Real Madrid dan Tiga Poin Penyelamat: Mengapa Xabi Alonso Belum Benar-Benar Aman di Bernabeu

Real Madrid menang 2-0 atas Sevilla, menyelamatkan posisi Xabi Alonso untuk sementara. Namun performa tim, tekanan suporter, dan sikap Perez masih jadi ancaman.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 26 Desember 2025, 11:20 WIB
Selebrasi Kylian Mbappe dalam laga Liga Spanyol antara Real Madrid vs Sevilla, Minggu (21/12/2025). (AP Photo/Manu Fernandez)

Liputan6.com, Jakarta - Sekitar sebulan terakhir, posisi Xabi Alonso di kursi pelatih Real Madrid terlihat rapuh. Kekalahan demi kekalahan di kandang membuat spekulasi pemecatan terus menguat menjelang jeda musim dingin.

Kemenangan 2-0 atas Sevilla di Santiago Bernabeu pada Sabtu lalu memberi Alonso napas tambahan. Tiga poin itu setidaknya memastikan ia masih akan menikmati masa sampai akhir tahun sebagai pelatih Madrid, meski hanya untuk sementara.

Namun, di balik hasil positif tersebut, kegelisahan tetap terasa. Performa tim belum mencerminkan janji sepak bola modern dan intens yang dulu dibawa Alonso saat datang ke ibu kota Spanyol.


Kemenangan Hanya Menunda, Bukan Menghapus Ancaman

Selebrasi Kylian Mbappe dalam laga Liga Spanyol antara Real Madrid vs Sevilla, Minggu (21/12/2025). (AP Photo/Manu Fernandez)

Tiga poin dari Sevilla menjadi penyangga penting bagi Alonso. Kekalahan kandang ketiga secara beruntun diyakini bisa memicu keputusan tegas dari presiden klub, Florentino Perez.

Alonso tidak menutup mata terhadap kekurangan timnya. Dalam konferensi pers usai laga, ia menegaskan bahwa kemenangan adalah keharusan, tetapi banyak aspek permainan yang masih perlu dibenahi, baik saat menguasai bola maupun tanpa bola.

Ia juga menekankan pentingnya jeda musim dingin. Waktu istirahat, evaluasi, dan kembalinya pemain dari cedera diyakini bisa membantu Madrid tampil lebih baik.

Namun, keyakinan sang pelatih belum sepenuhnya sejalan dengan realitas di lapangan, mengintat performa Madrid masih angin-anginan.


Janji Sepak Bola Modern yang Belum Terwujud

Vinicius Junior ditarik keluar saat Real Madrid menang 2-0 atas Sevilla pada laga pekan ke-17 La Liga di Santiago Bernabeu, Minggu (21/12/2025) dini hari WIB. Ketika berjalan keluar pada menit ke-83, Vinicius mendapat cemoohan dari sejumlah pendukung El Real yang hadir di stadion. (AP Photo/Manu Fernandez)

Sejak mengambil alih Madrid pada Mei lalu, Alonso menjanjikan permainan penuh energi, emosi, dan kegembiraan. Janji itu mengingatkan publik pada sepak bola intens yang ia bangun bersama Bayer Leverkusen.

Faktanya, sepanjang dua bulan terakhir, hanya satu penampilan Madrid yang benar-benar meyakinkan, yakni kemenangan 3-0 di kandang Athletic Club pada awal Desember. Selebihnya, performa tim terlihat datar dan inkonsisten.

Keunggulan lima poin atas Barcelona di awal November pun menguap, berubah menjadi ketertinggalan empat poin. Minimnya intensitas dan struktur permainan membuat Madrid tampak kembali ke pola lesu seperti fase akhir era Carlo Ancelotti.


Dinamika Kekuasaan dan Retaknya Otoritas Pelatih

Duel Dean Huijsen dan Djibril Sow dalam laga Liga Spanyol antara Real Madrid vs Sevilla, Minggu (21/12/2025). (AP Photo/Manu Fernandez)

Salah satu faktor krusial adalah minimnya dukungan publik dari Perez kepada Alonso. Alih-alih membela pelatihnya, sang presiden justru lebih sering melontarkan kritik kepada pihak luar, termasuk wasit Spanyol.

Lanjut Baca:

Contoh paling jelas terlihat saat kontroversi Vinicius Junior di El Clasico pada 26 Oktober. Reaksi marah sang pemain saat ditarik keluar lapangan seolah mendapat simpati dari presiden, bukan dari pelatihnya. Sejak saat itu, hubungan kekuasaan di ruang ganti terasa timpang. Beberapa bintang besar disebut enggan sepenuhnya mengikuti instruksi detail Alonso, sebuah situasi yang menggerus wibawa pelatih di klub sebesar Madrid.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya