Survei UOB: Konsumen RI Selektif Belanja tapi Tetap Ingin Liburan

Meskipun konsumen Indonesia merasakan tekanan kenaikan biaya, mereka tetap optimis terhadap prospek kondisi makro Indonesia.

oleh NurmayantiDiterbitkan 03 Desember 2025, 19:28 WIB
Girl math sebagai tren untuk belanja dengan bersenang-senang./copyright unsplash/Vitaly Gariev

Liputan6.com, Jakarta Konsumen Indonesia kian selektif atau semakin berhati-hati dalam berbelanja. Hal ini didorong meningkatnya kekhawatiran seputar pengeluaran rumah tangga dan komitmen keuangan jangka panjang. Meski demikian, mereka tetap berkeinginan memenuhi pengeluaran untuk gaya hidup dan pengalaman seperti liburan.

Ini terkuak dalam survei UOB ASEAN Consumer Sentiment Study (ACSS) 2025 terbaru. Di mana menemukan jika meskipun banyak konsumen yang terus berbelanja untuk pengalaman gaya hidup yang bermakna.

Indeks Sentimen Konsumen ASEAN (Indeks) UOB yang baru diluncurkan juga mencatat sentimen keseluruhan Indonesia di angka 55, turun dari 58 tahun sebelumnya, mencerminkan optimisme yang tetap waspada di tengah tekanan biaya yang masih berlangsung.

Indeks ini berasal dari enam indikator utama yang mengukur pandangan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan masa depan, serta keuangan pribadi mereka.

Pada bagian keuangan pribadi, sub-indeks terkait sentimen konsumen terhadap keuangan pribadi di masa depan, kekhawatiran atas komitmen keuangan jangka panjang, kenaikan pengeluaran rumah tangga, dan pemotongan gaji telah turun enam poin menjadi 53 poin dibandingkan tahun lalu.

Mengenai kondisi makro, hampir tiga dari lima orang Indonesia berpandangan positif terhadap kondisi ekonomi saat ini dan proporsi yang sama tetap optimis terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang, dengan sedikit peningkatan dibandingkan tahun 2024, masing-masing di 55 persen dan 56 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun konsumen merasakan tekanan kenaikan biaya, mereka tetap optimis terhadap prospek kondisi makro Indonesia. 

“Memahami nasabah menjadi prioritas utama kami. Konsumen Indonesia lebih cermat dalam hal pengeluaran. Mereka menginginkan nilai, juga ingin menikmati pengalaman yang bermakna," ujar Cristina Teh Tan, Consumer Banking Director, UOB Indonesia di Jakarta.

Dia mengatakan jika pihaknya berupaya membantu nasabah dalam membuat keputusan keuangan yang tepat. "Kami bertujuan membantu nasabah dalam mengelola pengeluaran dengan bijak, dan di saat bersamaan tetap dapat menikmati hal-hal berharga dalam hidup.”

 

Belanja cermat membentuk keputusan pembelian sehari-hari

Banyak masyarakat Indonesia, terutama Gen X, memperketat kebiasaan belanja. Studi menemukan bahwa 59 persen responden merasa inflasi berdampak negatif pada daya beli rumah tangga mereka, mendorong mereka untuk memprioritaskan kebutuhan pokok dan lebih selektif terhadap barang-barang opsional.

Hal ini terlihat dari perubahan terbesar dalam kebiasaan belanja konsumen selama setahun terakhir, yang mencakup hampir separuh responden membeli lebih banyak produk saat diskon dan 43 persen membeli lebih banyak produk multifungsi untuk memaksimalkan nilai.

Kehati-hatian ini didorong oleh meningkatnya kekhawatiran, 48 persen konsumen khawatir tentang komitmen keuangan mereka pada tahun 2025, naik dari 39 persen di tahun 2024, menyoroti meningkatnya fokus pada kehati-hatian finansial.

Terlepas dari kehati-hatian ini, pengeluaran untuk gaya hidup dan pengalaman terus meningkat. Konsumen Indonesia menunjukkan minat yang berkelanjutan terhadap pengeluaran untuk pengalaman, termasuk perjalanan liburan, santapan mewah, konser, acara, dan festival, dengan 34 persen melaporkan peningkatan pengeluaran untuk kategori-kategori ini pada tahun 2025, naik dari 20 persen tahun lalu.

Konsumen yang lebih muda menunjukkan preferensi kuat terhadap pengalaman tersebut, dengan 85 persen Gen Z memandang hal ini penting bagi kesejahteraan mereka, yang mencerminkan keseimbangan antara pengeluaran yang bijaksana dan kesenangan pribadi.

 

Kebiasaan finansial Bertambah Seiring Berkembangnya Pembayaran Digital

Kesadaran finansial juga meningkat di kalangan konsumen Indonesia. Tiga dari empat responden menabung lebih dari 10 persen dari pendapatan bulanan mereka, naik dari 70 persen pada tahun 2024, menunjukkan peningkatan berkelanjutan dalam disiplin keuangan pribadi.

Hampir sembilan dari 10 orang memiliki dana darurat, dan 31 persen di antaranya menyatakan memiliki dana darurat yang cukup untuk menutupi pengeluaran setidaknya selama tujuh bulan. Keyakinan dalam pengelolaan keuangan pribadi tetap kuat, dengan sembilan dari 10 orang Indonesia menganggap diri mereka mampu mengelola keuangan pribadi secara efektif.

Pembayaran digital terus mendominasi transaksi harian. ACSS 2025 menunjukkan bahwa pemindaian QR untuk membayar, dompet elektronik, dan aplikasi mobile banking merupakan metode pembayaran yang paling disukai konsumen Indonesia, kemungkinan didorong oleh kenyamanan, kemudahan penggunaan, dan kemampuan untuk melacak pengeluaran secara digital.

Meningkatnya penggunaan pembayaran digital mendukung penguatan kebiasaan finansial, memungkinkan masyarakat Indonesia untuk memantau dan mengelola pengeluaran harian mereka secara lebih efektif.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya