Liputan6.com, Jakarta - Kendaraan listrik terus mengalami peningkatan pesat di berbagai wilayah, terutama di kota-kota besar. Dalam beberapa tahun mendatang, industri ini diprediksi akan mengalami lompatan teknologi besar melalui hadirnya baterai solid-state, yang kini paling ramai dibicarakan di dunia otomotif.
Baterai solid-state menawarkan banyak keunggulan dibandingkan baterai lithium-ion yang digunakan saat ini.
Advertisement
Teknologi ini menggunakan elektrolit padat untuk memisahkan anoda dan katoda, berbeda dengan baterai konvensional yang memakai elektrolit cair.
Perubahan sederhana ini justru menjadi kunci untuk menghadirkan pengisian daya jauh lebih cepat, jarak tempuh lebih panjang, dan keamanan yang lebih baik, karena material padat lebih stabil terhadap panas dan risiko kebakaran.
Keunggulan terbesar baterai solid-state terletak pada kepadatan energinya. Dengan kapasitas yang lebih besar dalam ukuran yang sama, baterai ini memungkinkan mobil listrik menempuh jarak yang lebih jauh.
Tak heran, teknologi ini dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi keterbatasan baterai EV modern.
Disitat dari laman cars, saat ini banyak produsen masih berkutat di tahap riset, seperti Tiongkok yang menjadi negara yang paling maju dalam implementasi solid-state.
Beberapa model seperti IM Motors L6, NIO ET5, dan NIO ET7 sudah menggunakan teknologi tersebut dan mampu menempuh jarak lebih dari 960 km sekali pengisian daya.
Pencapaian ini membuat pabrikan Tiongkok selangkah lebih depan dalam perlombaan teknologi baterai.
Produsen Kendaraan Listrik yang Gencar Merealisasikan Baterai Solid-state
Produsen besar lainnya juga berlomba mengejar. BMW mengumumkan kerja sama dengan Samsung SDI dan perusahaan rintisan Solid Power untuk menguji prototipe BMW i7 bertenaga baterai solid-state.
Meski belum diproduksi massal, langkah ini menjadi sinyal bahwa industri Eropa tak ingin tertinggal.
Dari Jepang, Nissan juga mengembangkan baterai solid-state secara mandiri dan menargetkan teknologi ini hadir di kendaraan mereka pada 2028, bahkan termasuk model hybrid.
Hyundai juga bergerak, meskipun mereka memperkirakan komersialisasi baterai solid-state baru realistis setelah 2030.
Kabar paling mencuri perhatian datang dari Mercedes-Benz. Bersama perusahaan rintisan Factorial Energy, Mercedes berhasil menguji prototipe EQS yang mampu menempuh 1.200 km dalam sekali pengisian daya.
Jika pengembangannya berjalan mulus, Mercedes berharap teknologi ini bisa dipakai di kendaraan produksi massal sebelum akhir dekade.
Meski persaingannya ketat, pengembangan baterai solid-state tetap memerlukan waktu panjang. Banyak tantangan teknis dan biaya produksi yang masih tinggi.
Namun, dari berbagai langkah agresif pabrikan global, jelas bahwa baterai solid-state adalah masa depan kendaraan listrik, dan perlombaan menuju teknologi ini baru saja dimulai.