Bahlil: Impor Solar SPBU Swasta Disetop Tahun Ini

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan akan menyetop impor solar untuk stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta di 2026.

oleh Septian DenyDiterbitkan 12 Januari 2026, 18:00 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia meninjau Integrated Terminal Jakarta, Minggu (28/12/2025. (Foto: Pertamina)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan akan menyetop impor solar untuk stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta di 2026.

“Mulai tahun ini, saya tidak lagi mengeluarkan izin impor solar. Izin impor solar mulai tahun ini enggak ada lagi,” kata Bahlil dikutip dari Antara, Senin (12/1/2026).

Penghentian impor solar tersebut juga berlaku bagi SPBU swasta.

Apabila masih terdapat kargo-kargo solar yang masuk ke Indonesia ada bulan Januari atau Februari, lanjutnya, maka solar tersebut merupakan sisa impor 2025.

“Tetapi tahun ini, Kementerian ESDM atas perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto, karena kita punya kilang sudah ada, kita tidak lagi mengeluarkan impor,” ujar dia.

Kilang yang dimaksud adalah proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Refinery Unit V Balikpapan, Kalimantan Timur.

RDMP Kilang Balikpapan memungkinkan kilang tersebut mengelola hingga 360 ribu barel per hari. Kapasitas itu setara dengan 22–25 persen atau seperempat dari kebutuhan nasional.

Secara ekonomi, RDMP Balikpapan akan memberikan dampak signifikan terhadap kemandirian energi nasional, dengan penghematan impor BBM hingga Rp68 triliun per tahun, dan kontribusi terhadap PDB nasional mencapai Rp514 triliun.

Ketika disinggung soal SPBU swasta yang akan membeli solar dari Pertamina, Bahlil pun mengiyakan.

“Iya dong (beli solar di Pertamina). Saya ke depan itu bermimpi, nanti sebentar saya akan lapor ke Presiden, bahwa RON 92, RON 95, RON 98 itu harus diproduksi di dalam negeri,” kata Bahlil.

Rencana penghentian impor solar pada 2026 telah disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia seiring beroperasinya proyek refinery development master plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur, serta program mandatori biodiesel 50 (B50).

Oleh karena itu, apabila badan usaha pengelola SPBU swasta ingin membeli solar, maka bisa membeli dari kilang dalam negeri.

 

Kilang Minyak Raksasa di Balikpapan Diresmikan, Bos Pertamina: Tonggak Sejarah

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan, peresmian proyek kilang minyak raksasa atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan menandai tonggak penting dalam perjalanan panjang Indonesia menuju kemandirian energi.

Proyek strategis nasional ini menjadi bukti nyata keseriusan negara dalam memperkuat kapasitas pengolahan minyak di dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor BBM.

"Inilah salah satu wujud dan hari ini adalah tonggak sejarah dari ikhtiar panjang kita Sebagai bangsa untuk dapat semakin meningkatkan kemandirian kita di bidang energi," kata Simon dalam Peresmian RDMP Balikpapan, Senin (12/1/2026).

Ia menegaskan bahwa RDMP Balikpapan bukan sekadar proyek kilang, melainkan bagian dari ikhtiar bangsa untuk menentukan nasib energinya sendiri.

"Kita dapat dihidupkan bahwa kita dapat berdiri di atas kaki kita sendiri kita dapat menentukan nasib kita serta kita dapat menuju Swasembada energi," ujarnya.

Menurutnya, dengan kapasitas kilang yang meningkat signifikan, Indonesia kini memiliki ruang lebih besar untuk mengolah minyak mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi.

 

Peningkatan Kapasitas Kilang Perkuat Ketahanan Energi

Kilang Pertamina Internasional.

Lebih lanjut, Simon mengatakan bahwa RDMP Balikpapan meningkatkan kapasitas produksi kilang dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari.

Lonjakan ini memberikan dampak strategis dalam menjaga kesinambungan pasokan BBM nasional, sekaligus menekan kebutuhan impor produk jadi. Tak hanya meningkatkan volume, proyek ini juga mengedepankan kualitas hasil olahan dengan standar Euro 5 yang lebih ramah lingkungan.

"Di situ biasa residu yang tidak diolah dan kita olah menjadi produk yang lebih bermanfaat dengan demikian kapasitas peningkatan produksi kita dari 260.000 barel per hari naik menjadi 360.000 barel per hari dengan kualitas yang lebih baik standar Euro 5," ujarnya.

 

 

Kedaulatan Energi sebagai Martabat Bangsa

Fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. (Dok Pertamina)

Simon menekankan bahwa kemandirian energi bukan semata soal daya atau kapasitas produksi, melainkan menyangkut martabat dan kehormatan bangsa.

Ia menyebut keberhasilan proyek ini tidak lepas dari peran para “Perwira Pertamina”, sebutan bagi insan perusahaan yang menjadi penggerak utama di balik layar. Semangat, profesionalisme, dan cinta tanah air menjadi nilai utama yang menopang pencapaian tersebut.

"Tentunya peran ini sangat bisa berhasil berkat dedikasi kontribusi dari para perwira Pertamina ijin bapak presiden para pekerja di Pertamina kami menyebutnya dengan istilah perwira singkatan dari Pertamina Wira," pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya