Elang Media Visitama Tingkatkan Kepemilikan Saham SUPA Jadi 27,51%

Elang Media Visitama juga tercatat sebagai pemegang saham Super Bank Indonesia menambah kepemilikan saham SUPA. Simak rinciannya.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 29 Desember 2025, 19:25 WIB
Superbank menetapkan harga penawaran umum perdana sebesar Rp635 per saham, dan melepas 4,4 miliar saham baru, setara dengan 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Tampak dalam foto, Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan saat memberi sambutan pada pencatatan perdana saham PT Super Bank Indonesia Tbk (saham SUPA) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (17/12/2025). (Kapanlagi.com/Budy Santoso)

Liputan6.com, Jakarta - Elang Media Visitama menambah kepemilikan sahamnya di PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA). Elang Media Visitama meningkatkan jumlah kepemilikan saham SUPA dari sebelumnya 9.175.800.159 saham atau setara 27,07% hak suara, menjadi 9.325.800.159 saham dengan porsi kepemilikan naik menjadi 27,51% hak suara setelah transaksi

Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (29/12/2025), penambahan kepemilikan dilakukan melalui pembelian tidak langsung dalam dua tahap.

Pertama, pembelian sebanyak 50 juta saham dengan harga Rp 1.050 per saham pada 24 Desember 2025. Selanjutnya, Elang Media Visitama kembali membeli 100 juta saham dengan harga Rp 895 per saham pada 29 Desember 2025

Dalam keterbukaan informasi tersebut disampaikan transaksi dilakukan dengan tujuan investasi. Elang Media Visitama juga tercatat sebagai pemegang saham pengendali dan menyatakan akan tetap mempertahankan pengendalian atas Super Bank Indonesia.

Sebelumnya, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank mencatatkan kinerja positif secara berkelanjutan hingga November 2025. Bank digital yang didukung oleh Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank, dan GXS ini menunjukkan pertumbuhan operasional dan keuangan yang solid, sekaligus memperkuat fondasi bisnis perseroan pasca pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia.

Hingga November 2025, Superbank membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp 122,4 miliar. Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang melonjak 165 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 1,4 triliun.

 

Aset Superbank

Pencatatan perdana saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), Rabu, (17/12/2025). (Foto: BEI)

Pertumbuhan intermediasi juga tercermin dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang naik 149 persen YoY menjadi Rp 11,0 triliun, sementara penyaluran kredit tumbuh 58 persen YoY mencapai Rp 9,3 triliun.

Sejalan dengan itu, total aset Superbank turut meningkat signifikan. Per akhir November 2025, aset perseroan tercatat tumbuh 69 persen YoY menjadi Rp 18 triliun.

Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan kekuatan fundamental perusahaan.

“Pertumbuhan jumlah nasabah, peningkatan aktivitas transaksi, dan kinerja keuangan yang berkelanjutan menunjukkan bahwa model bisnis Superbank semakin matang," jelas Tigor dalam keterangan tertulis, Minggu (21/12/2025).

"Fokus kami tetap pada membangun layanan perbankan digital yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari, dijalankan secara prudent, dan didukung oleh fondasi yang kuat untuk pertumbuhan jangka panjang,” tambah dia.

 

5 Juta Nasabah

Melalui aksi korporasi ini, Superbank berhasil menghimpun dana sebesar Rp2,79 triliun, yang akan digunakan untuk mendukung ekspansi bisnis dan penguatan kapabilitas perbankan digital perseroan. Tampak dalam foto, Suasana pencatatan perdana saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (17/12/2025). (Kapanlagi.com/Budy Santoso)

Sejak meluncurkan aplikasi digital pada Juni 2024, Superbank telah melayani lebih dari 5 juta nasabah. Pertumbuhan ini turut diiringi peningkatan aktivitas transaksi, dengan rata-rata transaksi harian melampaui 1 juta transaksi per hari.

Pada kuartal III 2025, volume transaksi bahkan meningkat lebih dari 40 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Dari sisi permodalan, Superbank juga mencatat penguatan signifikan. Setelah melantai di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham (IPO), Superbank telah memenuhi kriteria Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2.

Dengan modal inti yang kini melampaui Rp 6 triliun, Superbank memiliki struktur permodalan yang lebih kuat untuk memperluas skala usaha dan memasuki fase pertumbuhan berikutnya sebagai perusahaan publik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya