Menteri Brian Tegaskan Penguasaan Teknologi bukan Pilihan, tapi Kebutuhan

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran krusial dalam menyiapkan SDM unggul.

oleh Yacob BillioctaDiterbitkan 04 Februari 2026, 18:57 WIB
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa pendidikan memegang peranan krusial dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul. Menurutnya, penguasaan teknologi kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendasar yang harus dimiliki generasi masa depan.

"SDM unggul adalah kunci. Penguasaan sains dan teknologi itu adalah salah satu yang harus betul-betul dikuasai oleh negara jika ingin bangkit. Pendidik merupakan garda terdepan dalam proses pembentukan kualitas SDM, karena dari tangan merekalah lahir generasi yang siap menghadapi tantangan zaman," kata Brian.

Pernyataan itu Brian sampaikan dalam seminar nasional 2026 yang menjadi rangkaian Natal Nasional 2025. Digelar di Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, Selasa (3/2/2026).

Brian juga menyoroti pentingnya pengelolaan SDM yang berkelanjutan, dengan pendidik sebagai kunci utama dalam proses tersebut. Dia mengajak peserta merefleksikan peran strategis keluarga, iman dan pendidikan sebagai fondasi pembentukan manusia Indonesia yang utuh dan berdaya saing, sekaligus perekat persatuan bangsa di tengah perubahan zaman.

“Pendidikan yang dikelola dengan baik akan menjadi fondasi kuat dalam menciptakan SDM yang adaptif, kompeten dan berdaya saing,” ucap Brian.

Dalam keterangan tertulis UPH, sebelumnya rangkaian Natal Nasional 2025 telah berlangsung sejak Desember 2025 di sembilan kota di Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Medan, Manado, Palangkaraya, Ruteng, Ambon, Toraja dan Merauke. Tak hanya menjadi ruang refleksi iman dan kebangsaan, rangkaian ini juga diwujudkan melalui aksi nyata, mulai dari bakti sosial, bantuan bagi korban bencana, pemberian beasiswa, perbaikan gereja, hingga penyediaan ambulans di berbagai daerah.

Sementara itu, Rektor UPH Jonathan L Parapak dalam sambutannya menekankan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun kehidupan, termasuk dalam hal pendidikan. Melalui pendidikan, keluarga merupakan ruang pertama pembentukan karakter, nilai dan iman yang menuntun setiap anggotanya untuk bertumbuh secara utuh dan bertanggung jawab di tengah masyarakat.

“Perguruan tinggi harus menjadi ruang untuk membicarakan nilai-nilai keluarga, ketahanan, dan iman. Dari kampus inilah kita ingin membangun fondasi yang kuat bagi keluarga-keluarga Indonesia ke depan,” ujar Binsar.

Di tempat sama, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman sekaligus Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2025 Maruarar Sirait menegaskan pentingnya membangun Indonesia melalui langkah-langkah nyata yang berpihak pada kebenaran, keadilan dan kesejahteraan bersama.

“Komitmen tersebut kami wujudkan melalui berbagai inisiatif sosial sepanjang rangkaian Natal Nasional 2025, mulai dari pembagian seribu paket pendidikan senilai Rp 10 juta per penerima di berbagai daerah, renovasi 100 gereja, penyaluran 20 ribu paket sembako di 10 wilayah Indonesia, pembangunan dua jembatan di Papua, distribusi 30 ribu Alkitab ke seluruh Indonesia, hingga bantuan bagi para korban bencana alam,” jelas Maruarar.

Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) James T Riady secara terbuka membagikan perjalanan pribadinya ketika ia menyadari bahwa hidup tidak semata-mata diukur dari pencapaian dan reputasi, melainkan dari kesediaannya untuk memenangkan hati keluarganya. Dari perenungan tersebut, ia menyadari bahwa perubahan sejati harus dimulai dari pembaruan diri, dengan menjalani hidup yang berbeda, lebih bertanggung jawab, dan berakar pada kebenaran yang memerdekakan.

“Bangsa yang kuat lahir dari keluarga yang kuat. Ketika relasi keluarga sedang tidak baik, itu bukan akhir dari segalanya. Jangan kehilangan harapan, karena setiap keadaan sulit selalu membuka kesempatan untuk pemulihan,” ucap James.

Seminar Nasional 2026 di UPH diikuti lebih dari 2.000 peserta yang hadir secara luring di lokasi kegiatan, dan daring melalui siaran langsung YouTube, yang menjangkau UPH Kampus Medan dan Kampus Surabaya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya