Reaksi Tiap Orang pada Parfum Bisa Berbeda, Ternyata Ini Alasannya

Bagi sebagian orang aroma parfum yang kuat bisa memicu rasa mual, bahkan migrain yang menyakitkan. Sementara bagi yang lain aroma itu terasa wangi.

oleh MasniDiterbitkan 12 Januari 2026, 11:00 WIB
Aroma tersebut begitu menawan (Foto: marymarkevich/Freepik)

Liputan6.com, Jakarta- Bagi sebagian orang, aroma parfum yang kuat bisa memicu rasa mual, bahkan migrain. Sementara, bagi orang lain aroma tersebut begitu menawan dibuatnya.

Lalu, mengapa reaksi terhadap aroma bisa begitu berbeda pada setiap orang?  

Penelitian menemukan setiap orang memiliki perbedaan gen dalam tubuhnya, hal itulah yang memengaruhi cara mencium serta merasakan suatu aroma. Jadi, wajar saja jika ada bau tertentu yang terasa sangat kuat atau tidak nyaman bagi Anda, sementara bagi orang lain itu tidak terlalu terganggu.

“Semua orang memiliki kelompok reseptor penciuman yang sama, tetapi gen pada setiap orang berbeda sehingga ada reseptor tertentu yang bekerja lebih aktif pada sebagian orang dibandingkan yang lain,” kata ahli psikolog kognitif dan peneliti dari Monell Chemical Senses Center, Pamela Dalton mengutip Womens Health.

Kemudian, ketika mencium parfum yang sama dengan teman, hasilnya bisa terasa berbeda. Hal itu karena sebagian orang ada yang tidak bisa menangkap seluruh aromanya karena tidak memiliki reseptor tertentu. Akibatnya, mereka hanya mencium bagian bau yang kurang nikmat di hidung, sementara orang lain mencium aroma lengkapnya.

Ketika Aroma Menyerang Saraf

Ketika kita memakai parfum, mungkin ada sebagian orang yang tidak suka, bahkan bisa sampai merasa sakit secara fisik ketika menciumnya. Dalam kondisi seperti ini, penyebabnya tidak selalu berasal dari indra penciuman saja, tetapi bisa melibatkan hal lain di dalam tubuh.

Saraf trigeminal merupakan bagian dari sistem saraf yang luas, memiliki fungsi untuk mendeteksi tekanan, suhu, dan rasa sakit di rongga hidung dan wajah. Ketika sebuah wewangian mengandung bahan yang merangsang saraf ini, seperti mentol, pemutih, atau aroma sintetis yang sangat kuat, dapat menimbulkan sensasi menyengat, kesemutan hingga sakit kepala.

“Saya adalah salah satu orang-orang itu, saat saya masuk ke taksi dengan pengharum ruangan atau melewati seseorang yang memakai cologne yang kuat, saya akan langsung terserang migran” ujar Direktur Stanford Intiative to Cure Smell and Taste Loss dari Stanford University, Zara Patel.

Patel juga menjelaskan, beberapa orang bisa lebih sensitif dikarenakan alergi, atau peradangan di saluran hidung bisa menjadi penyebabnya. 

Kekuatan Memori Emosional

Selain dari faktor hidung dan saraf, otak memberikan respon emosional, hal ini yang membuat seseorang mungkin membenci aroma tertentu. 

Setelah tercium, aroma akan diproses di bagian otak yang juga mengatur memori dan emosi. Karena itulah bau tertentu bisa langsung membuat kita teringat suatu kenangan atau merasakan emosi tertentu. Efek nostalgia dari aroma ini memang sangat kuat.

“Kami kini punya lebih banyak bukti bahwa kenangan dan pengalaman masa lalu lebih berpengaruh terhadap apakah seseorang menyukai atau tidak menyukai suatu aroma, daripada faktor biologis,” ujar Dalton.

Selain itu, otaklah yang menentukan apakah suatu bau terasa enak atau tidak enak, berdasarkan kenangan atau pengalaman yang pernah dialami. Jadi, penilaian tersebut bukan karena baunya memang secara alami baik atau buruk, tetapi karena apa yang diingat oleh otak.

“Saya selalu menduga ini terkait kembali dengan pengalaman awal dengan ritual keagamaan di mana kemenyan digunakan,” ujar ahli parfume sekaligus pendiri rumah parfume house Herb & Root, Julia Kahlig Garuba.

“Bagi sebagian orang, hal itu sangat menyenangkan tetapi tidak bagi yang lain, hal itu dapat memicu ketegangan” tambahnya.

Budaya Dapat Membentuk Preferensi Aroma

Selain faktor biologi dan ingatan, selera seseorang terhadap aroma juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia tumbuh. Waktu dan tempat seseorang dibesarkan dapat membentuk kebiasaan dan kesukaan tertentu. Karena itu, ada pola yang cukup jelas dalam preferensi wewangian jika dilihat dari kelompok atau latar belakang demografis tertentu

Generasi Baby Boomers dan Gen X biasanya menyukai aroma bunga yang lembut, seperti lily of the valley, karena parfum jenis itu sangat populer pada era 50 hingga 60-an. Sementara itu, generasi milenial cenderung menyukai aroma manis seperti vanila atau tonka, yang sering mereka kenal dari body mist yang populer saat mereka remaja.

“Di Timur Tengah dan Asia Selatan, aroma seperti oud, kayu cendana, dan mawar sudah menjadi bagian penting dari budaya setempat,” jelas Garuba.

 “Sementara itu, di beberapa wilayah Amerika Selatan, banyak orang lebih menyukai aroma buah yang segar dan berair karena mengingatkan mereka pada suasana rumah dan keluarga,” tambahnya.

Berdasarkan review studi 2022 dari Current Biology, peneliti yang dilakukan pada 10 kelompok masyarakat di berbagai negera menunjukan, sebagian besar orang punya kesamaan dalam menilai bau mana yang enak dan tidak enak. 

Selain itu para peneliti juga menunjukkan, secara biologi memberi kita dasar yang sama dalam menilai aroma. Namun, selera dari masing-masing orang tetap bisa berbeda karena dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya.

 

 

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya