Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin dan kripto teratas lainnya terpantau alami pergerakan yang seragam pada Jumat (23/1/2026) pukul 7:10 WIB. Mayoritas kripto jajaran teratas terpantau kembali berada di zona merah.
Berdasarkan data dari Coinmarketcap, kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) kembali melemah. Bitcoin turun 0,11 persen dalam 24 jam dan 6,48 persen sepekan.
Advertisement
Saat ini, harga Bitcoin berada di level USD 89.463 per koin atau setara Rp 1,50 miliar (asumsi kurs Rp 16.927 per dolar AS).
Ethereum (ETH) turut melemah. ETH ambles 1,68 persen sehari terakhir dan 11,35 persen sepekan. Dengan begitu, saat ini ETH berada di level Rp 49,6 juta per koin.
Kripto selanjutnya, Binance coin (BNB) kembali melemah. Dalam 24 jam terakhir BNB ambles 0,01 persen dan 4,81 persen sepekan. Hal itu membuat BNB dibanderol dengan harga Rp 14,9 juta per koin.
Kemudian Cardano (ADA) kembali berada di zona merah. ADA terkoreksi 2,35 persen dalam sehari dan 8,94 persen sepekan. Dengan begitu, ADA berada pada level Rp 6.050 per koin.
Adapun Solana (SOL) turut anjlok. SOL turun 1,53 persen dalam sehari dan 10,33 persen sepekan. Saat ini, harga SOL berada di level Rp 2,15 juta per koin.
XRP kembali berada di zona merah. XRP melemah 1,88 persen dalam sehari terakhir dan 7,78 persen sepekan. Dengan begitu, XRP kini dibanderol seharga Rp 32.364 per koin.
Koin Meme Dogecoin (DOGE) turut melemah. Dalam satu hari terakhir DOGE turun 2.36 persen dan 11,51 persen sepekan. Ini membuat DOGE diperdagangkan di level Rp 2.092 per token.
Stablecoin Tether (USDT) dan USD coin (USDC), pada hari ini masih stabil. Harga keduanya masih berada di kisaran level USD 1,00, keduanya sama-sama melemah masing-masing 0,48.
Adapun untuk keseluruhan kapitalisasi pasar kripto hari ini berada di level USD 3,02 triliun atau setara Rp 50.817 triliun, melemah sekitar 0,40 persen dalam sehari terakhir.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Ancaman Tarif Trump Bikin Kripto Anjlok, Analis Prediksi Potensi Koreksi Lagi
Pasar keuangan, komoditas dan kripto bergejolak setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tinggi terhadap delapan negara Eropa. Hal ini kecuali Denmark menyerahkan Greenland.Seiring ketidakpastian global, bagaimana peluang bitcoin ke depan?
Mengutip Yahoo Finance, Kamis (22/1/2026), harga emas melonjak ke rekor tertinggi. Sementara itu, bitcoin anjlok ke posisi USD 90.000 atau Rp 1,52 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.900). Pada sesi perdagangan, harga bitcoin sempat sentuh USD 87.000 atau Rp 1,47 miliar.
Kapitalisasi pasar kripto susut hampir USD 150 miliar atau Rp 2.535 triliun karena posisi leverage atau pemakaian dana pinjaman terurai secara drastis, mengungkap bitcoin sebagai aset spekulatif ketimbang aset aman.
Guncangan Tarif
Pengumuman tarif pada Sabtu menargetkan Jerman, Prancis, Inggris, Belanda, Finlandia, Swedia, Norwegia, dan Denmark dengan tarif 10% mulai 1 Februari meningkat menjadi 25% pada 1 Juni, kecuali kesepakatan Greenland tercapai.
Ekonom ING memperingatkan tarif tambahan sebesar 25% kemungkinan akan mengurangi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Eropa sebesar 0,2% sehingga memperburuk kekhawatiran resesi yang sudah menekan Eropa.
Pasar Kripto Alami Koreksi Drastis
Bitcoin yang anjlok bersamaan dengan aset berisiko tradisional mengungkap kegagalan kripto untuk berfungsi sebagai lindung nilai geopolitik, meski selama bertahun-tahun diposisikan sebagai emas digital.
Data likuidasi CoinGlass mengungkapkan posisi long senilai USD 998,33 juta atau Rp 16,87 triliun dalam 24 jam. Bitcoin menyumbang USD 440,19 juta atau Rp 7,44 triliun. Hal ini karena lonjakan margin call yang semakin cepat selama jam perdagangan waktu Asia.
Analis Bitunix Dian Chen melihat, di antara investor kripto, bitcoin semakin dipandang sebagai lindung nilai geopolitik dan penyimpan nilai non-negara.
"Namun, untuk pasar yang lebih luas, bitcoin masih sebagian besar diperdagangkan sebagai aset berisiko beta tinggi,” kata dia.