Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia bergerak menguat pada perdagangan Jumat dan berpeluang mencatatkan kenaikan secara mingguan. Penguatan harga emas ini didorong meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Mengutip CNBC, Sabtu (20/12/2025), harga emas di pasar spot tercatat naik 0,3% ke level USD 4.346,69 per ounce. Sepanjang pekan ini, harga emas berpotensi menguat lebih dari 1%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS turut naik 0,4% ke posisi USD 4.380 per ounce.
Advertisement
Sentimen positif terhadap harga emas semakin menguat seiring rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan perlambatan. Inflasi konsumen AS pada November tercatat naik 2,7% secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 3,1%.
Selain itu, tingkat pengangguran AS juga meningkat menjadi 4,6%, level tertinggi sejak September 2021. Kondisi ini memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
“Kami melihat data inflasi yang lebih rendah dan laporan tenaga kerja yang melemah. Ini semakin menegaskan bahwa Federal Reserve seharusnya tetap berada di jalur pelonggaran kebijakan,” ujar chief market strategist Blue Line Futures Phillip Streible.
Aset Lindung Nilai
Ia menambahkan, ketidakpastian arah kebijakan bank sentral global juga membuat emas tetap menarik sebagai aset lindung nilai.
“Faktor lainnya adalah tingginya ketidakpastian terkait kebijakan bank sentral ke depan, yang membuat emas tetap diminati,” kata Streible.
Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin oleh The Fed pada tahun depan.
Ekspektasi ini menjadi salah satu pendorong utama pergerakan harga emas dalam jangka pendek.
Perdagangan Sebelumnya
Pada perdagangan sehari sebelumnya atau pada penutupan Kamis, harga emas dunia bergerak turun tipis seiring pelaku pasar mencerna data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan. Kondisi ini mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi.
Analis komoditas City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menilai pelemahan harga emas cukup masuk akal setelah rilis data inflasi terbaru.
“Sekarang inflasi terlihat turun lebih cepat dari perkiraan. Hal ini mengurangi minat untuk membeli perlindungan terhadap inflasi. Emas selama ini menjadi lindung nilai utama inflasi, jadi pelemahannya bisa dimengerti setelah laporan CPI,” ujarnya.
Data menunjukkan, indeks harga konsumen (CPI) AS pada November naik 2,7 persen secara tahunan (year-on-year). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,1 persen.