RUU Pendanaan Donald Trump Bikin Harga Emas Melemah, Apa Hubungannya?

Berikut sentimen yang akan mempengaruhi harga emas.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 16 November 2025, 20:27 WIB
Seorang pelanggan (kiri) memeriksa gelang emas selama festival Hindu 'Akshaya Tritiya', hari keberuntungan dalam kalender Hindu untuk membeli barang-barang berharga, di ruang pamer perhiasan di Chennai, India. Membeli emas adalah kegiatan yang populer di Akshaya Tritiya, karena ini adalah simbol utama kekayaan dan kemakmuran. (Arun SANKAR / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia pada Sabtu pagi ditutup di USD 4.084.000, sementara logam mulia domestik berada di level Rp 2.353.000 per gram.

Pengamat ekonomi dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan harga emas dunia pada Sabtu pagi ditutup di USD 4.084, sementara logam mulia domestik berada di level Rp 2.353.000 per gram tidak terjadi tanpa sebab. Menurutnya, salah satu pemicu utama adalah perkembangan politik di Amerika Serikat, khususnya setelah RUU pendanaan federal disahkan oleh Presiden Donald Trump.

"Ada dua faktor yang mempengaruhi harga emas Dunia ini mengalami penurunan yang pertama adalah setelah RUU pendanaan disahkan oleh Trump rupanya baru berlaku itu di hari Senin Minggu depan," kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (16/11/2025).

RUU tersebut baru akan berlaku pada Senin depan, sehingga pemerintah federal AS yang sempat libur panjang hingga 45 hari, terlama dalam sejarah akan kembali beroperasi.

Penundaan aktivitas pemerintahan ini sebelumnya membuat pasar global minim acuan data ekonomi, sehingga menambah ketidakpastian. Begitu regulasi ini berlaku, pasar langsung menafsirkan berbagai laporan ekonomi penting akan segera kembali dirilis.

"Jumat seharusnya rilis data pengangguran dan inflasi dirilis kemudian dihilangkan karena masih liburnya pemerintahan Amerika jadi liburnya pemerintahan Amerika itu berarti bukan lagi 44 ya 45 itu mencapai libur terbesar ya di pemerintahan Amerika Serikat," ujar dia.

Data Ekonomi AS Tertunda Pasar Kehilangan Arah

Seorang wanita berjalan ke konter tiket Southwest di Bandara Internasional Los Angeles, Los Angeles, Amerika Serikat, 19 Desember 2022. Liburan Natal dan Tahun Baru bagi sebagian warga Amerika Serikat dan Eropa tahun ini menghadirkan kekhawatiran karena tekanan ekonomi. (AP Photo/Jae C. Hong)

Selain faktor politik, Ibrahim menyebut penundaan rilis data penting seperti inflasi dan pengangguran menjadi pukulan tambahan bagi pasar emas.

Seharusnya data tersebut diterbitkan pada Jumat, tetapi tertunda karena pemerintahan masih memasuki masa non-aktif. Tanpa data ekonomi, investor kesulitan membaca arah kebijakan The Fed. Ketiadaan rilis resmi membuat pernyataan-pernyataan pejabat bank sentral menjadi sangat berpengaruh.

Sejumlah gubernur The Fed seperti Neel Kashkari hingga Alberto Musalem menyampaikan bahwa pembahasan penurunan suku bunga terlalu dini tanpa dasar data yang lengkap.

"Karena kurangnya data ya disitulah akhirnya Bank Gubernur Bank Sentral Amerika memberikan ada sedikit ketakutan ya, kemungkinan besar Bank Sentral ini masih memikirkan untuk menurunkan suku bunga di bulan Desember ya bahkan Kaskari sendiri salah satu Gubernur Bank Sentral yang menolak penurunan suku bunga di bulan sebelumnya," ujarnya.

 

Prospek Harga Emas Dunia

Pedagang menunjukan perhiasan emas di sebuah toko Kawasan Cikini, Jakarta, Kamis (3/9/2015). Harga emas milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) hari ini terpantau bergerak stabil di posisi Rp560 ribu per gram. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Untuk perdagangan Senin, 17 November 2025, Ibrahim menilai harga emas masih berada dalam rentang risiko yang sama. Jika tekanan terus berlanjut, harga emas global dapat turun ke support pertama di USD 3.996 atau sekitar Rp 2.338.000 untuk logam mulia domestik.

Jika terkoreksi lebih dalam, level USD 3.900 menjadi support kedua dengan potensi harga domestik menyentuh Rp 2.298.000. Namun, jika pasar merespons positif beroperasinya kembali pemerintah federal dan munculnya rilis data baru, emas berpotensi menguji kembali level resisten di USD 4.166 dan logam mulia di Rp 2.378.000.

"Kalau seandainya mengalami kenaikan ya resisten pertama itu di hari Senin itu kemungkinan di USD 4.166, logam mulianya itu di Rp 2.378. Kemudian kalau seandainya turun ya itu support pertama di USD 3.996 untuk logam mulianya di Rp 2.338.000," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya