Brahim Diaz Minta Maaf usai Jadi Biang Kerok Maroko Gagal Juara Piala Afrika 2025

Gelandang Real Madrid, Brahim Diaz meminta maaf kepada publik Maroko karena dirinya menyebabkan Maroko gagal menjuarai Piala Afrika 2025.

oleh Serafinus Sapto Prasetyo UnuspasiDiterbitkan 20 Januari 2026, 12:55 WIB
Penyerang Maroko, Brahim Diaz, tampak tertunduk lesu setelah laga final Piala Afrika 2025 antara Senegal vs Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Senin (19/1/2026) dini hari WIB. (Sebastien Bozon/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Gelandang Real Madrid, Brahim Diaz, menyampaikan permintaan maaf secara terbuka setelah eksekusi penalti panenkanya yang membuat Maroko kehilangan gelar Piala Afrika dalam partai final melawan Senegal.

Seperti yang sudah diketahui, Diaz merupakan salah satu penggawa Timnas Maroko yang tampil di Piala Afrika 2025. Laju Maroko di Piala Afrika 2025 tergolong mulus, di mana mereka berhasil mencapai babak final.

Hingga partai final, Diaz memainkan peran yang krusial bagi skuad Timnas Maroko. Ia mencetak lima gol hingga babak semifinal dan diharapkan jadi pembeda ketika Maroko bermain di final Piala Afrika 2025.

Maroko sendiri sudah selangkah lebih dekat untuk menyudahi puasa gelar Piala Afrika mereka yang terakhir kali mereka menangkan di tahun 1976 silam. Namun di momen krusial ini, Diaz justru membuyarkan impian Maroko.

Simak Informasi Selengkapnya di bawah ini


Panenka Gagal Diaz

Kiper Senegal, Edouard Osoque Mendy (kanan), mendekati pemain Maroko, Brahim Abdelkader Díaz, sebelum ia mengeksekusi tendangan penalti pada pertandingan final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko di Rabat, Maroko, Minggu, 18 Januari 2026. (AP Photo/Youssef Loulidi)

Partai final antara Maroko vs Senegal itu memang berlangsung sengit sejak awal hingga akhir. Di akhir laga, terjadi momen kontroversial di akhir laga di mana Maroko mendapatkan penalti dari wasit.

Keputusan tersebut memicu protes keras, hingga para pemain Senegal sempat meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Namun setelah lebih dari 10 menit, Timnas Senegal akhirnya mau kembali ke lapangan. 

Brahim Diaz ditunjuk sebagai algojo penalti itu. Namun, gelandang berusia 26 tahun itu secara tak terduga memilih mengeksekusi panenka ke tengah gawang. Kiper Senegal, Edouard Mendy, tidak terkecoh dan dengan mudah mengamankan bola dari tendangan yang terlalu lemah.


Permintaan Maaf Diaz

Pemain Senegal Iliman Ndiaye (kiri) berebut bola dengan pemain Maroko Brahim Diaz di final AFCON/Piala Afrika antara Senegal vs Maroko di Rabat, Maroko, Minggu, 18 Januari 2026. (AP Photo/Mosa'ab Elshamy)

Pada Senin, Diaz yang mencetak lima gol sepanjang turnamen akhirnya angkat bicara terkait insiden panenka tersebut. Ia menyampaikan permintaan maaf kepada publik Maroko melalui pernyataan emosional.

"Jiwa saya terasa sakit. Saya memimpikan gelar ini berkat semua cinta yang kalian berikan kepada saya, setiap pesan dan dukungan yang membuat saya merasa tidak sendirian," ujar Diaz.

"Saya berjuang dengan segala yang saya miliki, dengan hati saya sepenuhnya. Kemarin saya gagal dan saya bertanggung jawab sepenuhnya atas itu. Saya meminta maaf dari lubuk hati saya yang paling dalam."

"Akan sulit bagi saya untuk pulih, karena luka ini tidak mudah sembuh… tetapi saya akan mencoba. Bukan untuk diri saya sendiri, melainkan untuk semua yang percaya kepada saya dan semua yang ikut merasakan penderitaan ini. Saya akan terus melangkah maju sampai suatu hari nanti saya bisa membalas semua cinta ini dan menjadi sumber kebanggaan bagi rakyat Maroko," puingkasnya.

Sumber: Brahim Diaz Official Instagram

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya