Liputan6.com, Jakarta - Apple kembali membuktikan dominasinya di pasar global lewat iPhone 17. Terlepas dari desain iPhone 17 Pro yang dinilai kurang inovatif, seluruh lini produk ini menduduki tangga penjualan di pasar-pasar yang selama ini sulit ditembus, salah satunya China.
Mengutip Phone Arena, Rabu (21/1/2026), iPhone 17 berhasil merebut kembali posisi teratas penjualan ponsel pintar di China selama musim liburan.
Advertisement
Lembaga riset Counterpoint Research mencatat pengiriman iPhone 17 melonjak hingga 28 persen, mengungguli sejumlah merek lokal seperti Huawei, yang sebelumnya menunjukkan kinerja cukup baik.
Sebagian besar produsen ponsel besar di China seperti Xiaomi, Honor, dan Vivo justru mengalami penurunan pertumbuhan pada kuartal terakhir 2025. Namun, Oppo dan Apple mencatat pertumbuhan positif, di mana Apple melesat jauh meninggalkan para pesaingnya.
iPhone Air Jadi Titik Lemah
Meskipun seri iPhone 17 menunjukkan kinerja dan performa gemilang, Apple masih menghadapi satu catatan penting, yaitu pada kinerja iPhone Air. Model terbaru itu dilaporkan belum mampu menarik minat pasar, termasuk konsumen di China.
Keterlambatan peluncuran akibat pembatasan eSIM disebut menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, harga yang relatif tinggi dengan performa yang dinilai kurang kompetitif, kontrol panas yang belum optimal, kualitas kamera yang menurun, serta daya tahan baterai terbatas membuat iPhone Air kurang diminati konsumen.
Meski demikian, masalah-masalah ini kemungkinan akan diatasi pada model Air mendatang. Dengan penyempurnaan pada model tersebut, eksperimental ini diharapkan mampu berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan Apple ke depan.
Strategi bagi Apple dan Samsung
2025 menjadi periode pembelajaran penting bagi dua raksasa teknologi, Apple dan Samsung. Apple berhasil melakukan perubahan desain eksterior setelah sekian lama mempertahankan tampilan serupa.
iPhone 17 juga dinilai sebagai model iPhone reguler dengan nilai terbaik dalam beberapa tahun terakhir, dan membuat kehadiran iPhone 16e terlihat kurang relevan.
Sementara Samsung, sukses memperkuat segmen ponsel lipat lewat Galaxy Z Fold 7 yang langsung mencatatkan penjualan tinggi, hingga mendorong perusahaan menaikkan proyeksi penjualan perangkat lipatnya.
iPhone 17 bakal Makin Mahal karena Harga RAM Naik 230 Persen
Kelangkaan memori DRAM (Dynamic Random Access Memory) global mulai menekan margin keuntungan Apple. iPhone 17 diprediksi akan menjadi produk pertama yang merasakan dampak langsung dari lonjakan biaya komponen tersebut.
Menurut laporan Gizmochina, dikutip Minggu (28/12/2025), Apple tengah menghadapi kenaikan harga DRAM yang cukup drastis.
Hal ini memicu spekulasi mengenai seberapa lama raksasa teknologi asal Cupertino, Amerika Serikat (AS) tersebut mampu menyerap kenaikan biaya produksi sebelum akhirnya membebankannya kepada konsumen (menaikkan harga iPhone 17).
Data menunjukkan bahwa biaya untuk modul RAM LPDDR5X berkapasitas 12GB yang diproyeksikan untuk model iPhone 17 Pro, meroket dari kisaran USD 25–USD 29 (sekitar Rp 400 ribu-Rp 460 ribu) menjadi USD 70 (sekitar Rp 1,1 juta) per unit.
Kenaikan sebesar 230 persen ini merupakan angka yang sangat signifikan bagi struktur biaya perangkat elektronik mana pun, termasuk bagi perusahaan sebesar Apple.
Selama ini, Apple berhasil menghindari guncangan harga pasar berkat kontrak pasokan jangka panjang yang mengunci harga komponen jauh di muka. Namun, untuk kasus DRAM kali ini, Apple tampaknya mulai kesulitan.
Rumor yang beredar menyebutkan bahwa kontrak pasokan DRAM Apple dengan dua raksasa memori, SK Hynix dan Samsung, akan berakhir pada Januari 2026.
Begitu kontrak tersebut habis, Apple harus melakukan negosiasi ulang di tengah kondisi pasar yang tidak menguntungkan. Mustahil bagi Apple untuk mendapatkan kembali harga "lama" di angka USD 25 per unit.
Efek Domino Tren AI
Situasi ini diperparah oleh pergeseran fokus industri memori global. Produsen utama seperti SK Hynix dan Micron dilaporkan mulai memangkas kapasitas produksi memori LPDDR untuk beralih ke HBM (High Bandwidth Memory).
Memori jenis HBM saat ini sedang berada di puncak permintaan karena margin keuntungannya yang jauh lebih tinggi, terutama untuk kebutuhan akselerator AI dan pusat data (data center).
Kondisi ini menempatkan Apple dalam posisi sulit. Untuk lini iPhone 18 mendatang, Apple kemungkinan besar akan sangat bergantung pada Samsung sebagai pemasok utama RAM.