Liputan6.com, Jakarta - Saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) masih mencatat kenaikan pada hari kedua setelah perdagangan saham perdana. Kenaikan harga saham SUPA tersebut juga masih masuk top gainers. Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis, (18/12/2025).
Mengutip data RTI, harga saham SUPA naik 24,68% ke posisi Rp 985 per saham. Harga saham SUPA dibuka menguat 195 poin ke posisi Rp 985. Saham SUPA berada di level tertinggi dan terendah Rp 985 per saham. Total frekuensi perdagangan 5.415 kali dengan volume perdagangan 1.511.083 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 162,1 miliar. Seiring kenaikan harga saham SUPA tersebut, kapitalisasi pasar tercatat Rp 33,39 triliun.
Advertisement
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah melemah. IHSG ditutup merosot 0,68% ke posisi 8.618,19. Indeks saham LQ45 turun 0,10% ke posisi 851,72.Sebagian besar indeks saham acuan bervariasi.
Pada perdagangan Kamis pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.730,70 dan level terendah 8.618,19. Sebanyak 411 saham melemah sehingga bebani IHSG. 252 saham menguat dan 138 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 2.755.436 kali dengan volume perdagangan saham 38 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 23,8 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16,706.
Dari 11 sektor saham, dua sektor saham menghijau yakni sektor saham consumer nonsiklikal naik 0,16% dan sektor saham keuangan menguat 0,08%.
Sementara itu, sektor saham siklikal tergelincir 2,18%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham teknologi melemah 2,05% dan sektor saham infrastruktur merosot 2,09%.
Selain itu, sektor saham energi tergelincir 1,63%, sektor saham basic terpangkas 0,86%, sektor saham industri merosot 0,22%. Lalu sektor saham kesehatan terpangkas 0,49%, sektor saham properti melemah 0,67% dan sektor saham transportasi merosot 0,02%.
Pendalaman Ekosistem Jadi Fokus Utama Superbank Setelah IPO
Sebelumnya, Presiden Direktur PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), Tigor M. Siahaan, membeberkan arah strategi Perseroan setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut dia, pencatatan saham bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari langkah lanjutan penguatan bisnis Superbank di Indonesia.
“Seperti saya katakan bahwa kami merasa bahwa listing hari ini adalah permulaan dari bagaimana kita melantai di bursa. Tapi ini continuation dari penetrasi kita terhadap ekosistem kita di Indonesia,” ujar Tigor dalam konferensi pers usai seremoni IPO Superbank, di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Rabu (17/12/2025).
Ia menjelaskan, hingga saat ini Perseroan telah memulai penetrasi ke sejumlah ekosistem, tetapi peluang pengembangan masih sangat terbuka, khususnya di ekosistem mitra strategis yang telah dimiliki Superbank.
"Kita sudah memulai penetrasi tersebut. Tapi masih banyak dan besar kolam yang belum kami sentuh di Grab dan OVO ekosistem. Juga di Emtek ekosistem,” katanya.
Maksimalkan Kolaborasi
Ke depan, Superbank akan melanjutkan strategi eksekusi dengan memaksimalkan kolaborasi bersama mitra ekosistem, terutama Grab dan OVO, sebagai pendorong pertumbuhan bisnis Perseroan.
Dalam memperdalam kolaborasi, Superbank mendorong integrasi produk secara lebih menyeluruh, salah satunya melalui layanan OVO Nabung. Melalui produk tersebut, pengguna dapat menjadi nasabah Superbank secara langsung di dalam aplikasi OVO tanpa perlu berpindah ke platform lain.
Pendekatan serupa juga tengah diupayakan di aplikasi Grab, di mana pengguna diharapkan dapat mengakses layanan perbankan Superbank langsung dari aplikasi Grab.
“Fokus kami ke depannya in terms of penetration tetap di ekosistem kita dulu, karena itu the low hanging fruit yang kita akan coba capai,” ujar Tigor.
Ia menambahkan, strategi menjadikan Superbank sebagai layanan yang dibutuhkan di dalam aplikasi mitra menjadi prioritas Perseroan. Pendekatan ini juga berpotensi diperluas ke mitra strategis lainnya seiring dengan penguatan ekosistem yang telah berjalan