Apakah Kurma Bisa Ditanam di Indonesia? Ini Bukti dan Panduan Lengkapnya

Penasaran apakah kurma bisa ditanam di Indonesia? Jawabannya ya! Simak bukti keberhasilan, varietas cocok, dan panduan budidaya lengkap untuk iklim tropis di sini.

oleh Mabruri Pudyas SalimDiterbitkan 31 Januari 2026, 09:00 WIB
Ilustrasi Pohon Kurma (Sumber: Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Kurma adalah buah yang identik dengan Timur Tengah dan menjadi andalan di Bulan Ramadan, disajikan ketika berbuka puasa. Konsumsi kurma di Indonesia melonjak drastis pada bulan puasa, meskipun buah ini tersedia sepanjang tahun. Penjualan kurma dapat meningkat hingga sekitar 50% pada awal bulan Ramadan dibandingkan hari biasa.

Tingginya permintaan ini tercermin dari data impor, di mana Indonesia mengimpor kurma sebanyak 61.352,91 ton dengan nilai 86,26 juta Dollar Amerika pada tahun 2022. Jumlah ini meningkat 22,38% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 50.133,62 ton dengan nilai 69,00 juta Dollar Amerika. Pada Januari 2025 saja, impor kurma Indonesia mencapai 16,43 ribu ton dengan nilai 20,68 juta dolar AS.

Dengan permintaan setinggi ini, muncul pertanyaan sentral yang menggugah, "Apakah kurma bisa ditanam di Indonesia sendiri?" Jawaban sederhananya adalah bisa, karena sudah banyak petani di Indonesia yang membudidayakan kurma.

Artikel ini akan menjadi panduan definitif yang mengupas bukti keberhasilan budidaya kurma di Indonesia, membantu Anda memilih varietas yang tepat, hingga memberikan langkah-langkah teknis budidaya yang komprehensif. Jadi, jika Anda bertanya apakah kurma bisa ditanam di Indonesia, Anda akan menemukan semua jawabannya di sini. Simak panduan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin(26/1/2026).

Apakah Kurma Bisa Ditanam di Indonesia?

Pohon kurma Ajwa sudah ditanam sejak tiga tahun lalu di kebun warga Bantul, Yogyakarta. (Liputan6.com/Yanuar H)

Budidaya kurma di Indonesia bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah kenyataan yang telah terbukti melalui berbagai kisah sukses, dukungan ilmiah, dan potensi ekonomi yang menjanjikan.

Kisah Sukses Petani Lokal

Banyak petani di Indonesia telah berhasil membudidayakan kurma dan bahkan memanen buahnya. Salah satu contoh adalah Kamilin di Desa Oloboju, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yang memiliki pohon kurma berbuah lebat sejak Agustus 2020 setelah menanamnya dari biji pada tahun 2006. Di Yogyakarta, Suparyoto, yang dikenal sebagai Paryoto Jogja dari Ngadinah Kurma, telah menanam kurma sejak tahun 2016 dan berhasil membuat beberapa pohon berbuah sebelum usia 2 tahun.

Keberhasilan juga datang dari Iwan Tarigan di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang sukses membudidayakan kurma di dataran tinggi dengan suhu sejuk sekitar 17°C, membantah anggapan bahwa kurma hanya bisa tumbuh di daerah panas dan kering. Di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Perkebunan "Kurma Datu" menjadi contoh sukses dengan lebih dari 1.000 pohon kurma yang ditanam dan mampu berbuah sepanjang tahun.

Selain itu, Agrowisata Kebun Kurma di Pasuruan, Jawa Timur, dan Perkebunan Kurma Lembah Barbate di Aceh Besar juga menunjukkan keberhasilan budidaya kurma di Indonesia. Bahkan, Abah Mustain Anshori di Kediri berhasil membudidayakan 14 jenis kurma, termasuk Ajwa, Ruzeis, dan Madinah, yang telah berbuah.

Dukungan Ilmiah dan Pemerintah

Keberhasilan budidaya kurma di Indonesia juga didukung oleh kajian ilmiah dan kebijakan pemerintah. Prof. Dr. Ir. Sudarsono, MSc, pakar kurma dari Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan bahwa meskipun Indonesia beriklim tropis dengan curah hujan tinggi dan lembab, ada varietas pohon kurma yang bisa berkembang. Beberapa daerah seperti NTB dan NTT berpotensi karena iklimnya relatif kering.

Pemerintah Indonesia telah mulai mendukung pengembangan kurma. Sejak tahun 2006, tanaman kurma telah dimasukkan sebagai salah satu komoditas binaan Ditjen Hortikultura, Kementan.

Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Palma (BSIP Tanaman Palma) juga berperan penting dalam pengembangan standar dan teknologi budidaya kurma, serta telah mengoleksi tujuh varietas unggul kurma introduksi seperti Ajwa, Barhee, Medjool, Fard, Khalas, Ghanami, dan Rashis. Selain itu, Perkumpulan Penggiat Kurma Indonesia (Indonesia Date Palm Association/IDPA) telah dibentuk sejak 2016 untuk memfasilitasi kerja sama dan pertukaran informasi di kalangan petani kurma.

Peluang Ekonomi yang Besar

Peluang untuk mengembangkan komoditas kurma di Indonesia semakin mendapat perhatian seiring dengan tingginya permintaan buah kurma. Indonesia mengimpor kurma dalam jumlah besar setiap tahunnya. Pada tahun 2022, impor kurma mencapai 61.352,91 ton dengan nilai 86,26 juta Dollar Amerika.

Tren impor kurma di Indonesia meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan rekor tertinggi pada 2022. Pada Januari 2025, impor kurma Indonesia mencapai 16,43 ribu ton dengan nilai 20,68 juta dolar AS.

Data ini menunjukkan bahwa permintaan kurma di Indonesia masih sangat besar, terutama menjelang bulan Ramadan. Kondisi ini menunjukkan peluang besar untuk mengembangkan budidaya kurma lokal guna memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Harga jual kurma segar hasil budidaya lokal pun cukup tinggi. Sebagai gambaran, kurma segar jenis ruthob (kurma basah matang) di Lombok Utara dihargai sekitar Rp250 ribu hingga Rp360 ribu per kg. Satu pohon kurma betina dewasa di iklim tropis dapat menghasilkan 100–300 kg buah per tahun, yang berpotensi menghasilkan pendapatan Rp10 juta–30 juta per tahun jika dijual seharga Rp100 ribu/kg.

Memilih Jenis Kurma yang Tepat untuk Iklim Tropis

Petani memanjat pohon kurma untuk memetik buahnya di sebuah perkebunan di Deir el-Balah, Jalur Gaza pada 1 Oktober 2020. Musim panen kurma biasanya dimulai awal Oktober, setelah musim hujan pertama. (AP Photo/Adel Hana)

Meskipun apakah kurma bisa ditanam di Indonesia sudah terjawab, tantangan utama budidaya kurma di Indonesia adalah kelembaban tinggi dan curah hujan yang berbeda dengan habitat aslinya. Kelembaban tinggi dapat menyebabkan buah mudah membusuk jika dibiarkan terlalu lama di pohon. Oleh karena itu, pemilihan varietas yang tepat dan adaptif terhadap iklim tropis menjadi kunci keberhasilan.

Tantangan Iklim Tropis

Prof. Dr. Ir. Sudarsono, MSc, menjelaskan bahwa perbedaan lingkungan dan cuaca adalah hambatan mengapa pohon kurma yang ditanam di Indonesia tidak menghasilkan buah sebaik di daerah asalnya, di Timur Tengah. Indonesia dikenal sebagai daerah beriklim tropis yang memiliki curah hujan tinggi dan lembab. Namun, ada varietas pohon kurma yang bisa berkembang di Indonesia.

Rekomendasi Varietas Unggulan

Beberapa varietas kurma telah terbukti cocok dan berhasil dibudidayakan di Indonesia:

  • Kurma Tropika: Jenis ini telah dikembangkan di Thailand sejak puluhan tahun lalu dan sudah beradaptasi baik dengan kondisi cuaca dan iklim daerah tropis seperti Indonesia.
  • Kurma Barhee: Varietas ini sangat favorit di kalangan pekebun kurma karena buahnya sudah manis saat masih muda (ruthob), produksinya tinggi, perawatannya mudah, dan cepat berbuah. Kurma Barhee berasal dari Irak dan telah berhasil dikebunkan di Jonggol, Bogor. BSIP Tanaman Palma juga mengoleksi varietas Barhee sebagai salah satu varietas unggul introduksi.
  • Kurma KL-1 (Kolak-One): Berasal dari Thailand, varietas ini sangat adaptif di negara tropis. Kurma KL-1 merupakan hasil persilangan kurma Barhee dengan Daglet Noor dan berhasil berbuah alami tanpa perangsangan di umur 3 tahun di kebun penelitian IDPA Riau.
  • Varietas Lain: BSIP Tanaman Palma juga mengoleksi varietas Ajwa, Medjool, Fard, Khalas, Ghanami, dan Rashis. Beberapa varietas ini, seperti Ajwa dan Khalas, juga ditanam di Masjid Raya An-Nur Riau.

Kurma Jantan vs. Betina

Kurma adalah tanaman berumah dua (dioecious), artinya pohon jantan dan betina terpisah. Untuk menghasilkan buah, bunga betina harus diserbuki oleh serbuk sari dari bunga jantan. Dalam skala kebun, disarankan untuk memiliki minimal 1 pohon jantan untuk setiap 6–10 pohon betina. Penting untuk memastikan jenis kelamin bibit jika Anda membeli bibit anakan atau kultur jaringan, karena bibit dari biji tidak dapat ditentukan jenis kelaminnya sebelum dewasa.

Panduan Praktis Cara Menanam Kurma di Indonesia

Buah kurma ditampilkan selama Festival tahunan Kurma Liwa di kota Liwa, Abu Dhabi pada Rabu (17/7/2019). Festival Kurma Liwa juga menawarkan begitu banyak pengunjung muda untuk belajar, tentang sejarah pohon kurma dan keaslian budaya Arab. (Photo by Karim SAHIB / AFP)

Menanam kurma di Indonesia memerlukan teknik budidaya yang tepat untuk mengatasi tantangan iklim tropis dan memastikan pohon dapat berbuah lebat.

Persiapan – Memilih Bibit Berkualitas

Ada tiga cara pohon kurma bisa tumbuh di Indonesia:

  1. Dari Biji: Buahnya berasal dari kurma tamr yang diimpor, kemudian bijinya tertanam atau sengaja ditanam. Ini adalah cara termudah dan termurah, namun buah yang dihasilkan bervariasi, dan waktu berbuah lebih lama (7–10 tahun). Jenis kelamin pohon juga tidak bisa ditentukan sebelum dewasa.
  2. Dari Anakan (Offshoot): Bibit diambil dari tunas yang tumbuh di sekitar pohon induk. Bibit anakan lebih cepat berbuah dan karakteristiknya sama dengan induknya, tetapi jumlahnya terbatas.
  3. Dari Kultur Jaringan: Bibit dikembangkan melalui perkebunan kurma komersial. Ini adalah bibit yang paling direkomendasikan karena memiliki sifat unggul dan seragam, hasil identik dengan induknya, serta potensi buah yang besar. Bibit kultur jaringan menghasilkan varietas yang jauh lebih unggul dan jenis kelaminnya dapat ditentukan. Namun, harganya masih relatif mahal.

Syarat Tumbuh & Persiapan Lahan

  • Lokasi: Pilih lahan terbuka yang mendapatkan sinar matahari penuh sepanjang hari. Hindari naungan pohon besar.
  • Tanah: Idealnya tumbuh di tanah berpasir atau lempung dengan drainase sangat baik. Tanah yang terlalu becek atau sering tergenang air akan menyebabkan akar busuk. pH tanah yang cocok adalah netral hingga sedikit basa (6,0–8,0).
  • Lubang Tanam: Gali lubang tanam dua kali lebih lebar dan sedikit lebih dalam dari akar bibit. Campurkan tanah dengan pupuk kandang matang untuk meningkatkan kesuburan dan drainase.

Tahap Penanaman & Perawatan Awal

  • Penanaman Bibit:
    • Untuk bibit anakan: Tanam bersama akarnya, padatkan tanah di sekitarnya, dan siram secukupnya.
    • Untuk bibit biji: Tanam benih pada media semai lembab dan hangat, lalu pindahkan ke lahan setelah tumbuh minimal 20–30 cm.
    • Jarak tanam antar pohon idealnya 8–10 meter.
  • Penyiraman: Intensif saat tanaman masih muda, lalu dikurangi saat sudah dewasa (cukup 2–3 kali per minggu pada musim kemarau). Untuk usia 1–6 bulan, siram 2 hari sekali. Untuk usia 1 tahun, siram seminggu sekali. Untuk fase 7–12 tahun, berikan air 4 hari sekali. Kurma membutuhkan asupan air yang cukup, terutama saat pembungaan dan pembuahan.
  • Pemupukan: Berikan pupuk kandang setiap awal musim hujan atau gunakan pupuk khusus palm setiap 6 bulan sekali. Pemupukan NPK secara berkala dan penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan hasil panen.

Teknik Kritis – Penyerbukan Manual

Penyerbukan manual sangat diperlukan untuk memastikan produksi buah, mengingat kurma merupakan tanaman berumah dua. Penyerbukan alami oleh angin mungkin terjadi, tetapi untuk skala kecil atau hobi, penyerbukan manual sangat dianjurkan. Langkah-langkahnya adalah dengan mengambil serbuk sari dari bunga jantan dan mengoleskannya ke bunga betina. Satu pohon kurma jantan bunganya bisa digunakan untuk menyerbuki 20–25 pohon kurma betina. Setelah penyerbukan, bunga betina dapat diikat dengan daun kurma dan ujungnya dipotong sekitar 5 cm untuk memaksimalkan pertumbuhan bakal buah.

Perlindungan Buah & Panen

Karena kelembaban tinggi di Indonesia, buah kurma mudah membusuk jika dibiarkan terlalu lama di pohon. Oleh karena itu, setelah penyerbukan, tandan buah perlu dibungkus dengan waring atau kantong khusus untuk melindunginya dari hujan dan hama seperti tikus dan ayam.

Panen kurma di Indonesia umumnya dilakukan pada tahap ruthob (kurma basah matang) sekitar 150 hari setelah penyerbukan. Pada tahap ini, buah berwarna kuning atau coklat dan masih basah. Berbeda dengan negara asalnya, di mana panen dilakukan pada umur 200 hari untuk menghasilkan kurma kering (tamr). Satu pohon dewasa bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan kilogram per tahun.

Menanam kurma di Indonesia bukan lagi mimpi, tetapi peluang nyata yang didukung oleh ilmu pengetahuan, teknologi budidaya yang terus berkembang, dan komunitas petani yang aktif. Keberhasilan budidaya kurma di berbagai wilayah Indonesia membuktikan bahwa tanaman ini mampu beradaptasi dengan iklim tropis, asalkan didukung oleh pemilihan varietas adaptif, teknik penyerbukan yang benar, dan manajemen air serta kelembaban yang tepat.

Dengan potensi ekonomi yang menjanjikan, baik sebagai substitusi impor maupun sumber pendapatan lokal, budidaya kurma menawarkan diversifikasi pertanian yang menarik. Jadi, pertanyaan apakah kurma bisa ditanam di Indonesia sudah terjawab dengan jelas. Sekarang, saatnya Anda yang membuktikannya, baik sebagai hobi di pekarangan maupun sebagai usaha komersial, dengan bergabung dalam komunitas penggiat kurma untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.

FAQ Seputar Budidaya Kurma di Indonesia

Q1: Benarkah kurma bisa berbuah di Indonesia? Bagaimana kualitasnya?

A: Sangat benar, kurma bisa berbuah di Indonesia. Banyak bukti di lapangan dari berbagai daerah menunjukkan keberhasilan ini. Kualitas buah, terutama ukuran, justru cenderung lebih besar karena tanah yang lebih subur dan banyak air. Rasa manis tetap terjaga, meskipun kadar airnya lebih tinggi sehingga umumnya dipanen pada tahap ruthob (kurma basah).

Q2: Berapa lama waktu yang dibutuhkan kurma hingga berbuah?

A: Waktu berbuah kurma bervariasi tergantung jenis bibitnya. Dari biji, kurma membutuhkan waktu 7–10 tahun untuk berbuah. Namun, jika menggunakan bibit dari anakan (offshoot) atau kultur jaringan, kurma bisa mulai berbuah dalam 3–6 tahun. Varietas unggul seperti Barhee bahkan bisa lebih cepat, ada yang berbunga dalam 1,5 tahun.

Q3: Daerah mana saja yang cocok untuk menanam kurma?

A: Daerah dengan iklim relatif kering dan musim kemarau yang cukup panjang, seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki potensi besar. Namun, dengan teknik yang tepat, kurma dapat tumbuh di berbagai daerah, termasuk dataran rendah panas hingga dataran tinggi beriklim sejuk seperti Kabupaten Karo, Sumatera Utara, asalkan mendapatkan sinar matahari penuh. Provinsi Riau juga menjadi lokasi penanaman kurma yang memiliki iklim menyerupai negara asalnya.

Q4: Apa tantangan terbesar menanam kurma di Indonesia?

A: Dua tantangan utama adalah: 1. Kelembaban tinggi: Iklim tropis Indonesia yang lembab dan curah hujan tinggi dapat menyebabkan buah mudah membusuk jika dibiarkan terlalu lama di pohon. Ini diatasi dengan drainase yang baik dan pembungkusan buah. 2. Penyerbukan: Kurma adalah tanaman berumah dua, dan serangga penyerbuk alaminya tidak ada di Indonesia. Oleh karena itu, penyerbukan manual wajib dilakukan untuk memastikan pembentukan buah.

Q5: Bisakah menanam kurma di dalam pot (tabulampot)?

A: Bisa, menanam kurma di dalam pot (tabulampot) dapat dilakukan untuk tahap pembibitan atau sebagai tanaman hias. Namun, untuk produksi buah yang optimal dan berumur panjang, penanaman di lahan terbuka lebih disarankan karena pohon kurma dewasa membutuhkan ruang yang luas untuk sistem akarnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya