Liputan6.com, Jakarta - Cedera lutut parah menjadi titik terendah dalam karier Lisandro Martinez bersama Manchester United. Bek asal Argentina itu harus menepi lama dan melewati periode yang sangat berat sejak Februari lalu.
Martinez mengalami cedera ligamen anterior cruciate (ACL) saat Manchester United kalah 0-2 dari Crystal Palace di Old Trafford. Cedera tersebut memaksanya absen hampir sembilan bulan dan menjalani rehabilitasi panjang yang sunyi.
Advertisement
Absennya Martinez bukan hanya berdampak pada kekuatan lini belakang United. Cedera itu juga perlahan menggerogoti kondisi mental sang pemain yang dikenal tangguh dan agresif di lapangan.
Dalam masa pemulihan itulah, Martinez mengaku sempat berada di titik paling gelap dalam hidupnya sebagai pesepak bola profesional. Ia bahkan tak menampik sempat berpikir untuk mengakhiri karier lebih cepat.
Sempat Kena Mental dan Terpikir untuk Pensiun
Lisandro Martinez mengungkapkan bahwa cedera lutut tersebut menghantamnya bukan hanya secara fisik. Beban mental yang datang bersamaan membuatnya merasa kehilangan identitas sebagai pesepak bola.
Pemain berusia 27 tahun itu menyebut minggu-minggu awal setelah cedera sebagai fase paling sulit. Rasa sakit, ketidakpastian, dan jarak dari lapangan membuat pikirannya dipenuhi keraguan.
Situasi itu membuat Martinez sempat mempertanyakan masa depannya di sepak bola. Dalam wawancara dengan AFA Estudio, Ia mengakui ada momen ketika keinginan untuk bermain kembali benar-benar menghilang.
"Anda merasa seperti bukan pemain sepak bola lagi," jelas Martinez, dikutip dari Goal. "Anda merasakan sakit dan berpikir Anda tidak akan pernah bermain sepak bola lagi. Ketidakseimbangan mental dan fisik, yang, jujur saja, ketika saya memikirkannya hari ini, saya tidak tahu bagaimana saya bisa melakukannya."
"Setelah dua atau tiga minggu pertama, jujur saja, saya tidak ingin bermain sepak bola lagi," sambung Martinez.
Cara Martinez Bangkit dari Keterpurukan
Setelah melewati fase awal yang berat, Martinez mulai menemukan kembali pijakan mentalnya. Dukungan dari orang-orang terdekat menjadi faktor penting dalam proses tersebut.
Ia menyadari bahwa menyerah bukanlah jalan keluar dari situasi sulit yang dihadapinya. Kesadaran itu membuatnya memilih untuk bertahan dan melawan rasa putus asa.