Tragedi Penalti Brahim Diaz, Maroko Kalah dari Senegal di Piala Afrika

Brahim Diaz menangis setelah penalti Panenka gagal di final Piala Afrika 2025. Maroko kalah dari Senegal dan gagal akhiri puasa gelar 50 tahun.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 19 Januari 2026, 12:26 WIB
Penyerang Maroko, Brahim Diaz, gagal mengeksekusi tendangan penalti di hadapan kiper Senegal #16, Edouard Mendy, pada pertandingan final Piala Afrika (CAN) antara Senegal dan Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, pada 18 Januari 2026. (SEBASTIEN BOZON / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Mimpi Maroko untuk mengakhiri penantian setengah abad meraih trofi Piala Afrika harus sirna dengan cara yang paling memilukan. Brahim Diaz menjadi figur tragis di final Piala Afrika 2025 setelah eksekusi penalti bergaya Panenka yang dilakukannya gagal dan mengantarkan kekalahan Atlas Lions dari Senegal.

Pemain tengah Real Madrid itu tak sanggup membendung air mata setelah pertandingan final yang berlangsung sarat drama dan polemik. Tendangan penalti yang seharusnya jadi momen krusial justru berubah menjadi titik nahas yang menguburkan ambisi Maroko merebut gelar pertama kali sejak 1976.

Maroko memperoleh hadiah tendangan penalti di penghujung injury time babak kedua ketika skor masih imbang 0-0. Keputusan VAR ini memantik protes sengit dari barisan Senegal.

Manajer Pape Thiaw bahkan menginstruksikan skuadnya meninggalkan lapangan sebagai wujud kekecewaan, menyebabkan pertandingan tertunda hingga 16 menit.


Penalti Panenka Brahim Diaz

Kiper Senegal, Edouard Osoque Mendy (kanan), mendekati pemain Maroko, Brahim Abdelkader Díaz, sebelum ia mengeksekusi tendangan penalti pada pertandingan final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko di Rabat, Maroko, Minggu, 18 Januari 2026. (AP Photo/Youssef Loulidi)

Suasana kian memanas saat para pemain Senegal akhirnya kembali ke lapangan setelah dirayu sang kapten, Sadio Mane. Brahim Diaz maju sebagai algojo, tetapi penjaga gawang Senegal Edouard Mendy tampak terus berbicara kepadanya, memperpanjang tekanan sebelum tendangan penalti dilakukan.

Alih-alih mengeksekusi dengan cara aman, Diaz justru memilih gaya Panenka pada menit ke-24 masa injury time. Tendangannya terlalu lemah dan dengan mudah ditangkap Mendy.

Peluang emas Maroko pun lenyap. Pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Senegal tampil lebih tenang dan efektif.

Di menit ke-94, Pape Sarr melepaskan tendakan keras yang tidak mampu dihentikan kiper Maroko, memastikan kemenangan Senegal dan menghancurkan mimpi tuan rumah.


Tangisan Brahim Diaz

Penyerang Maroko, Brahim Diaz, tampak tertunduk lesu setelah laga final Piala Afrika 2025 antara Senegal vs Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Senin (19/1/2026) dini hari WIB. (Sebastien Bozon/AFP)

Brahim Diaz yang ditarik keluar di awal extra time tampak sangat terpukul. Di akhir pertandingan, ia menangis tersedu-sedu saat menerima trofi Sepatu Emas dari Presiden FIFA Gianni Infantino, sebuah ironi setelah menutup turnamen sebagai pencetak gol terbanyak dengan lima gol.

Manajer Maroko, Walid Regragui, berupaya meredakan situasi dan membela anak asuhnya.

"Dia punya waktu yang sangat lama sebelum mengambil penalti, dan itu pasti memengaruhi pikirannya. Tapi kami tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Kami harus menatap ke depan," ujarnya.

Sementara itu, Edouard Mendy enggan mengungkap isi percakapannya dengan Diaz sebelum penalti.

"Apa yang kami bicarakan itu urusan kami. Yang penting kami melakukannya bersama dan kembali bersama. Kami bisa bangga malam ini," kata kiper Chelsea tersebut.


Dampak untuk Mental Brahim Diaz

Legenda Nigeria, John Obi Mikel, mengaku khawatir kegagalan tersebut akan berdampak besar pada mental Diaz.

"Apa yang dia lakukan merusak semua hal baik yang sudah ia tampilkan di turnamen ini. Ini akan sangat berat baginya, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan," ujar Mikel kepada E4.

Meski berakhir pahit, performa Brahim Diaz sepanjang Piala Afrika tetap tak terbantahkan. Namun satu keputusan di momen krusial telah mengubah segalanya, menjadikannya kisah tragis di balik kejayaan Senegal.

 
 

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya