Bintang Real Madrid di Tengah Badai Kritik

Pemain Real Madrid, Vinicius Junior menjadi sorotan utama publik Bernabeu, terjebak antara tuntutan prestasi, kontroversi sikap, dan ketidakpastian masa depan.

oleh Rindi AntikaDiterbitkan 03 Februari 2026, 11:00 WIB
Penyerang Real Madrid, Vinicius Junior, bereaksi saat pertandingan fase liga Liga Champions UEFA melawan AS Monaco di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, Rabu (21/1/2026) dini hari WIB. (Thomas Coex / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Real Madrid saat ini tengah berada dalam periode yang penuh gejolak setelah tersingkir dari Copa del Rey oleh tim divisi dua, gagal lolos otomatis ke babak 16 besar Liga Champions, dan tertinggal dari Barcelona di La Liga.

Di tengah rasa frustrasi kolektif ini, Vinicius Junior muncul sebagai sasaran utama kemarahan para penggemar meskipun ia berstatus sebagai pencetak gol terbanyak kedua klub musim ini.

Statistiknya yang dianggap rendah dibandingkan dengan pencapaian Kylian Mbappe membuat publik menuntut kontribusi yang lebih besar darinya di lapangan.

Situasi semakin memanas karena para pendukung mencari sosok yang bisa disalahkan atas ketidakstabilan tim, dan Vinicius dianggap sebagai pemain yang performanya paling tidak memenuhi ekspektasi tinggi yang dibebankan kepada seorang bintang Real Madrid.


Faktor Vinicius di Cemooh

Kylian Mbappe dari Real Madrid (tengah) mendapat ucapan selamat dari rekan-rekannya, Vinicius Junior (kanan) dan Aurelien Tchouameni, setelah mencetak gol dalam laga La Liga antara Real Oviedo dan Real Madrid di Stadion Carlos Tartiere, Oviedo, Spanyol, Minggu, 24 Agustus 2025. (AP Photo/Miguel Oses)

Ketegangan antara Vinicius dan basis penggemar tidak hanya dipicu oleh urusan teknis di lapangan, tetapi juga oleh perilakunya yang dianggap asing bagi kultur Real Madrid.

Kritik mengalir deras terkait perselisihan publiknya dengan mantan manajer Xabi Alonso serta kurangnya rasa hormat yang ia tunjukkan saat berada di bangku cadangan dalam laga melawan Albacete.

Tindakannya mengubah foto profil media sosial menjadi foto tim nasional Brasil setelah dicemooh di Bernabeu dipandang sebagai provokasi yang menciptakan konflik yang sebenarnya tidak perlu.

Di mata sebagian pengamat, gaya mainnya yang provokatif dan sikapnya yang dianggap arogan membuat para penggemar merasa ia tidak sepenuhnya mewakili esensi klub, sehingga menciptakan volatilitas hubungan yang sangat dibenci oleh atmosfer tradisional stadion Santiago Bernabeu.


Perlawanan Terhadap Rasisme

Vinicius Junior dan Alvaro Arbeloa berpelukan dalam laga Real Madrid vs Monaco di Liga Champions, Rabu (21/1/2026). (AP Photo/Jose Breton)

Aspek lain yang memperkeruh situasi adalah keberanian Vinicius dalam melawan rasisme yang kerap ia alami di berbagai stadion di Spanyol, termasuk insiden yang berujung pada hukuman penjara bagi beberapa pelaku.

"Saya bukan korban rasisme, saya adalah penyiksa para rasis" setelah tiga penggemar Valencia dijatuhi hukuman delapan bulan penjara karena menghinanya pada tahun 2023.

Sebagian penggemar di Bernabeu dan rival memiliki pandangan kolot bahwa seorang pemain seharusnya hanya fokus bermain sepak bola dan tidak perlu melawan ketidakadilan atau diskriminasi secara vokal.

Tuduhan sengaja mendapatkan kartu kuning untuk menghindari laga di markas Valencia semakin memperuncing narasi negatif terhadap dirinya.


Ketidakpastian Kontrak dan Loyalitas yang Dipertanyakan

Pemain Real Madrid Kylian Mbappe (kanan) merayakan gol kedua bagi timnya bersama Vinicius Junior dan Gonzalo Garcia pada laga La Liga/Liga Spanyol antara Villarreal vs Real Madrid di Villarreal, Spanyol, Sabtu, 24 Januari 2026. (AP Photo/Alberto Saiz)

Faktor krusial yang merusak hubungan Vinicius dengan pendukung Los Blancos adalah penolakannya untuk segera memperbarui kontrak yang sebenarnya sudah disiapkan klub sejak lama.

Ketidakpastian di mata penggemar ini sebagai indikasi bahwa sang pemain tidak sepenuhnya berkomitmen pada proyek jangka panjang klub atau bahkan memiliki keinginan untuk hengkang. Meskipun belakangan ini ia kerap melakukan selebrasi mencium lambang klub dan memberikan pernyataan loyalitas, keraguannya untuk menandatangani perpanjangan kontrak yang dilaporkan karena ketidakpuasan bekerja di bawah Alonso tetap menjadi ganjalan besar.

Dengan kontrak yang akan berakhir pada tahun 2027, masa depannya di Madrid kini bergantung pada apakah ia bersedia bertahan di tempat di mana ia merasa tidak sepenuhnya diinginkan dan terus-menerus menjadi sasaran kritik tajam.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya