Liputan6.com, Jakarta - Tren thrifting, atau kegiatan berburu pakaian bekas, kini semakin populer di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda yang menaruh perhatian pada isu lingkungan. Banyak yang meyakini bahwa dengan membeli barang secondhand, mereka telah berkontribusi positif dalam mengurangi limbah fesyen dan mendukung keberlanjutan bumi.
Namun, di Indonesia, fenomena thrifting ini juga dihadapkan pada tantangan regulasi ketat. Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 40 Tahun 2022 secara tegas melarang impor pakaian bekas, menimbulkan perdebatan di kalangan pelaku usaha dan konsumen.
Advertisement
Meski demikian, pertanyaan mendasar tetap relevan: apakah hanya dengan thrifting, kita sudah cukup untuk menyelamatkan lingkungan dari dampak industri fesyen yang masif? Penting untuk memahami lebih dalam efektivitas dan batasan dari praktik pembelian pakaian bekas ini. Jadi simak informasi selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (15/12/2025).
Thrifting Memang Berdampak Positif pada Lingkungan
Penelitian yang dilakukan oleh Astrid Klooster dan rekan-rekannya dalam Journal of Circular Economy menunjukkan bahwa thrifting memang memiliki dampak positif yang signifikan terhadap lingkungan. Studi ini menganalisis berbagai skenario konsumsi dan dampaknya.
Membeli baju bekas dapat mengurangi dampak lingkungan hingga 42% untuk perubahan iklim dan permintaan energi kumulatif. Potensi pengurangan dampak juga mencapai 42-53% untuk eutrofikasi air tawar, serta 35-53% untuk jejak kelangkaan air per penggunaan pakaian.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa penggunaan kembali (re-use) adalah strategi yang lebih unggul daripada daur ulang (recycling) dalam hierarki ekonomi sirkular. Daur ulang tekstil seringkali menghasilkan produk dengan kualitas lebih rendah, sementara teknologi daur ulang berkualitas tinggi masih dalam tahap pengembangan.
Dengan demikian, praktik thrifting secara langsung membantu memperpanjang umur pakai pakaian dan mengurangi kebutuhan akan produksi baru yang intensif sumber daya.
Thrifting Saja Tidak Cukup, Durasi Pakai Pakaian Lebih Penting
Meskipun thrifting membawa manfaat, studi Klooster dkk. juga mengungkapkan temuan kritis yang perlu diperhatikan. Berapa lama kita menggunakan baju ternyata lebih penting daripada sekadar membeli pakaian bekas.
Sebagai contoh, membeli dress bekas yang hanya dipakai 5 kali dapat memiliki dampak lingkungan yang lebih tinggi. Ini dibandingkan dengan membeli dress baru yang digunakan hingga 20 kali atau lebih. Dampak produksi awal pakaian sangat besar, sehingga semakin sering pakaian digunakan, semakin kecil dampak per penggunaannya.
Penelitian ini mengidentifikasi tiga jenis konsumen dan tiga skenario perilaku penggunaan pakaian. Hasilnya menunjukkan bahwa "pengguna terikat" (attached user) yang memakai pakaiannya selama mungkin, bahkan jika itu pakaian baru, memiliki dampak lebih rendah. Ini dibandingkan dengan "pengguna thrifting modis" (fashionable second-hand user) yang membeli bekas tapi hanya memakainya sebentar.
Pesan kuncinya adalah bahwa membeli bekas tapi boros dalam penggunaan sama saja tidak memberikan dampak positif signifikan bagi lingkungan. Keberlanjutan sejati terletak pada perpanjangan umur pakai setiap item pakaian.
Fase Produksi Pakaian Dominasi Dampak Lingkungan Global
Studi ini dengan jelas menunjukkan bahwa fase produksi pakaian mendominasi dampak lingkungan secara keseluruhan. Setidaknya 72% dampak lingkungan berasal dari fase produksi, mulai dari bahan baku, energi, air, hingga bahan kimia yang digunakan.
Industri tekstil bertanggung jawab atas sekitar 10% emisi gas rumah kaca global, menjadikannya salah satu penyumbang terbesar. Sistem fesyen saat ini masih sangat linear, di mana sebagian besar bahan yang digunakan berakhir sebagai limbah.
Tingkat daur ulang tekstil sangat rendah, bahkan kurang dari 1% serat secara global berasal dari tekstil daur ulang pra- dan pasca-konsumen pada tahun 2022. Ini berarti, thrifting hanya menggeser beban dari satu konsumen ke konsumen lain. Namun, praktik ini tidak secara fundamental mengubah sistem produksi yang boros sumber daya dan menghasilkan banyak limbah.
Langkah Konkret Menuju Fesyen Berkelanjutan di Samping Thrifting
Melihat fakta-fakta ini, jelas bahwa thrifting saja tidak cukup untuk mengatasi permasalahan lingkungan industri fesyen. Kita memerlukan pendekatan yang lebih holistik dan perubahan perilaku yang lebih mendalam dari setiap individu.
Berikut adalah beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi pada fesyen yang lebih berkelanjutan:
- Kurangi frekuensi belanja, baik pakaian baru maupun bekas. Setiap pembelian, meskipun bekas, tetap memiliki jejak karbon dan energi terkait proses pengumpulan, penyortiran, dan distribusi.
- Pilih kualitas dan pakai lebih lama. Pakaian baru yang dirawat dengan baik dan dipakai puluhan kali akan jauh lebih ramah lingkungan. Prioritaskan daya tahan dan gaya klasik yang tidak lekang oleh waktu.
- Jual atau donasikan baju yang masih layak ke jalur reuse. Pastikan pakaian memiliki "kehidupan kedua" melalui penjualan kembali atau donasi, bukan berakhir di tempat sampah.
- Dukung brand yang transparan soal sirkularitas dan umur produk. Pilihlah merek yang berkomitmen pada praktik berkelanjutan dan menggunakan bahan ramah lingkungan.
- Tekan industri dan pemerintah untuk sistem yang lebih sirkular. Dukung kebijakan yang mendorong produsen bertanggung jawab atas limbah tekstil mereka dan investasi dalam teknologi daur ulang yang lebih baik.
Intinya, perubahan nyata datang dari kombinasi kesadaran konsumen dan inovasi industri. Setiap tindakan kecil memiliki dampak kumulatif yang besar.
Thrifting adalah langkah yang baik dan penting dalam upaya menuju fesyen yang lebih berkelanjutan. Namun, praktik ini bukanlah cara instan menyelamatkan lingkungan dari dampak industri fesyen.
Perilaku konsumen, terutama mengurangi konsumsi secara keseluruhan dan memperpanjang umur pakai pakaian, adalah kunci sesungguhnya. Kita perlu lebih kritis dan bertanggung jawab, tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memahami dampak dari setiap pilihan yang kita buat.
FAQ
Q: Apakah thrifting selalu lebih baik daripada beli baru?
A: Tidak selalu. Jika pakaian bekas jarang dipakai, dampaknya bisa lebih buruk daripada pakaian baru yang digunakan intensif dan lama. Kuncinya perpanjang umur pakai.
Q: Bahan apa yang paling bermasalah?
A: Poliester dan kapas memiliki dampak lingkungan signifikan. Studi menunjukkan dress poliester memiliki dampak tertinggi per penggunaan karena berat dan frekuensi penggunaan rendah.
Q: Apakah mencuci baju bekas berdampak besar?
A: Fase penggunaan (mencuci, mengeringkan, menyetrika) hanya menyumbang 2–22% dari total dampak lingkungan. Dampak terbesar tetap berasal dari fase produksi.
Q: Bagaimana cara thrifting yang benar-benar berkelanjutan?
A: Thrifting yang berkelanjutan berarti membeli barang yang benar-benar Anda butuhkan, berencana memakainya berkali-kali, merawatnya dengan baik, dan memastikan pakaian tersebut memiliki "kehidupan kedua" setelah Anda selesai menggunakannya.