Liputan6.com, Jakarta - Sektor industri nasional kini berada pada fase transisi krusial menuju target Net Zero Emission 2060. Tekanan global terhadap isu perubahan iklim kian meningkat, seiring diberlakukannya berbagai regulasi internasional seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang mendorong percepatan transisi energi dan dekarbonisasi agar industri tetap kompetitif di pasar global.
Momentum ini dinilai penting bagi Indonesia, terutama di tengah upaya menjaga posisi strategis dalam rantai pasok dunia. Pemerintah pun telah menyiapkan peta jalan melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, yang memuat delapan program prioritas untuk menurunkan kemiskinan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan.
Advertisement
Dalam kerangka RPJMN tersebut, pemerintah meyakini peran sektor swasta dan masyarakat sangat krusial, mengingat kontribusinya yang signifikan terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB). Sinergi lintas sektor menjadi fondasi utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Country Director SCG Indonesia, Warit Jintanawan, menegaskan bahwa upaya dekarbonisasi tidak bisa dilakukan secara parsial
.“Dekarbonisasi merupakan misi bersama demi masa depan bangsa. Sebagai pelaku industri, kami menyadari bahwa perjalanan ini tidak dapat kami tempuh sendirian," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (26/1/2026).
"Oleh karena itu, kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi dalam mengakselerasi transisi hijau. Melalui kolaborasi yang solid, kita akan mampu merealisasikan visi Indonesia Emas 2045 melalui pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang senantiasa berpihak pada bumi dan manusia," tambah dia.
Percepatan Dekarbonisasi
Sebagai wujud komitmen tersebut, SCG kembali menggelar ESG Symposium 2025 Indonesia yang diselenggarakan pada Desember 2025. Forum tahunan ini menjadi ruang kolaborasi bagi pemerintah, pelaku industri, akademisi, hingga masyarakat sipil untuk menjawab tantangan lingkungan dan ekonomi yang semakin kompleks.
Mengusung tema “Decarbonizing for Our Sustainable Tomorrow”, simposium ini dirancang untuk mendorong aksi nyata dalam percepatan dekarbonisasi, penguatan ekonomi hijau, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular di berbagai sektor.
Pada sesi utama, Fabby Tumiwa, Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR), menyoroti lonjakan permintaan produk manufaktur yang diproyeksikan meningkat hingga 0,8–3 kali lipat pada 2050 dibandingkan 2023. Tanpa intervensi rendah karbon, kondisi ini berpotensi meningkatkan emisi industri hingga 107% dalam skenario business-as-usual.
Fabby memaparkan lima pilar utama dekarbonisasi industri, meliputi efisiensi energi dan material, pemutakhiran proses, penangkapan dan penyimpanan karbon, substitusi bahan bakar, serta pemanfaatan listrik rendah karbon dan elektrifikasi.
Praktik Nyata
Simposium ini juga menampilkan praktik nyata dari pelaku industri. PT TBS Energi Utama Tbk. melalui strategi TBS2030 menargetkan netralitas karbon pada 2030 dengan melepas aset berbasis batu bara dan mengalihkan investasi senilai USD 600 juta ke energi terbarukan, pengelolaan limbah, serta ekosistem kendaraan listrik.
Di sektor logistik, SCGJWD Logistics menetapkan peta jalan dekarbonisasi untuk mencapai Net Zero pada 2050, dengan target pengurangan emisi 30% pada 2027 dan 40% pada 2030.
Selain dekarbonisasi industri, ESG Symposium 2025 juga menyoroti percepatan ekonomi sirkular di tengah tantangan Triple Planetary Crisis. Pemerintah menegaskan komitmennya melalui RPJPN 2025–2045 dengan pendekatan kolaborasi Penta Helix.
Sebagai penutup, SCG menegaskan perannya melalui prinsip Inclusive Green Growth dan menginisiasi Joint Declaration berbasis kemitraan Public, Private, People Partnership (PPPP). Langkah ini menjadi simbol sinergi lintas sektor untuk menurunkan emisi gas rumah kaca secara berkelanjutan dan inklusif di Indonesia.