Liputan6.com, Jakarta - Tragedi memilukan menimpa seorang bocah kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak berusia 10 tahun itu ditemukan tewas setelah nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.
Dugaan sementara, korban mengalami tekanan mental akibat hidup dalam lingkaran kemiskinan. Sebelum peristiwa tragis itu terjadi, dia sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku tulis dan pulpen, namun permintaan tersebut tak terpenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Advertisement
Peristiwa ini pun memunculkan pertanyaan besar, apakah kemiskinan berkaitan dengan kesehatan mental hingga bisa memicu tindakan bunuh diri?
Pakar dan Dosen Psikologi Sosial Universitas Indonesia (UI), Dicky Pelupessy menjelaskan, perilaku manusia dipengaruhi oleh interaksi antara faktor internal dan eksternal, yang dalam teori dikenal sebagai nature dan nurture. Artinya, kondisi lingkungan, termasuk ekonomi keluarga, memang dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Namun, menurutnya, pengaruh kemiskinan terhadap kesehatan mental tidak bersifat langsung atau linear. Kondisi sosial ekonomi rendah lebih berperan sebagai faktor risiko atau tekanan. Misalnya, orang tua yang harus bekerja ekstra keras demi memenuhi kebutuhan hidup sering kali memiliki waktu dan energi yang terbatas untuk mendampingi anak.
“Masalah ekonomi menjadi faktor penekan yang bisa meningkatkan kerentanan terhadap gangguan kesehatan mental. Namun, apakah risiko itu menjadi masalah nyata, sangat bergantung pada faktor lain, termasuk faktor pelindung,” kata Dicky kepada Liputan6.com, Rabu (4/2/2026).
Dia mencontohkan, program bantuan pemerintah sebenarnya dapat menjadi “penyangga” bagi keluarga rentan. Jika jangkauan dan pengawasan program tersebut berjalan optimal, hal itu bisa berfungsi sebagai sistem deteksi dini.
Selain itu, perubahan perilaku anak juga menjadi tanda penting yang perlu diperhatikan oleh lingkungan terdekat, terutama keluarga dan sekolah. Misalnya, anak yang sebelumnya rajin sekolah tiba-tiba menjadi enggan belajar, sering mengeluh, atau menarik diri dari pergaulan.
Dicky juga menyoroti hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa perhatian, komunikasi, dan interaksi dalam keluarga dapat menjadi benteng penting bagi kesehatan mental anak.
“Tidak bisa dikatakan ada korelasi langsung antara kemiskinan dan bunuh diri. Kemiskinan hanyalah salah satu faktor risiko. Yang perlu diperkuat adalah faktor protektif atau penyangga, seperti program pengentasan kemiskinan dan perlindungan anak,” tegasnya.
Menurutnya, perlindungan anak dan pengentasan kemiskinan harus berjalan beriringan. Kedua program tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga berperan penting dalam mencegah tragedi serupa terjadi di masa depan.
Polisi Temui Keluarga Korban
Kapolda NTT, Irjen Pol Rudi Darmoko mengaku sudah memerintahkan Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino untuk menemui keluarga korban. Dia mengatakan, kasus ini memang harus menjadi perhatian serius semua pihak.
"Saya sudah perintahkan Kapolres Ngada ke kediaman orang tua korban," katanya di sela-sela syukuran peresmian Direktorat Reserse PPA dan PPO Polda NTT di Kupang, Rabu (4/2/2026).
Hasil penyelidikan sementara, sejauh ini dugaan masalah ekonomi jadi pemicu korban melakukan bunuh diri.
"Motif utama karena hal itu namun masih didalami. Untuk sementara, sesuai dari hasil penyelidikan awal dan olah TKP karena kekecewaan tapi masih didalami lagi," ujar Rudi.
Polda NTT juga mengirimkan konselor psikologi untuk memberikan pendampingan terhadap keluarga, khususnya orang tua dari siswa kelas IV SD yang bunuh diri karena tak dibelikan buku dan pensil.
"Tim sudah ke Kabupaten Ngada hari ini dan memberikan pendampingan serta penguatan bagi keluarga korban," kata Kapolda NTT di Kupang, Rabu.
Tim yang dikirim tersebut terdiri dari Kabag Psikologi Biro SDM Polda NTT Kompol Dwi Chrismawan bersama Kasubbag Psipol Bagian Psikologi Biro SDM Kompol Prasetyo Dwi Laksono dan Bamin Bagian Psikologi Biro SDM Polda NTT Bripda Yoseph Alexander Rewo
Konseling dan pendampingan akan dilakukan tim mulai Rabu (4/2) sampai dengan Minggu (8/2) di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerubuu, Kabupaten Ngada.
"Tim melakukan pembinaan dan pendampingan mental kepada keluarga korban," ujar Kapolda NTT. Demikian dikutip dari Antara.
Cambuk Buat Kita Semua
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar memandang, kasus bunuh diri anak di Ngada ini harus menjadi cambuk bagi semua pihak.
“Ya, ini harus menjadi cambuk ya,” ujar pria yang akrab disapa Cak Imin di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa (3/2) malam.
Kasus ini menjadi pengingat agar semua pihak membuka diri untuk mudah dimintai tolong oleh siapa pun. “Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana,” katanya.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul menegaskan insiden yang dialami anak tersebut menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Sosial.
“Kami prihatin, turut berduka. Tentu, ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, tentu bersama pemerintah daerah. Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita. Ya kita harapkan tidak ada (keluarga miskin dan miskin ekstrem, red.) yang tidak terdata,” kata Gus Ipul.
“(Insiden) Ini sungguh-sungguh menjadi keprihatinan kita bersama,” kata dia.
Kontak Bantuan
Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.
Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahabatku
Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.
Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.