Liputan6.com, Jakarta - Komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) Diyah Puspitarini berharap pihak kepolisian tak hanya berhenti atas dugaan bunuh diri di kasus meninggalnya siswa kelas IV SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Makanya kami minta dikembangkan oleh Polres Ngada. Jangan-jangan anak ini juga mendapatkan bullying (perundungan) di sekolah karena belum punya pena dan buku," kata dia saat dihubungi, Rabu (4/2/2026).
Advertisement
Diyah menegaskan, perlu mendapatkan kejelasan penyebab kematian agar tidak muncul stigma negatif terhadap korban.
"Kami berharap bahwa polisi tetap memproses hukum, karena hak anak yang sudah meninggal adalah mendapatkan kejelasan penyebab kematian," ungkap dia.
Terkait kejadian ini, KPAI juga sudah berkoordinasi bersama perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta melibatkan Dinas Pendidikan setempat. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pemenuhan hak pendidikan anak.
"Jangan sampai terulang lagi dan tentu saja kami berharap masyarakat untuk jangan anggap remeh," jelas Diyah.
Dia mengingatkan, kasus anak SD mengakhiri hidup bukan pertama kali terjadi. Peristiwa serupa pernah terjadi di Kebumen pada 2023.
KPAI menilai kondisi ini sebagai situasi darurat yang tak boleh dianggap sepele.
"Karena anak yang mengakhiri hidup SD (Sekolah Dasar) itu juga setiap tahun ada. Nah ini tidak bisa kita menormalisasi, namun secara garis besar Indonesia berada pada genggaman dan kondisi yang darurat anak mengakhiri hidup," kata Diyah.
Tetangga: Anaknya Baik dan Rajin Belajar
Sebelumnya, Bernardus H Tage, Camat Jerebuu, mengatakan, berdasarkan pengakuan para tetangga, YBS adalah anak baik, jarang terlihat sedih, dan juga rajin belajar meski secara perekonomian sangat kekurangan.
Sehari sebelumnya, YBS menginap di rumah ibunya. Saat itulah dia sempat minta uang untuk membeli buku serta pena.
"Tapi ibunya tidak punya uang. Ayahnya sudah meninggal saat YBS ada di kandungan," ujarnya.
Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang sudah berumur 80 tahun. Sementara ibu dan bapaknya tinggal di kampung sebelah bersama lima saudaranya.
"Dia jarang mendapat kasih sayang, karena dia merupakan anak dari suami ketiga ibunya," jelasnya.
Bernardus juga mengatakan, YBS ditemukan sudah tak bernyawa pada Kamis siang oleh warga setempat yang kebetulan tengah mengurus kerbau di sekitar rumah nenek korban.
Kamis paginya, kata Tage, warga sempat melihat YBS duduk di depan rumah. Padahal pagi itu ia seharusnya bersekolah.
Sempat Beri Nasihat
Sementara MGT (47), ibu korban yang, menuturkan, pada malam sebelumnya, korban sempat menginap di rumah bersamanya. Keesokan paginya, korban dititipkan ke tukang ojek dengan tujuan pondok neneknya, sekitar pukul 06.00 Wita.
Ibu korban sempat memberikan nasihat terakhir kepada korban agar rajin bersekolah. Ibunya menyampaikan bahwa kondisi ekonomi keluarga terbatas dan serba kekurangan. Saat ini memperoleh uang memang tidak mudah.
KONTAK BANTUAN
Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.
Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahabatku
Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.
Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.