Alasan Real Madrid Meragukan Proyek Xabi Alonso hingga Berujung Perpisahan

Real Madrid mulai ragu pada proyek Xabi Alonso usai kekalahan beruntun dari tim besar. Tekanan hasil, final Piala Super, dan evaluasi internal jadi pemicunya.

oleh Asad ArifinDiterbitkan 13 Januari 2026, 15:48 WIB
Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso, berjalan bersama para pemainnya saat pertandingan La Liga Spanyol melawan Rayo Vallecano di Estadio de Vallecas, Spanyol, Minggu (9/11/2025). (AP Photo/Manu Fernandez)

Liputan6.com, Jakarta - Xabi Alonso datang ke Real Madrid dengan modal yang sulit ditandingi. Reputasi gemilang bersama Bayer Leverkusen dan statusnya sebagai legenda klub membuat ekspektasi langsung melambung tinggi.

Namun, sepak bola level elite jarang memberi ruang romantisme. Dalam waktu singkat, proyek yang dibangun Alonso mulai diuji oleh realitas hasil di lapangan, terutama saat Real Madrid menghadapi sesama tim besar.

Kekalahan demi kekalahan dari rival papan atas perlahan mengikis keyakinan manajemen. Nama besar dan masa lalu sebagai pemain tidak lagi cukup menjadi tameng ketika performa tim dianggap stagnan.

Puncaknya terjadi di final Piala Super Spanyol. Kekalahan 3-2 dari Barcelona membuat Real Madrid pulang dari Jeddah dengan rasa malu, kalah di final ketiga beruntun dari musuh bebuyutan.

Beberapa jam setelah mendarat di Madrid pada Senin (12/1) waktu setempat, evaluasi pun dilakukan. Dari situlah, keraguan yang sebelumnya tersimpan rapi berubah menjadi keputusan besar yang mengakhiri masa jabatan Alonso.


Hasil Kontra Tim Besar Jadi Alarm Utama

Alvaro Carreras (Real Madrid) mengawal Lamine Yamal (Barcelona) dalam laga La Liga 2025/2026 di Santiago Bernabeu, 26 Oktober 2025. (AP Photo/Bernat Armangue)

Menurut laporan AS, pertemuan digelar di Valdebebas antara Xabi Alonso dan manajemen klub. Dalam forum tersebut, terlihat jelas bahwa kelelahan mental sang pelatih menjadi isu yang tidak bisa diabaikan setelah berbulan-bulan berada di bawah tekanan.

Real Madrid disebut secara terbuka menyampaikan keraguan yang sudah diketahui terhadap proyek Alonso. Dasarnya sederhana namun krusial: kegagalan bersaing saat menghadapi lawan selevel.

Sejak Alonso mengambil alih pada Juni, Los Blancos tumbang dari hampir semua tim besar yang mereka hadapi seperti Paris Saint-Germain, Atlético Madrid, Liverpool, Manchester City, hingga Barcelona. Di mata manajemen, pola ini terlalu konsisten untuk diabaikan.


Keputusan Cepat dan Dampak Internal

Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso (kanan), memberikan instruksi pada Arda Guler di laga kontra Celta Vigo di pekan ke-15 La Liga 2025/2026 di Santiago Bernabeu, Senin (08/12/2025) dini hari WIB.

Meski Alonso bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas hasil buruk tersebut, pertemuan itu berakhir dengan satu kesimpulan tegas: Real Madrid memilih berpisah dengannya. Keputusan itu diambil cepat, bahkan sebelum spekulasi publik benar-benar memanas.

Pemecatan mendadak ini menimbulkan guncangan internal. AS melaporkan bahwa banyak pihak di dalam klub tidak membayangkan pertemuan evaluasi tersebut akan berujung pada perubahan pelatih secepat itu.

Dukungan pun mengalir dari ruang ganti. Nama-nama seperti Kylian Mbappé, Rodrygo, dan Federico Valverde menyatakan simpati mereka. Klub juga memberi penghormatan dengan menyebut Alonso sebagai legenda Real Madrid.

Sumber: Sports Ilustrated

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya