Liputan6.com, Jakarta - Setiap bulan, Badan Geologi Kementerian ESDM rutin menerbitkan peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) kepada pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Namun sayangnya, peta tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik dan maksimal untuk melakukan langkah mitigasi bencana
Kepala Tim Kerja Gerakan Tanah PVMBG Badan Geologi Oktori Prambada mengatakan, dalam peta ini diperlihatkan kawasan hingga di pedesaan mana yang memang rawan bencana. Kondisi daerah akan dibedakan dengan beberapa warna tergantung dengan tata ruang dan tingkat kerawanan bencana.
Advertisement
"Hanya 28 persen hingga 30 persen di Indonesia (manfaatkan peta kerawanan bencana) yang patuh dan mengikuti. Ini hasil survei dari 2024 dan memang ada sekitar 70 persen yang tidak memanfaatkan peta ini," kata Oktori di Kantor Badan Geologi, Bandung, Jumat (30/1/2026).
Plh PVMBG Badan Geologi Edi Slameto mengatakan, peta rawan bencana ini sesungguhnya bukan hal baru. Namun, yang jadi persoalan adalah kesadaran dari pemerintah dan masyarakat di sekitar.
Sebab, menurut Edi, bisa jadi masyarakat dan pemerintah daerah sudah mendapat informasi, namun panduan tersebut tidak diterapkan pada aktivitas keseharian.
"Seperti zona kerentanan tanah ini selalu diberikan peringatannya sebulan sekali ke pemda di seluruh Indonesia," ucap Edi.
Edi berharap agar pemerintah daerah segera memanfaatkan peta daerah rawan sebelum terjadi bencana seperti longsor di Cisarua, Bandung Barat. Peta yang diterbitkan Badan Geologi bisa mempredikisi juga meminimalisir terjadinya bencana.
"Jangan harus ada korban dulu baru percaya. Makanya kita harus bisa ada kesadaran dari sekarang," kata dia.
Jabar Rawan Pergerakan Tanah
Beberapa daerah Jawa Barat mulai terdampak bencana alam di penghujung tahun 2025. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat pun memastikan, 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat berpotensi mengalami gerakan tanah menengah.
Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Teten Mulku Engkun mengatakan, berdasarkan data dari PVMBG Badan Geologi, dan BMKG dengan melakukan analisis kajian kondisi hujan, curah hujan, jenis tanah, dan lainnya seluruh daerah di Jabar berpotensi mengalami gerakan tanah menengah.
"Hampir di seluruh kabupaten kota di Jawa Barat potensi gerakan tanah menengah sampai dengan tinggi. Seperti di Kabupaten Bandung ada di Arjasari, Baleendah, Banjaran, Cisarua, Cimenyan, Ciparay, Ciwidey, Ibun, Kertasari dan banyak lagi," jelas Teten.
Selain itu, ada juga di wilayah Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di Lembang, Parongpong, Cisarua, Gunung Halu, dan Rongga. Daerah tersebut, kata Teten, berdasarkan analisis PVMBG dan BMKG berpotensi mengalami gerakan tanah.