Liputan6.com, Jakarta - Wabah ASF atau African Swine Fever alias Demam Babi Afrika tengah terjadi di Barcelona, Spanyol. Hal tersebut membuat Badan Karantina Indonesia (Barantin) melarang daging babi dan produk turunan dari negara tersebut masuk Tanah Air.
“Berdasarkan informasi dari WOAH Event ID 7065 Follow up Report 6 tanggal 19 Desember 2025, kami menginstruksikan agar seluruh unit pelaksana teknis Barantin dan petugas karantina melakukan kewaspadaan dan pengetatan terhadap lalu lintas daging babi maupun produknya dari Spanyol,” ungkap Sriyanto, Deputi Bidang Karantina Hewan di Jakarta dalam keterangan tertulis.
Advertisement
Wabah ASF tak bisa disepelekan karena penyakit ini memiliki karakteristik penyebaran yang sangat cepat dan susah dikendalikan.
Wabah ASF adalah kejadian merebaknya African Swine Fever, yaitu penyakit virus yang sangat menular pada babi, baik babi ternak maupun babi hutan.
ASF disebabkan oleh virus ASF (ASFV) yang tergolong dalam keluarga Asfarviridae dan genus Asfivirus, berisi DNA beruntai ganda. Virus penyebab ASF menyerang babi domestik dan babi hutan, dengan tingkat kematian hampir 100% pada hewan yang terinfeksi seperti mengutip tulisan Prof. Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes di laman Universitas Airlangga.
Memiliki karakteristik yang cepat menyebar dan susah dikendalikan, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) menilai bahwa ASF adalah salah satu penyakit yang paling berpotensi menyebar secara epidemi di seluruh dunia.
Virus ASF Tidak Menular ke Manusia
Virus ASF tidak menular ke manusia tapi dampaknya sangat besar terhadap peternakan babi di seluruh dunia.
"ASF tidak membahayakan kesehatan manusia tapi memiliki dampak yang bisa menghancurkan populasi babi dan perekonomian peternakan," kata World Organization for Animal Health (WOAH) di laman resmi dikutip Rabu, 7 Januari 2025.
Saat babi terinfeksi ASF, virus masuk melalui tonsil atau mukosa faring dorsal, kemudian menyebar ke kelenjar getah bening mandibula dan retropharyngeal.Dari lokasi ini, virus akan menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah (viremia). .
Gejala ASF pada Babi
Gejala penyakit ASF muncul dalam waktu antara tiga hingga lima belas hari setelah infeksi.
Pada bentuk akut biasanya ditandai oleh gejala berat seperti demam tinggi, tonjolan pembengkakan, pendarahan internal, dan kematian mendadak pada babi. Pada saat autopsi, ditemukan lesi khas berupa splenomegali (pembesaran limpa) yang sangat parah akibat pendarahan hebat di dalam organ ini.
Sementara itu, bentuk kronis terjadi dengan gejala yang lebih ringan dan berlangsung lebih lama, tetapi tetap berisiko tinggi menyebabkan kematian.
Wa
Sifatnya yang sangat menular dan mematikan, penanggulangan ASF membutuhkan tindakan cepat dan efektif.
Saat ini, belum ada vaksin yang benar-benar mampu mencegah penyebaran virus ini secara menyeluruh, sehingga pencegahan lebih difokuskan pada pengendalian epidemi melalui karantina wilayah, penggembalaan yang terkontrol, dan sterilisasi area peternakan yang terpapar.
Pengendalian ASF sangat bergantung pada deteksi dini dan pengujian laboratorium yang akurat. Diagnosis dapat dilakukan melalui berbagai metode seperti Polymerase Chain Reaction (PCR), isolasi virus, dan pengujian serologi. Pemeriksaan ini penting agar penyebaran virus dapat dideteksi sejak dini dan dilakukan langkah-langkah karantina serta pengendalian secara cepat.