Liputan6.com, Jakarta - Bencana di Sumatera benar-benar membawa luka mendalam dan dampak pada berbagai sisi kehidupan, termasuk kesehatan.
Dengan melihat perkembangan yang ada maka setidaknya ada tujuh aspek yang perlu dilakukan sekarang ini.
Advertisement
Pertama adalah penanganan kasus penyakit yang sekarang sedang sudah terjadi, yang dapat dibagi tiga jenis, penyakit yang ditularkan melalui air (water-borne disease), penyakit menular lewat makanan (foodborne disease) dan penyakit yang menular melalui udara (air-borne disease).
Data dari lapangan kini sudah menunjukkan banyaknya kasus ISPA, gangguan saluran cerna, keluhan di kulit dan lain-lain yang mereka tangani sehari-hari.
Kedua, selain penyakit menular akut maka pelayanan kesehatan juga perlu dilakukan untuk menangani penyakit kronik yang mungkin memburuk keadaannya karena masyarakat dalam situasi bencana. Mereka yang ada sakit jantung kronik, atau paru kronik bukan tidak mungkin mengalami perburukan status penyakitnya.
Ketiga, fasilitas pelayanan kesehatan di daerah bencana harus melakukan pelayanan kesehatan ganda, untuk menangani kasus akibat bencana dan juga harus menangani masalah kesehatan yang memang umum terjadi, ada atau tidak adanya bencana.
Keempat, karena ada lebih dari setengah juta pengungsi dan juga rusaknya tempat tinggal dan fasilitas umum serta belum terjaminnya higiene dan sanitasi maka perlu diantisipasi kemungkinan terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Menular.
Beberapa yang perlu diantisipasi antara lain adalah leptospira yang biasa berhubungan dengan banjir, gangguan saluran cerna akibat Salmonella Typhi dan bahkan vibrio cholerae, Hepatitis A dan parasit, serta Demam Berdarah Dengue (DBD) dan juga malaria.
Lima, Fasilitas Pelayanan Kesehatan Harus Segera Beroperasi
Kelima adalah agar Fasilitas Pelayanan Kesehatan di daerah bencana sekarang ini harus segera beroperasi dengan segala keterbatasannya. Tentu tiga faktor utamanya adalah sumber daya manusia atau petugas kesehatan, alat kesehatan dan obat-obatan serta sarana dan prasarana gedung/ruangan beserta penunjangnya (seperti listrik dan transportasi).
Selanjutnya, aspek kesehatan keenam adalah sejak sekarang sudah harus mulai di proses bagaimana perbaikan dan restorasi fasilitas pelayanan kesehatan yang rusak akibat bencana.
Dari Jurnal Ilmiah Nature 2025 disebutkan pengalaman di beberapa negara yang menunjukkan bahwa pelayanan rumah sakit pasca bencana banjir dapat berlangsung sampai 210 hari sesudah bencana banjir terjadi. Artinya, perlu ketahanan/resiliensi kesehatan yang kokoh.
Aspek ketujuh, kita tekankan bahwa masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh pelayanan kesehatan saja. Kalau tempat tinggal belum tersedia, lapangan kerja belum ada, sekolah masih terbatas, transportasi juga belum lancar maka masyarakat tentu belum akan dapat hidup tenang dan belum akan mendapat derajat kesehatan yang baik.
Penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala BalitbangkesPenerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 - PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025