Takut Ditangkap atas Kejahatannya di Gaza, Netanyahu Absen dari World Economic Forum 2026

Sebagai gantinya, Israel diwakili oleh Presiden Isaac Herzog.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 22 Januari 2026, 12:09 WIB
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (Dok. AP)

Liputan6.com, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak menghadiri Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) 2026 di Davos, Swiss, di tengah kekhawatiran akan risiko penangkapan berdasarkan surat perintah Pengadilan Kriminal Internasional (International Criminal Court/ICC).

Media-media Israel melaporkan, potensi penegakan surat perintah tersebut menjadi alasan utama ketidakhadiran Netanyahu di forum ekonomi global tahunan itu.

Sebagai gantinya, Israel diwakili oleh Presiden Isaac Herzog, yang tiba di Davos pada Selasa (20/1/2026) dan menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock.

Dalam pertemuan tersebut, Herzog menyesalkan minimnya kehadiran pejabat Israel di Davos dan mendesak agar surat perintah penangkapan ICC terhadap para pemimpin Israel dicabut, dikutip dari laman New Arab, Kamis (22/1).

Herzog menyebut langkah ICC sebagai tindakan yang "bermotif politik". Namun, ia tidak menyinggung secara langsung substansi tuduhan yang dialamatkan kepada Israel terkait dugaan kejahatan dalam operasi militernya di Jalur Gaza.

Pada November 2024, ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant.

Keduanya diduga bertanggung jawab atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan selama kampanye militer Israel di Gaza.

Dalam putusannya, ICC menyatakan terdapat alasan kuat untuk meyakini keterlibatan mereka dalam tindakan seperti penggunaan kelaparan sebagai metode perang, serangan yang disengaja terhadap warga sipil, serta kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk pembunuhan, penganiayaan, dan tindakan tidak manusiawi lainnya.

 

Perang Israel di Gaza

Dewan ini bertugas mendukung administrasi, rekonstruksi, hingga pemulihan ekonomi Jalur Gaza sesuai 20 poin rencana perdamaian Trump untuk mengakhiri perang yang oleh banyak pihak disebut sebagai genosida Israel terhadap warga Palestina. Tampak dalam foto, para pengungsi Palestina hidup di tengah reruntuhan rumah dan bangunan yang hancur akibat serangan militer Israel selama lebih dari dua tahun di wilayah Gaza, di kamp pengungsi Jabalia, di bagian utara Jalur Gaza pada Sabtu 17 Januari 2026. (Omar AL-QATTAA/AFP)

Perang Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 71.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Infrastruktur sipil di wilayah tersebut hancur luas, sementara hampir seluruh penduduk Gaza terpaksa mengungsi.

Sejumlah organisasi hak asasi manusia dan pakar hukum internasional secara terbuka menggambarkan situasi tersebut sebagai genosida.

Di dalam negeri, otoritas Israel juga menghadapi kritik atas penanganan protes yang menuntut gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera.

Aparat keamanan dilaporkan menggunakan polisi berkuda, granat kejut, dan meriam air untuk membubarkan demonstrasi yang sebagian besar berlangsung damai, serta menangkap puluhan orang dalam rangkaian aksi besar di Tel Aviv dan kota-kota lain.

Surat perintah ICC terhadap Netanyahu dan Gallant telah diedarkan ke 125 negara penandatangan Statuta Roma, yang secara hukum berkewajiban menangkap keduanya apabila memasuki wilayah mereka. Swiss, sebagai tuan rumah WEF di Davos, merupakan salah satu negara pihak Statuta Roma tersebut.

Sementara itu, polemik juga mencuat terkait absennya Iran dari forum tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Israel dan kelompok pelobi yang bersekutu dengan Amerika Serikat menekan penyelenggara WEF agar membatalkan kehadirannya.

Araghchi semula dijadwalkan berbicara di Davos pada Selasa, namun undangannya dibatalkan. Penyelenggara WEF menyatakan bahwa pada tahun ini “tidak pantas” bagi pemerintah Iran untuk diwakili, dengan merujuk pada tindakan keras Teheran terhadap protes nasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya