5 Anak di Riau Meninggal Akibat Flu Babi, Kondisi Lingkungan dan Gizi Kurang Jadi Sorotan

Ada 224 kasus ISPA di Dusun Datai, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Dari angka itu, ada lima anak yang meninggal dunia akibat flu babi.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 26 November 2025, 10:44 WIB
Ilustrasi 5 Anak di Riau Meninggal karena Flu Babi. Foto: Ade Nasihudin Liputan6.com (9/11/2020).

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan bahwa ada peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Dusun Datai, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Per 23 November 2025 tercatat 224 warga yang kena ISPA, lalu 5 diantaranya meninggal dunia berusia anak-anak.

Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, lima anak yang meninggal positif terinfeksi Influenza A/H1pdm09 dan Haemophilus influenzae atau yang dikenal juga dengan flu babi.

Menurut Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, Sumarjaya, kondisi lingkungan di Dusun Datai yang padat penduduk serta sanitasi yang kurang baik serta paparan asap kayu bakar setiap hari membuat penyakit pernapasan rentan menular di sana.

“Kami menemukan rumah padat, ventilasi minim, nyamuk banyak, dan warga hidup dalam paparan asap kayu bakar setiap hari. Situasi seperti ini membuat penyakit pernapasan lebih mudah menular, terutama pada balita,” kata Sumarjaya dalam keterangan tertulis pada 25 November 2025.

Berdasarkan penyelidikan epidemiologi Dusun Datai minim fasilitas kesehatan dasar. Lalu, rumah-rumah di sana tidak memiliki MCK (mandi cuci kakus), tidak ada tempat pembuangan sampah. Kemudian, ventilasi rumah buruk dan aktivitas memasak dengan kayu bakar dilakukan di ruangan yang sama dengan tempat tidur.

Selain masalah lingkungan, ditemukan pula banyak warga dengan gizi kurang dan cakupan imunisasi dasar yang rendah.

Mengatasi Masalah Medis Saja Tak Cukup, Perlu Ada Perbaikan Sanitasi dan Gizi

Untuk mengatasi masalah ini, tidak bisa hanya dengan mengatasi secara medis tapi juga perbaikan dalam kondisi lingkungan.

“Jika kondisi sanitasi, gizi, dan kebiasaan sehari-hari tidak diperbaiki, penularan akan terus berulang,” kata Sumarjaya.

Atas kejadian itu, Kemenkes bekerja sama dengan pemerintah daerah melakukan pengobatan massal dan memperkuat intervensi gizi. 

Lalu, pada balita dan ibu hamil ada pemberian makanan tambahan (PMT), vitamin, dan pemantauan kesehatan.

Guna meminimalisasi penularan penyakit menular, gencar juga dilakukan edukasi terkait etika batuk, penggunaan masker, dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Tim kesehatan juga melakukan pengambilan sampel tambahan untuk memastikan tidak ada patogen lain yang beredar, mengingat variasi gejala dan temuan multipatogen sebelumnya.

 

Bakal Ada Perbaikan Lingkungan

Sumarjaya menekankan bahwa penanganan tidak berhenti pada pengobatan kasus, tetapi memastikan perbaikan lingkungan dan akses kesehatan. Dua aspek itu bakal dibenahi secara bertahap di Dusun Datai dan tujuh dusun terisolir lainnya.

“Kami ingin memutus siklus kerentanan ini. Intervensi lingkungan dan gizi adalah kunci agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tuturnya.

Terkait perbaikan lingkungan, Kemenkes bersama pemerintah daerah mulai menyusun pembuatan tempat pembuangan sampah, kerja bakti pembersihan area rawan nyamuk, hingga pemisahan area memasak dan area tidur di rumah warga.

Lalu, media untuk edukasi mengenai pola hidup bersih dan sehat juga tengah disiapkan ditujukan untuk anak-anak di sekolah terpencil. 

 

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya