Harga Minyak Mentah Indonesia Turun di Oktober 2025, Tertekan Sentimen Global

Penurunan harga minyak mentah Indonesia dipengaruhi oleh tercapainya gencatan senjata antara Israel dengan Hamas.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 21 November 2025, 16:00 WIB
Suasana kilang minyak Pertamina Refenery Unit IV Cilacap, Rabu (7/2). Produk utama yang dihasilkan kilang Cilacap berupa produk BBM atau gasoline, naphtha, kerosine, avutur, solar LSWR, minyak bakar, LPG, pelumas dasar. (Liputan6.com/JohanTallo)

Liputan6.com, Jakarta - Rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) mengalami penurunan sebesar USD 3,19 per barel, dari USD 66,81 per barel pada September 2025 menjadi USD 63,62 per barel per Oktober 2025.

Beberapa faktor jadi penyebab harga minyak mentah utama merosot di pasar internasional. Antara lain, kesepakatan negara-negara pengekspor minyak (OPEC+) yang merencanakan peningkatan suplai minyak untuk November 2025 sebesar 137 ribu barel per hari, di tengah kekhawatiran pasar atas kelebihan pasokan minyak global.

Penetapan ICP Oktober 2025 sebesar USD 63,62 per barel ini tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 351.K/MG.01/MEM.M/2025 tentang Harga Minyak Mentah Bulan Oktober 2025 tanggal 10 November 2025.

"Penurunan ketegangan geopolitik timur tengah dengan tercapainya gencatan senjata antara Israel dengan Hamas telah menurunkan kekhawatiran pasar pada kelancaran pasokan minyak dari timur tengah, turut memengaruhi penurunan harga minyak mentah," kata Direktur Jenderal Migas Laode Sulaeman di Jakarta, Jumat (20/11/2025).

Lebih lanjut, Laode menjelaskan terkait pasokan minyak mentah dunia berdasarkan laporan OPEC, dimana produksi minyak mentah DoC pada September 2025 meningkat sebesar 630 ribu barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya, dengan rata-rata 43,05 juta barel per hari.

Selain itu, Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan bahwa pengolahan minyak mentah global diperkirakan mencapai titik terendah musiman sebesar 81,6 juta barel per hari pada Oktober 2025. Hampir 4 juta barel per hari di bawah level rekor pengolahan pada Juli 2025.

 

Alasannya

Kegiatan warga sekitar di dekat kilang minyak Pertamina Refenery Unit IV Cilacap, Rabu (7/2). Kilang Pertamina RU IV Cilacap berkapasitas produksi terbesar mencapai 348.000 barrel per hari. (Liputan6.com/JohanTallo)

Pengolahan minyak mentah global yang lesu ini terjadi lantaran pemeliharaan berkala kilang minyak, terutama di kawasan belahan bumi bagian utara.

"Faktor lain yang memengaruhi penurunan minyak mentah bulan Oktober 2025 adalah tren peningkatan nilai tukar mata uang US dolar terhadap mata uang utama Dunia di bulan Oktober turut menekan harga minyak dunia," imbuh Laode.

Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah selain disebabkan oleh faktor-faktor tersebut, juga dipengaruhi oleh produsen utama minyak, Arab Saudi, yang memotong harga penjualan resmi minyak mentah (OSP) untuk para pembeli di Asia.

"Langkah ini dilakukan di tengah permintaan yang melemah di kawasan tersebut dan penurunan margin kilang. Harga minyak Arab Light untuk bulan Oktober dipotong sebesar USD 1,40 per barel," jelas Laode.

"Selain itu penurunan tersebut, diakibatkan oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok yang turut menekan pertumbuhan ekonomi regional," pungkas dia.

 

Harga Rata-Rata Minyak Mentah Utama

Berikut daftar lengkap perkembangan penurunan harga rata-rata minyak mentah utama pada Oktober 2025 dibandingkan September 2025:

  • Dated Brent turun sebesar USD 3,27 per bbl dari USD 68,02 per bbl menjadi USD 64,75 per bbl
  • WTI (Nymex) turun sebesar USD 3,46 per bbl dari USD 63,53 per bbl menjadi USD 60,07 per bbl
  • Brent (ICE) turun sebesar USD 3,63 per bbl dari USD 67,58 per bbl menjadi USD 63,95 per bbl
  • Basket OPEC turun sebesar USD 5,25 per bbl dari USD 70,39 per bbl menjadi USD 65,14 per bbl
  • Rata-rata ICP minyak mentah Indonesia turun sebesar USD 3,19 per bbl dari USD 66,81 per bbl menjadi USD 63,62 per bbl

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya