Aliansi Dewan Eksekutif Mahasiswa PTKIN Gelar Aksi Solidaritas Venezuela, Sorot Tindakan AS

Aliansi Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (DEMA PTKIN) menggelar aksi solidaritas atas penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat (AS) pada Kamis 8 Januari 2025.

oleh Tim NewsDiterbitkan 09 Januari 2026, 17:32 WIB
Aliansi Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (DEMA PTKIN) menggelar aksi solidaritas. (Ist)

Liputan6.com, Jakarta - Aliansi Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (DEMA PTKIN) menggelar aksi solidaritas atas penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat (AS) pada Kamis 8 Januari 2025.

Massa aksi membawa sejumlah perangkat dan akomodasi, di antaranya mobil komando, bus, sepeda motor, serta berbagai banner dan poster bernada protes. Beberapa narasi yang ditampilkan antara lain 'Ganyang Trump' dan 'Hari Ini Venezuela, Ke Depan Mungkin Indonesia'.

Dalam aksi itu, massa menyuarakan penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai bentuk premanisme global dan intimidasi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela.

Tak hanya itu, DEMA PTKIN mengutuk keras segala bentuk tindakan sepihak, intimidasi militer, dan upaya provokasi yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Venezuela. Mereka juga menuntut Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia mengambil sikap tegas terkait dugaan penyulikan yang dinilai sewenang-wenang.

"Tindakan unilateral Amerika Serikat berpotensi melemahkan tatanan hukum internasional. Jika tindakan unilateral ini dibiarkan tanpa perlawanan intelektual dan diplomatik, maka hukum internasional secara de facto telah kehilangan taringnya," ujar Korpus PTKIN Miftahul Rizqi melalui keterangan tertulis, Jumat (9/1/2026).

"Ia berubah menjadi sekadar instrumen bagi yang kuat untuk menindas yang lemah, sebuah ‘hukum rimba’ versi modern yang dibalut dengan dasi dan diplomasi," sambung dia.

 

Soroti Tindakan AS

Rizqi juga menyoroti tindakan Amerika Serikat melalui pendekatan teori Neorealisme Ofensif yang dikemukakan John Mearsheimer, di mana negara adidaya dinilai selalu berupaya memaksimalkan kekuatannya demi mempertahankan dominasi global.

"AS bertindak bukan atas dasar moralitas atau hak asasi manusia, melainkan murni kalkulasi kekuasaan untuk mencegah munculnya kekuatan lain yang mengancam kepentingannya," kata dia.

Selain faktor geopolitik, lanjut Rizqi, terdapat kepentingan ekonomi besar di balik tekanan terhadap Venezuela, khususnya terkait cadangan minyak negara tersebut yang mencapai sekitar 300 miliar barel. Dominasi energi global disebut menjadi salah satu motif utama intervensi Amerika Serikat.

Menurutnya, instabilitas di Venezuela juga berdampak sistemik terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia, melalui kenaikan harga energi, beban subsidi, dan inflasi yang menekan daya beli masyarakat.

"Kami dari aliansi DEMA PTKIN mengutuk keras segala bentuk tindakan premanisme global, intimidasi militer, dan upaya provokasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Venezuela," terang Rizqi.

Sebagai simbol perlawanan, massa aksi juga melakukan pembakaran foto Presiden Amerika Serikat dan bendera Amerika Serikat saat orasi berlangsung. Aksi unjuk rasa tersebut berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif hingga selesai.

Infografis Donald Trump Klaim AS Akan Ambil Alih Gaza. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya