Harga Perak Diramal Tembus USD 62 per Ons pada 2026, Simak Proyeksi Analis Global

Kilau perak berpotensi kalahkan emas di 2026. Simak analisis lengkap mengenai pasokan fisik, permintaan panel surya, dan tren investasi perak tahun depan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 22 Desember 2025, 07:00 WIB
(Ilustrasi perak-silver by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Setelah mencatatkan performa luar biasa pada tahun 2025 dengan kenaikan harga lebih dari 120 persen, komoditas perak diprediksi akan kembali bersinar pada 2026. Banyak institusi perbankan investasi dan analis terkemuka percaya bahwa logam abu-abu ini memiliki ruang untuk bergerak lebih tinggi, bahkan berpotensi melampaui keuntungan emas.

Kenaikan harga perak sepanjang tahun ini didorong oleh kuatnya permintaan industri dan investasi, serta kekhawatiran akan tarif dagang yang mengganggu pasokan fisik dunia. Namun, analis dari Heraeus memberikan catatan dalam 2026 Precious Metals Outlook bahwa harga perak mungkin akan menghadapi hambatan di awal tahun depan.

"Reli yang membawa emas dan perak ke rekor tertinggi terjadi terlalu cepat," ungkap analis Heraeus, Dikutip dari Kitco, Senin (22/12/2025).

Mereka memperkirakan akan ada periode konsolidasi atau penurunan sementara sebelum harga kembali merangkak naik. Meskipun demikian, jika tren positif emas berlanjut, perak diyakini akan mengikuti jejak tersebut sebagai aset investasi yang lebih volatil namun menawarkan keuntungan lebih besar.

 

Tantangan Sektor Industri dan Permintaan dari China

(Ilustrasi perak-silver by AI)

Meskipun prospek investasi tetap menjanjikan, sektor industri perak diperkirakan akan menghadapi tantangan berat pada 2026. Heraeus memproyeksikan permintaan perak dari sektor fotovoltaik (panel surya) akan menurun.

Hal ini disebabkan oleh kebijakan baru di China, pasar terbesar dunia, yang memperlambat pertumbuhan instalasi panel surya menjadi hanya sekitar 1 persen.

Selain kebijakan, tingginya harga perak memicu upaya penghematan (thrifting) dalam sistem panel surya. Para produsen mulai mencari cara untuk menggunakan lebih sedikit perak atau menggantinya dengan logam yang lebih murah. Di sisi lain, permintaan perak dari sektor perhiasan dan peralatan perak juga terdampak.

India, yang menyumbang sekitar 40 persen permintaan perhiasan perak global, melaporkan penurunan impor sebesar 14 persen karena konsumen mulai kesulitan menjangkau harga yang semakin tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan harga perak pada 2026 akan sangat bergantung pada sektor investasi daripada konsumsi fisik di pasar tradisional.

 

Fenomena 'Silver Flood' dan Stok Gudang London

(Ilustrasi perak-silver by AI)

Analis dari TD Securities memberikan sudut pandang berbeda mengenai dinamika pasar tahun depan. Jika sebelumnya pasar diramaikan dengan isu #silversqueeze atau kelangkaan pasokan, kini pasar bersiap menghadapi fenomena #silverflood atau banjir pasokan di gudang-gudang resmi.

Menurut TD Securities, stok perak di brankas LBMA (London Bullion Market Association) telah pulih secara masif dengan lebih dari 212 juta ons perak kini tersedia. Jumlah ini setara dengan hampir dua tahun defisit global. Kembalinya likuiditas ke pasar London ini dianggap sebagai risiko koreksi bagi harga perak di awal tahun 2026.

TD Securities memperkirakan harga perak akan memulai tahun dengan penurunan, rata-rata di level USD 42 per ons pada kuartal pertama. Mereka memproyeksikan harga akan sulit kembali ke level tertinggi dalam waktu dekat, dengan estimasi rata-rata berada di kisaran USD 40-an sepanjang tahun 2026.

 

Optimisme Jangka Panjang dan Krisis Pasokan Tambang

(Ilustrasi perak-silver by AI)

Berbeda dengan pandangan yang lebih berhati-hati, Maria Smirnova dari Sprott Asset Management tetap optimis terhadap masa depan perak. Ia menekankan bahwa masalah pasokan yang menghantui pasar sejak 2025 belum terselesaikan sepenuhnya. Defisit fisik yang terjadi selama beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan dampaknya pada pergerakan harga.

Smirnova mencatat bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, dunia telah kehilangan pasokan tambang sebesar 80 juta ons yang belum tergantikan.

"Membangun tambang perak baru adalah proses 5 hingga 10 tahun, bukan solusi instan," jelasnya.

Kurangnya aset perak berkualitas membuat perusahaan tambang besar kini berebut untuk mengakuisisi deposit yang ada.

Sementara itu, BMO Capital Markets menaikkan proyeksi harga perak mereka sebesar 14 persen menjadi rata-rata USD 56,3 per ons untuk tahun 2026, dengan potensi menyentuh USD 60 pada kuartal keempat.

Secara keseluruhan, meski fluktuasi jangka pendek tidak terhindarkan, fundamental pasokan yang ketat tetap menjadi mesin utama penggerak harga perak di masa depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya