Zebrafish dan Medaka, Ikan-Ikan Kecil yang Bisa Bantu Penelitian Obat Skala Besar

Kemajuan pesat riset biomedis menuntut kehadiran hewan model yang efisien, relevan secara genetik, dan responsif terhadap teknologi molekuler terkini, peneliti sebut zebrafish dan medaka menjawab kebutuhan tersebut.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 21 November 2025, 07:00 WIB
Zebrafish dan Medaka, Ikan-Ikan Kecil yang Bisa Bantu Penelitian Obat Skala Besar. (Dok: BRIN).

Liputan6.com, Jakarta Dua spesies ikan air tawar yakni zebrafish (Danio rerio) dan medaka (Oryzias spp) menjadi sobat baru peneliti karena dapat dijadikan hewan model untuk meneliti obat.

“Keduanya menjadi model penting dalam kajian biologi perkembangan, genetika, penyakit metabolik, toksikologi, hingga penemuan obat,” kata Kepala Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) NLP Indi Dharmayanti dalam webinar Penggunaan Ikan Zebrafish dan Medaka sebagai Model dalam Riset Biomedis pada Selasa (11/11/2025).

Indi menyampaikan, kemajuan pesat riset biomedis menuntut kehadiran hewan model yang efisien, relevan secara genetik, dan responsif terhadap teknologi molekuler terkini. Dan kedua ikan itu dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

Maka dari itu, Indi menekankan pentingnya memperkuat pemahaman mengenai pemeliharaan, karakteristik biologis, serta aplikasi penelitian dua spesies ini.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Pusat Riset Biomedis BRIN, Salim Arrokhman, menambahkan, pemilihan hewan model yang tepat merupakan langkah fundamental untuk memahami mekanisme penyakit dan mengembangkan terapi. Zebrafish memiliki sejumlah keunggulan biologis. Embrionya transparan sehingga proses pembentukan organ dapat diamati dengan jelas.

Perkembangan jantung pada spesies ini berlangsung sangat cepat. Hanya sehari setelah pembuahan, jantung sudah mulai berdetak.

“Ini jauh lebih cepat dibandingkan manusia yang membutuhkan 22 hari atau tikus yang membutuhkan 10 hari,” tutur Salim.

 

Bantu Penelitian Skala Besar dalam Waktu Singkat

Embrio zebrafish menetas dalam dua hingga tiga hari, memungkinkan penelitian skala besar dengan waktu relatif singkat.

Ukuran kecil ikan ini memungkinkan pemanfaatan format 96-well plate, sehingga ribuan senyawa obat dapat disaring dengan efisien. Hal ini terbukti penting dalam penelitian penemuan obat, misalnya pada studi penyaringan 4.200 senyawa untuk memperbaiki fenotipe mutasi plakoglobin (protein).

“Hasilnya kemudian diuji pada tikus dan menunjukkan pemulihan fungsi jantung,” ujarnya.

Zebrafish mampu mendeteksi hingga 87 persen senyawa teratogenik hanya dalam lima hari, jauh lebih efisien dibandingkan pengujian pada mamalia,” tambah Salim.

Ia menyimpulkan zebrafish menjadi jembatan ideal antara uji in-vitro dan mamalia karena memadukan efisiensi dan kompleksitas fisiologis vertebrata.

 

Medaka Miliki Karakteristik Biologis yang Dukung Penelitian

Sementara itu, Suhaila Rusni dari International Islamic University Malaysia menjelaskan medaka memiliki karakteristik biologis yang sangat mendukung penelitian genetika dan penyakit metabolik.

Melalui teknologi CRISPR/Cas9, tim peneliti berhasil melakukan gen knockout (menonaktifkan gen untuk mengetahui perannya) terhadap gen cytochrome P450 1a (cyp1a/gen yang mengkodekan protein). Hasilnya, ikan medaka yang kehilangan gen tersebut menunjukkan karakteristik serupa penderita diabetes, seperti kenaikan kadar glukosa darah dan pembesaran hati. Model ini dinilai efisien untuk studi metabolisme lipid, regulasi glukosa, serta pengembangan pendekatan diagnosis dan terapi penyakit metabolik.

Suhaila menambahkan, medaka berpotensi besar dalam riset biomedis lintas bidang, mulai dari toksikologi, metabolisme obat, hingga penyakit yang berkaitan dengan kesehatan manusia dan lingkungan.

“Penemuan ini membuka peluang untuk memperluas penggunaan medaka sebagai organisme model di Asia Tenggara,” ucapnya.

Webinar ini menegaskan posisi zebrafish dan medaka sebagai dua hewan model penting yang mampu menjawab kebutuhan riset biomedis modern. Optimalisasi zebrafish dan medaka dinilai dapat mempercepat penemuan obat, meningkatkan relevansi riset biomedis nasional, serta mendukung upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya