Liputan6.com, Jakarta - Ketua Yayasan Universitas Jayabaya sekaligus kader Partai Golkar, Moestar Putra Jaya, menegaskan keberadaan para senior di tubuh Partai Golkar merupakan bagian dari tradisi organisasi untuk menjaga kesinambungan nilai, etika, arah perjuangan, dan marwah partai.
Moestar menyebut para senior memiliki peran penting sebagai benteng etika agar arah perjuangan partai tetap konsisten, berorientasi pada pengabdian, serta berpihak kepada kepentingan rakyat.
Advertisement
“Peran senior salah satunya adalah sebagai sumber pandangan dan pengingat moral, agar dinamika organisasi tetap berjalan sejalan dengan prinsip dasar Golkar dan tidak melenceng dari janji-janji politik kepada masyarakat,” ujar Moestar, Kamis (25/12/2025).
Ia menilai fungsi pengingat para senior semakin relevan di tengah dinamika politik dan kekuasaan yang berpotensi membuat partai melupakan nilai fundamental perjuangannya.
Oleh karena itu, kritik dan masukan dari kalangan senior seharusnya dipandang sebagai tanggung jawab moral, bukan ancaman politik.
"Dalam tradisi Golkar, senior adalah penjaga marwah. Mereka memastikan janji yang diucapkan para petinggi partai tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diwujudkan dalam kerja nyata. Jika janji diabaikan, yang lahir bukan kepercayaan, melainkan kekecewaan publik,” tegasnya.
Prinsip yang Dipegang Kader Golkar
Sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengaku kerap menerima nasihat dari para senior, termasuk mantan Ketua Umum Golkar Agung Laksono, politikus senior Zainudin Amali, serta Freddy Latumahina, khususnya terkait masa jabatan kepemimpinan.
Dalam Rapimnas Golkar, para senior tersebut turut hadir. Bahlil menyebut mereka sering mengingatkan soal prinsip regenerasi.
“Saya selalu mendapat ajaran bahwa setiap pemimpin ada masanya, dan setiap masa ada pemimpinnya,” ujar Bahlil.
Ia menegaskan prinsip itu tidak hanya berlaku bagi para senior, tetapi juga harus menjadi pegangan bagi generasi muda yang kini memimpin partai.
“Jangan sampai prinsip itu hanya berlaku untuk senior. Begitu generasi muda menjadi ketua umum lalu merasa harus terus menjadi ketua umum. Itu tidak boleh,” lanjut Bahlil.
Bahlil menegaskan saat ini Partai Golkar dikelola oleh generasi baru. Ia mengajak seluruh elemen partai untuk mendukung kepemimpinan generasi muda dalam mengelola organisasi.
"Ini adalah generasi baru Golkar, generasi baru Partai Golkar,” pungkas dia.