Kapolri Ungkap 10 Tantangan Indonesia 10 Tahun ke Depan, Ini Rinciannya

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan cuaca ekstrem menjadi tantangan paling nyata yang kini langsung dirasakan dampaknya, dari korban jiwa hingga tekanan ekonomi.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 30 Desember 2025, 13:47 WIB
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat memberikan wejangan di Apel Kasatwil di Mako Satuan Latihan Korbrimob Polri, Cikeas, Senin (24/11/2025). (Foto: Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan adanya 10 jenis tantangan utama yang masih membayangi dunia, khususnya Indonesia dalam 10 tahun ke depan. Cuaca ekstrem misalnya, menjadi tantangan paling nyata yang langsung dirasakan dampaknya.

"Bencana tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tapi juga memberikan tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi," tutur Listyo saat Rilis Akhir Tahun Polri 2025 di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/12/2025).

Menurut Listyo, data tersebut berdasarkan hasil riset Global Risk Report 2025. Secara rinci, tantangan yang dimaksud antara lain cuaca ekstrem, hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan sistem alam, kelangkaan sumber daya, hingga maraknya misinformasi dan disinformasi.

Dampak negatif teknologi kecerdasan buatan juga jadi perhatian, disusul masalah ketimpangan dan polarisasi sosial, spionase, perang siber, serta polusi yang makin menekan kualitas hidup masyarakat. Dari semua risiko tersebut, cuaca ekstrem dinilainya paling terasa dampaknya.

Listyo mencontohkan siklon tropis di Filipina pada 28 November 2025, yang menewaskan ratusan orang dengan kerugian miliaran dolar. Jepang juga sempat diguncang gempa besar pada Desember 2025.

Indonesia sendiri tak luput. Sejak 23 November 2025, bencana alam melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara dengan korban 1.132 orang meninggal dunia dan 174 orang hilang.

Situasi diperparah dengan munculnya tiga sistem siklon di sekitar wilayah Indonesia. Potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi pun mengancam sejumlah daerah.

Di luar faktor alam, tekanan global datang dari konflik antarnegara. Perang Rusia-Ukraina, konflik Israel-Palestina, hingga perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok disebut berdampak pada pangan, energi, dan ekonomi dunia.

"Namun demikian tentunya ini sampai saat ini dinamika terkait dengan masalah perang dagang ini tentunya menjadi salah satu yang kemudian menjadi kekhawatiran dan keprihatinan dunia," ucap dia.

 

Ekonomi Indonesia Bertahan

Listyo juga menyinggung kerusuhan di sejumlah negara, seperti Nepal, Myanmar, dan Brasil, yang memicu munculnya korban jiwa, kerugian ekonomi, dan runtuhnya kepercayaan publik terhadap negara. Indonesia pun sempat mengalami situasi genting pada akhir Agustus dan September 2025.

"Namun alhamdulillah kita semua, Indonesia, mampu melewati seluruh tantangan tersebut sehingga peristiwa yang terjadi dapat segera kita atasi, dan dampak serius yang terjadi bisa kita mitigasi sehingga tidak terjadi seperti di negara-negara lain," ujar dia.

Di tengah tekanan global, ekonomi nasional Indonesia dinilai masih stabil. Pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, inflasi terkendali, neraca perdagangan surplus, dan cadangan devisa tetap kuat.

Listyo menyebut, stabilitas itu tidak lepas dari peran seluruh elemen bangsa, termasuk Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Hasil survei nasional dan internasional menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap Polri terus menguat. Meski begitu, Listyo menegaskan jajarannya tidak boleh cepat puas.

"Tingginya kepercayaan Polri ini tentunya menjadi modal yang sangat penting bagi Polri untuk terus hadir sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat," tandas dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya