Putra Mahkota Iran Serukan Dunia Bantu Gulingkan Rezim Teheran

Gelombang protes di Iran pecah sejak 28 Desember lalu akibat tekanan ekonomi, sebelum berkembang menjadi tuntutan terbuka.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 17 Januari 2026, 10:10 WIB
Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan, berbicara dalam sebuah konferensi pers di Paris, Prancis, pada 23 Juni 2025. (Dok. AP/Thomas Padilla, Arsip)

Liputan6.com, Washington D.C - Putra terakhir Shah Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, menyerukan dukungan penuh komunitas internasional untuk membantu para demonstran menggulingkan pemerintahan Iran. Ia menyatakan keyakinannya bahwa kejatuhan Republik Islam “bukan soal jika, melainkan kapan”.

Dalam konferensi pers di Washington D.C pada Jumat (16/1/2026) Pahlavi—tokoh oposisi Iran yang bermukim di Amerika Serikat—mendesak dunia internasional menargetkan kepemimpinan Garda Revolusi Iran.

Menurutnya, langkah tersebut akan mempercepat runtuhnya rezim sekaligus mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa. Ia bahkan menyerukan apa yang disebutnya sebagai “serangan bedah” terhadap infrastruktur komando dan kendali Garda Revolusi.

Gelombang protes di Iran pecah sejak 28 Desember lalu akibat tekanan ekonomi, sebelum berkembang menjadi tuntutan terbuka untuk mengakhiri kekuasaan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Hosseini Khamenei, dikutip dari laman BBC, Sabtu (17/1).

Kelompok hak asasi manusia menyebut lebih dari 2.600 demonstran tewas akibat penindakan aparat keamanan. Pemerintah Iran menepis tuduhan tersebut dan menyebut aksi-aksi itu sebagai “kerusuhan” yang didukung oleh musuh-musuh negara.

Pahlavi muncul sebagai salah satu figur paling menonjol di tengah oposisi Iran yang terpecah. Ia sebelumnya telah mendorong warga Iran untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintah. Namun, aksi-aksi protes itu dibalas dengan kekerasan mematikan oleh aparat, yang berlangsung di tengah hampir totalnya pemadaman internet dan layanan komunikasi.

Dalam pernyataannya, Pahlavi mengklaim sebagian aparat keamanan Iran menolak terlibat dalam penindakan brutal terhadap demonstran. Ia juga menuduh otoritas Teheran mendatangkan pejuang dari milisi asing untuk meredam gelombang protes.

 

 

Seruan Lainnya

Cuplikan gambar dari video yang beredar di media sosial menunjukkan para pengunjuk rasa kembali turun ke jalan-jalan di Teheran pada Sabtu (10/1/2026), meski aparat keamanan memperketat penindakan dan akses Iran terhadap dunia luar—termasuk komunikasi—dibatasi. (Dok. UGC via AP)

Selain menyerukan langkah terhadap Garda Revolusi, Pahlavi meminta dunia meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, mengusir para diplomat Iran, menuntut pembebasan seluruh tahanan politik, serta mengerahkan layanan internet satelit seperti Starlink dan sistem komunikasi aman lainnya untuk memulihkan konektivitas di dalam negeri.

“Rakyat Iran telah mengambil tindakan tegas di lapangan. Kini saatnya komunitas internasional berdiri sepenuhnya bersama mereka,” kata Pahlavi. Ia menegaskan bahwa rezim Iran pada akhirnya akan tumbang, dengan atau tanpa bantuan dunia, namun dukungan internasional akan mempercepat proses tersebut dan menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Pahlavi menolak mengomentari laporan yang menyebut dirinya melakukan pembicaraan dengan pejabat senior Amerika Serikat. Namun, ia menyatakan keyakinannya bahwa Presiden AS Donald Trump akan menepati janjinya untuk mendukung rakyat Iran.

Sebelumnya, Trump memperingatkan pemerintah Iran agar tidak mengeksekusi para demonstran. Ia mengatakan kepada CBS News bahwa Washington akan mengambil “tindakan yang sangat keras” jika eksekusi dilakukan. Trump kemudian menyebut telah menerima informasi bahwa “pembunuhan telah berhenti”, meski tidak menutup kemungkinan opsi militer terhadap Iran.

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat menyerang, Israel serta pangkalan militer dan jalur pelayaran AS di kawasan akan menjadi target yang sah. Menyusul meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat dan Inggris dilaporkan mengurangi jumlah personel di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar. Pejabat AS menyebut langkah itu sebagai tindakan pencegahan.

Dalam perkembangan terpisah, seorang anggota Kongres dari Partai Republik mengajukan rancangan undang-undang tandingan yang mendukung aneksasi sebuah pulau, sementara Utusan Trump untuk Greenland, Jeff Landry, mengatakan AS seharusnya bernegosiasi langsung dengan para pemimpin Greenland, bukan Denmark.

“Kami percaya ada kesepakatan yang bisa dan akan tercapai,” kata Landry kepada Fox News. Ia menegaskan Presiden Trump serius dengan posisinya dan telah menyampaikan tuntutan AS, yang kini tinggal dibahas lebih lanjut oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Wakil Presiden JD Vance.

“Amerika Serikat selalu datang sebagai mitra. Kami mewakili kebebasan, kekuatan ekonomi, dan perlindungan,” ujar Landry.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya