 ton/ha minimal dua minggu sebelum tanam. Dolomit menambah ketersediaan kalsium dan magnesium, penting untuk pertumbuhan umbi (Distan Buleleng).
Pemilihan Bibit Bawang Merah
Keberhasilan budidaya sangat dipengaruhi oleh kualitas bibit. Syarat bibit yang baik:
- Umbi cukup tua, dipanen setelah 70 hari dan disimpan 60–90 hari.
- Bila dipotong 1/3 bagian, titik tumbuh tampak hijau.
- Ukuran umbi 3–4 gram, kulit mengkilap, tidak luka.
- Kebutuhan bibit 800–1.200 kg/ha.
Jika menggunakan benih biji (True Shallot Seed/TSS), persemaian dilakukan terlebih dahulu dalam bedengan semai dengan media campuran tanah, kompos, dan arang sekam. Persemaian berumur 40–45 hari siap dipindah ke lahan (Pedoman Budidaya Bawang Merah 2017).
Cara Menanam Bawang Merah di Lahan Kering
Berikut langkah-langkah menanam bawang merah di lahan kering:
- Pemupukan sebelum tanam: Taburkan pupuk dasar (pupuk kandang + TSP) dan dolomit jika diperlukan, aduk rata.
- Lubang tanam: Buat jarak tanam 10–20 cm x 10–20 cm, populasi 175–700 ribu tanaman/ha (Pedoman Budidaya Bawang Merah 2017).
- Penanaman bibit: Setiap lubang diisi satu bibit atau seedling. Tekan tanah di sekitar akar agar menyatu dengan baik.
- Penyiraman awal: Siram hingga tanah lembab, terutama pada 0–10 hari pertama. Di musim kemarau, lakukan sekali sehari pagi atau sore. Metode lain adalah penyiraman “leb” setiap 3–4 hari setelah tanaman >10 hari (Distan Buleleng).
Pemeliharaan Tanaman
- Penyulaman: Lakukan selambat-lambatnya 7 hari setelah tanam untuk mengganti tanaman mati.
- Pemupukan susulan: Berikan Urea (150–200 kg/ha), ZA (300–500 kg/ha), dan KCl (150–200 kg/ha) dalam dua tahap: 10–15 hari dan 30 hari setelah tanam.
- Pengendalian gulma: Tanaman muda bersaing kuat dengan gulma hingga 2 minggu. Lakukan penyiangan 2–3 kali seminggu atau gunakan mulsa.
- Pengendalian hama dan penyakit: Hama utama termasuk ulat daun (Spodoptera), thrips, ulat tanah (Agrotis), dan trips. Penyakit seperti bercak ungu (Alternaria porri) dan nematoda akar (Ditylenchus dispaci) dapat dikendalikan melalui rotasi tanaman, sanitasi, dan pestisida nabati/kimia sesuai dosis (Distan Buleleng & Pedoman 2017).
Panen dan Pascapanen
Bawang merah dipanen pada umur 65–75 hari, ditandai daun menguning dan batang lemas 60–90%. Panen dilakukan dengan mencabut tanaman bersama daun, bersihkan tanah yang menempel. Umbi dijemur selama 5–7 hari, daun di atas, kemudian ikatan diperbesar untuk pengeringan lanjutan 2–3 hari. Kadar air umbi ideal 80–84% sebelum penyimpanan atau dijual (Distan Buleleng).
FAQ Seputar Menanam Bawang Merah
1. Bisakah bawang merah ditanam di lahan kering tanpa irigasi?
Idealnya membutuhkan minimal irigasi, terutama selama 10–15 hari pertama dan saat pembentukan umbi.
2. Apa perbedaan menanam dengan bibit umbi dan benih biji?
Benih biji lebih murah, bebas penyakit, namun membutuhkan persemaian awal. Bibit umbi lebih cepat tumbuh tapi lebih mahal.
3. Berapa jarak tanam terbaik di lahan kering?
10–20 cm antar tanaman dan 10–20 cm antar baris, tergantung ukuran bibit dan populasi yang diinginkan.
4. Kapan waktu terbaik menanam di lahan kering?
Musim kemarau dengan ketersediaan air cukup, biasanya bulan April–Agustus (Distan Buleleng).
5. Bagaimana cara mengatasi hama ulat tanah?
Pengendalian manual dengan mengumpulkan ulat di sore hari, menjaga kebersihan lahan, dan menggunakan pestisida bila perlu.