Liputan6.com, Jakarta - Harga kripto teratas memerah di pekan kedua Desember 2025 ini. Bitcoin Cs terpantau masih tertahan di zona merah, meskipun ada beberapa dalam zona hijau dalam sepekan terakhir.
Mengutip Coinmarketcap, Sabtu (13/12/2025), harga Bitcoin terpantau masuk zona merah. Dalam satu hari terakhir, Bitcoin turun 2,52 persen meski menguat 1,18 persen sepekan. Harga BTC bertengger di USD 90.341 per koin atau setara Rp 1,5 miliar (asumsi kurs Rp 16.633).
Advertisement
Ethereum (ETH) juga terpantau melemah 4,70 persen dalam 24 jam terakhir dan naik 2,17 persen dalam sepekan. ETH bertengger di harga Rp 51,34 juta per koin.
Kemudian, nasib serupa dialami XRP yang juga turun 1,48 persen dalam sehari dan melemah 1,27 persen sepekan. XRP diperdagangkan Rp 33.266 per koin.
Sementara itu, harga kripto hari ini untuk Binance coin (BNB) juga terpantai melemah. BNB turun 0,62 persen sehari dan turun 0,14 persen dalam sepekan. BNB dibanderol dengan harga Rp 14,6 juta per koin.
Harga Solana (SOL) juga masuk zona merah dengan penurunan 2,96 persen dalam sehari dan turun 0,37 persen sepekan. Harga SOL bertengger di Rp 2,19 juta per koin.
Harga ADA Zona Merah
Lalu, Cardano (ADA) juga masuk zona merah. ADA melemah 3,85 persen dalam sehari dan turun 1,61 persen sepekan. Harga ADA berada pada level Rp 6.806 per koin.
Koin Meme Dogecoin (DOGE) juga ada di zona merah. Dalam satu hari terakhir DOGE turun 2,65 persen dan turun 1,73 persen sepekan. Ini membuat DOGE diperdagangkan di level Rp 2.278 per token.
Stablecoin Tether (USDT) masih stabil di USD 1 atau turun 0,01 persen dalam sehari maupun sepekan. Sementara, USD coin (USDC), pada hari ini dijual USD 0,99, menandakan kondisi yang stabil.
Adapun untuk keseluruhan kapitalisasi pasar kripto hari ini berada di level USD 3,07 triliun atau setara Rp 51.065 triliun. Angka ini turun 2,44 persen.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Pertumbuhan Treasury Bitcoin Melambat di 2025, Ini Penyebabnya
Sebelumnya, pertumbuhan perusahaan yang menempatkan Bitcoin sebagai bagian dari aset kas atau corporate treasury menunjukkan tanda-tanda perlambatan pada 2025. Meski sebanyak 117 perusahaan baru tercatat menambahkan BTC ke dalam neraca mereka tahun ini, lajunya tidak sekencang periode adopsi besar-besaran pada 2020–2021 maupun fase pemulihan 2023–2024.
Dikutip dari coinmarketcap, Jumat (12/12/2025), data ini mengindikasikan bahwa minat terhadap Bitcoin masih ada, terutama dari institusi yang berorientasi jangka panjang. Namun fase akumulasi agresif tampaknya mulai mereda. Faktor seperti ketidakpastian ekonomi global, perdebatan regulasi, serta meningkatnya sikap hati-hati pelaku pasar diduga menjadi pemicu perlambatan tersebut.
Pada puncak tren FOMO institusi beberapa tahun lalu, perusahaan seperti MicroStrategy, Tesla, hingga Square gencar membeli BTC. Momentum itu berlanjut pada 2023–2024 ketika Bitcoin bangkit dari kondisi bear market dan minat terhadap ETF kembali mendorong rasa ingin tahu investor institusi.
Namun memasuki 2025, meski harga Bitcoin bertahan di level support penting, jumlah perusahaan baru yang masuk jauh lebih sedikit. Sebanyak 117 perusahaan baru tetap menjadi perkembangan positif, tetapi kecepatannya lebih lambat dari perkiraan, bahkan di tengah solusi kustodian yang makin jelas dan adopsi publik yang semakin luas.
Wait and See
Perlambatan ini menunjukkan banyak perusahaan kini berada dalam posisi “wait and see”. Mereka menunggu perkembangan ekonomi global, arah kebijakan moneter, serta kepastian regulasi Bitcoin sebelum berkomitmen menambah aset kripto dalam skala besar.
Meski demikian, melambatnya pertumbuhan Bitcoin Treasury tidak berarti minat institusi menghilang. Banyak perusahaan kini lebih fokus pada produk keuangan berbasis BTC ketimbang memegang langsung asetnya. Minat terhadap tokenized treasuries, integrasi stablecoin, hingga eksposur ke DeFi menjadi alternatif yang semakin dilirik.
Artinya, perlambatan ini bisa saja mencerminkan pasar yang semakin matang — bergeser dari adopsi berbasis hype menuju strategi jangka panjang yang lebih terstruktur dalam pemanfaatan aset kripto.