Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan 15-19 Desember 2025. Pergerakan IHSG sepekan ini dinilai dipengaruhi kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the fed) dan Bank Indonesia (BI) soal suku bunga.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu, (20/12/2025), IHSG merosot 0,59% ke posisi 8.609,55. Pada pekan lalu, IHSG naik terbatas 0,32% ke posisi 8.660,49. Kapitalisasi pasar juga merosot 0,59% menjadi Rp 15.788 triliun dari pekan sebelumnya Rp 15.882 triliun.
Advertisement
Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menuturkan, pergerakan IHSG dipengaruhi prospek penurunan suku bunga the Fed pada 2026. "Prospek penurunan suku bunga tahun depan hanya satu kali. Namun, ada peluang the Fed menurunkan suku bunga bisa dua kali,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.
Selain itu, Nafan menambahkan, Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga 4,75% seiring langkah BI yang pro stabilitas juga mempengaruhi IHSG. “BI cenderung pro stability ketimbang growth dengan menahan BI Rate membuat market kita relatif mengalami koreksi,” kata dia.
BEI juga mencatat rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 12,59% menjadi 2,80 juta kali transaksi dari 3,20 juta kali transaksi pada pekan lalu. Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian bursa anjlok 20,80% menjadi 47 miliar saham dari 59,35 miliar saham pada pekan lalu. Investor asing membeli saham Rp 3,27 triliun selama sepekan. Aksi beli saham oleh investor asing ini lebih besar dari pekan lalu sebesar Rp 1,42 triliun. Seiring hal itu, sepanjang 2025, investor asing lepas saham Rp 22,39 triliun.
Adapun peningkatan tercatat pada rata-rata nilai transaksi harian BEI sebesar 13,23% menjadi Rp 34,29 triliun dari pekan lalu Rp 30,29 triliun.
Kinerja IHSG pada 8-12 Desember 2025
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis pada perdagangan saham 8-12 Desember 2025. Kenaikan IHSG sepekan didorong rilis data makro China hingga the Federal Reserve (the Fed) pangkas suku bunga.
Adapun pada awal pekan, tepatnya 8 Desember 2025, IHSG dan kapitalisasi pasar mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah masing-masing pada level 8.710,69 dan sebesar Rp 16.004 triliun.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (13/12/2025), IHSG naik 0,32% dan ditutup ke level 8.660,49 selama sepekan ini. Kenaikan IHSG ini menyusut dari pekan lalu. IHSG pekan lalu melonjak 1,46% ke posisi 8.632,76.
Kapitalisasi pasar BEI juga menguat 0,24% menjadi Rp 15.882 triliun dari pekan lalu Rp 15.844 triliun.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG menguat 0,32% tetapi disertai oleh munculnya tekanan jual. Pihaknya menyebutkan sejumlah sentimen yang mempengaruhi IHSG sepekan. Pertama, rilis data makro China seperti neraca dagang yang relatif meningkat. Kedua, rilis data pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang melemah, tetapi tetap terjadi ada pemangkasan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) menjadi 3,75% meski data makro AS dikatakan belum stabil menurut ketua the Fed Jerome Powell.
"Faktor ketiga, penguatan harga komoditas emas global yang berpengaruh postiif ke emiten emas,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Rata-Rata Nilai Transaksi Harian
Kenaikan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian BEI dengan peningkatan sebesar 41,95% menjadi Rp 30,28 triliun dari Rp 21,34 triliun pada pekan lalu.
Peningkatan juga dialami rata-rata volume transaksi harian bursa pekan ini sebesar 27,92% menjadi 59,35 miliar saham dari pekan lalu 46,39 miliar saham. Rata-rata frekuensi transaksi harian meningkat 20,16% menjadi 3,2 juta kali transaksi dari 2,66 juta kali transaksi pada pekan lalu.
Selama sepekan, investor asing beli saham Rp 1,42 triliun. Aksi beli saham oleh investor asing ini lebih kecil dibandingkan pekan lalu mencapai Rp 2,48 triliun.