Liputan6.com, Jakarta - Terapi wicara adalah bagian dari upaya rehabilitasi sosial untuk meningkatkan atau memperbaiki kemampuan berbicara.
Menurut terapis di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi, Diah Agustina, terapi wicara dibutuhkan oleh anak-anak dengan kondisi:
Advertisement
- Keterlambatan bicara atau speech delay
- Cerebral palsy dengan drooling (ngeces/ngiler)
- Kesulitan belajar termasuk sulit membaca dan menulis
- Prematur dengan gangguan menghisap air susu ibu (ASI)
- Gangguan menelan.
Sebagai bagian dari upaya rehabilitasi sosial terpadu, Kementerian Sosial (Kemensos) melalui STPL Bekasi menyediakan layanan terapi wicara bagi anak berkebutuhan khusus atau disabilitas dengan kondisi seperti disebutkan di atas.
Salah satu penerima manfaat layanan tersebut adalah Davi, remaja 14 tahun dengan kemampuan bahasa setara anak usia tiga. Melalui terapi wicara yang dijalaninya secara rutin, Davi perlahan belajar mengenali warna dan mengucapkan kata demi kata agar dapat dipahami oleh orang di sekitarnya.
Menurut Diah, proses terapi diawali dengan asesmen menyeluruh untuk memetakan kemampuan dasar penerima manfaat sebelum menentukan bentuk stimulasi yang sesuai.
“Kita mulai dari pengenalan warna, karena dia belum mengenal warna, lalu kita latih artikulasinya. Tidak harus 100 persen jelas, yang penting orang paham dia ngomong apa,” ujar Diah.
Terapi Wicara Tak Hanya untuk Anak
Terapis wicara dengan pengalaman 14 tahun itu menambahkan, layanan ini tidak hanya terbuka untuk anak-anak tapi juga pasien dewasa hingga lanjut usia (lansia).
“Semua bisa kita stimulasi sesuai kebutuhan masing-masing pasien,” kata Diah.
“Mayoritas penerima layanan terapi wicara di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi adalah anak-anak, meskipun terapi juga dapat diberikan kepada pasien dewasa hingga lanjut usia,” tambahnya.
Pengalaman panjang di bidang terapi membuat para terapis memahami bahwa setiap individu memiliki ritme perkembangan yang berbeda.
Perjuangkan Masa Depan Anak
Semangat Diah dalam menjalankan tugasnya tumbuh dari keyakinannya terhadap masa depan para penerima manfaat.
“Kita lihat anak-anak ini punya masa depan yang panjang. Mereka menjalani terapi sambil ketawa, happy. Itu yang bikin kita ikut semangat membantu mereka,” ujarnya.
Selain terapi, Diah menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus. Interaksi yang intens dan berkelanjutan dinilai menjadi kunci agar anak merasa didengar, diterima, dan percaya diri.
“Setiap anak itu istimewa dan punya jalannya masing-masing. Kadang orang tua berpikir cukup dengan membelikan mainan mahal. Padahal yang paling dibutuhkan anak itu interaksi langsung dengan orang tuanya,” tuturnya.
Menurutnya, mainan tanpa pendampingan dan komunikasi yang aktif justru tidak memberikan dampak optimal bagi perkembangan anak.
“Mereka butuh didengar, dibantu, dan diterima. Itu yang paling utama,” tutup Diah.