Cucu Pendiri NU: NU Bukan Milik Pengurus, Tapi Semua Ulama Pesantren

KH Abdussalam Shohib yang akrab disapa Gus Salam mengingatkan NU bukan milik pengurus PBNU, tetapi milik ulama pesantren.

oleh Raynaldo Ghiffari LubabahDiterbitkan 25 Desember 2025, 17:44 WIB
Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf sepakat islah

Liputan6.com, Jakarta - KH Abdussalam Shohib yang akrab disapa Gus Salam mengingatkan NU bukan milik pengurus PBNU, tetapi milik ulama pesantren. Cucu pendiri NU, KH Bisri Syansuri ini mengingatkan kewajiban pengurus PBNU untuk menjaga persatuan umat.

"NU itu bukan milik pengurus, tapi milik ulama pesantren dalam kewajibannya membimbing umat, menjaga persatuan dan mengantarkan umat pada puncak kemuliaan. Jadi, sudah ada haluan dan garis besar operasionalnya. Jangan diubah-ubah demi pribadi atau kelompok," kata Gus Salam dalam keterangannya, Kamis (25/12/2025).

Dia menyoroti kegaduhan yang sebelumnya terjadi di PBNU akibat kesalahan manajemen organisasi oleh para elite PBNU yang keluar dari jalur.

"Kegaduhan PBNU saat ini adalah puncak dari mis-manajemen dan disorientasi struktural para elite pimpinan di PBNU," jelasnya.

Gus Salam menilai gaduh di tingkat elite PBNU usai Syuriyah Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum PBNU begitu dirasakan oleh Nahdliyin dan struktur di daerah.

Selain itu, pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang ini mengaku sudah cemas karena kemelut PBNU bakal terjadi sejak awal kepemimpinan mandataris Muktamar ke-34 PBNU di Lampung, yakni Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Gus Yahya.

Untuk itu, Gus Salam mengusulkan Rais Aam dan Gus Yahya menyerahkan kembali mandat Muktamar Lampung kepada Mustasyar PBNU yang terdiri dari PW-PC-PCINU. Dia menilai sikap itu menjadi salah satu solusi untuk mengakhiri dinamika di tubuh PBNU.

"Sikap undur diri mereka bisa menyelamatkan dan membangkitkan harapan PW-PC-PCINU hingga ranting dan banom-banom NU untuk tetap optimis menguatkan jam’iyyah dan jemaah," ujar Gus Salam.

Gus Yahya dan Miftachul Akhyar Sepakat Islah hingga Gelar Muktamar

Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf sepakat islah atau rekonsiliasi usai keduanya menggelar pertemuan yang diprakarsai para masyayikh dan mustasyar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis.

Pertemuan yang berlangsung khidmat tersebut mempertemukan dua pucuk pimpinan PBNU dalam satu forum, sekaligus menandai berakhirnya ketegangan yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Sebagai solusi bersama, kedua pihak sepakat menyelenggarakan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) secara bersama-sama.

“Alhamdulillah, hari ini kita semua menyaksikan peristiwa yang menyejukkan. Islah telah tercapai dan kami bersama Rais Aam sepakat bahwa jalan terbaik bagi jam’iyah adalah melalui Muktamar bersama,” ujar Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Musyawarah di Lirboyo ini merupakan kelanjutan dari Musyawarah Kubro yang digelar di lokasi yang sama beberapa hari sebelumnya.

Para masyayikh menilai persoalan internal PBNU, yang bermula dari keputusan pemberhentian Ketua Umum oleh Rais Aam dan dinilai tidak sesuai dengan AD/ART NU, perlu diselesaikan melalui mekanisme islah dan Muktamar yang sah dengan melibatkan kedua belah pihak.

Kesepakatan tersebut dicapai setelah melalui proses dialog, negosiasi, dan perdebatan yang cukup intens, namun tetap dijalankan dalam semangat ukhuwah nahdliyah.

Sejumlah tokoh sentral NU turut hadir dan berperan sebagai penengah dalam pertemuan ini, salah satunya Wakil Presiden 2019–2024 RI yang juga Mustasyar PBNU Ma’ruf Amin.

Hadir pula para masyayikh dan kiai sepuh NU lainnya yang sejak awal mendorong penyelesaian konflik melalui jalan musyawarah dan persatuan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya