IHSG Cetak Rekor 9.000, Saham Ini Jadi Penopang Utama

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor baru dengan menembus level 9.000.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 12 Januari 2026, 14:15 WIB
Penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (4/7/2024) menunjukan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona hijau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor baru dengan menembus level 9.000. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai di balik capaian all time high tersebut, terdapat dinamika menarik penguatan indeks lebih banyak ditopang saham-saham konglomerasi.

"Belakangan market kita ini juga memang masih diwanai oleh pergerakan saham-saham konglo. Dimana, Konglo stoks ini cenderung naik terus gitu ya. Itu yang menopang pergerakan IHSG kita nih sampai 9.000 kemarin," kata Fanny dalam Morning Investview, Senin (12/1/2025).

Lebih lanjut, Fanny menilai reli indeks dalam beberapa waktu terakhir sangat dipengaruhi oleh pergerakan saham-saham konglomerasi yang cenderung naik konsisten dan memberikan kontribusi besar terhadap indeks.

"Contohnya apa? Kayak misalkan BUMI, DEWA, BRMS, terus ada RAJA, RATU, BUVA, MINA dan sebagainya gitu ya. Which is itu semua masuk dalam saham konglo," ujarnya.

Saham-saham kelompok ini mencatat lonjakan harga yang signifikan dan menjadi penopang utama IHSG saat sentimen global belum sepenuhnya kondusif.

LQ45 Masih Underperform

Di sisi lain, saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45 justru menunjukkan kinerja relatif tertinggal. Fanny menilai big caps belum mampu mengimbangi laju IHSG, bahkan cenderung underperform dibandingkan pergerakan indeks secara keseluruhan.

"Sedangkan kalau teman-teman perhatiin yang LQ45-nya, Big Caps-nya nih cenderungnya agak gak underperform lah, underperform gitu ya. Jadi gak outperform, malah underperform dari IHSG-nya. Kurang lebih gambarannya seperti itu kan," ujarnya.

Salah satu penyebabnya adalah masih berlanjutnya arus keluar dana asing. Investor global cenderung belum agresif kembali masuk ke saham-saham unggulan, sehingga ruang penguatan big caps menjadi terbatas.

 

Dominasi Ritel

Layar yang menampilkan informasi pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2020). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,34% ke level 5.014,08 pada pembukaan perdagangan sesi I, Senin (8/6). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Fanny menambahkan, dominasi investor ritel yang kini mencapai sekitar 52,5% turut memengaruhi pola pergerakan saham. Dengan peran ritel yang semakin besar, saham-saham dengan karakteristik perdagangan aktif dan volatil cenderung lebih cepat bergerak naik.

"Nah, yang menarik adalah kita lihat. Jadi porsi retail investor ini masih mendominasi ya, itu kurang lebih sekitar 52,5%. Nah dimana ini naik signifikan nih gitu ya kalau kita bandingkan dengan 10 tahun terakhir," ujarnya.

Sebaliknya, saham big caps yang biasanya bergantung pada aliran dana institusi dan asing masih menunggu katalis kuat untuk kembali memimpin pasar. Ketimpangan ini membuat struktur kenaikan IHSG menjadi tidak seimbang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya