Advertisement
Liputan6.com, Bengkulu - Rumah yang ada di ujung gang sempit Jalan Cendrawasih, Kelurahan Kebun Keling, Kota Bengkulu, itu tampak sepi. Pintunya tertutup rapat. Di dalam rumah itu janda tua bernama Elismi tinggal bersama empat orang anaknya yang semuanya cacat.
Saat awak Liputan6.com berkunjung ke rumahnya, Selasa (11/11/2025), Elismi tampak tegar, auranya semangat meski usianya sudah 73 tahun. Tidak ada perabotan di rumah itu, hanya satu kursi berbahan busa dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Ada empat anak yang semuanya cacat di rumah itu, tiga mengalami lumpuh, bahkan dua orang di antaranya hanya tergolek lemah di pembaringan karena tidak bisa bergerak sama sekali. Sementara satu anak lainnya hanya bisa duduk di kursi dengan kaki yang mengecil dan juga tidak bisa bergerak leluasa. Hanya satu anak Elismi dalam kondisi fisik normal, tetapi secara mental mengalami keterbelakangan.
"Kami hanya bisa pasrah dan menjalankan hidup terserah kepada Allah saja," ujarnya kepada Liputan6.com sambil membenahi kerudungnya yang mulai pudar.
Penyakit yang diderita anak-anak Elismi merupakan turunan dari suaminya yang sudah meninggal terlebih dahulu. Tiga anaknya yang cacat secara fisik kemungkinan dampak dari faktor keturunan dan kekurangan asupan makanan bergizi.
Jika lapar dan tidak ada makanan, janda ini terpaksa keluar rumah untuk sekadar mencari beras dan lauk untuk dimasak dengan cara menjajakan makanan atau kue yang diproduksi tetangganya. Itupun masih harus berjalan kaki keliling kampung dan dengan rasa khawatir saat meninggalkan rumah.
"Takdir ini sudah tidak bisa kami lawan lagi. Hanya menunggu waktu saja," jelasnya dengan mata berkaca-kaca.
Bantuan Warga Seadanya
Meskipun tinggal di jantung Kota Bengkulu, kediaman Elismi janda dengan 4 orang anak cacat ini terlihat sangat pincang. Rumah yang ditinggalinya saat ini merupakan lahan yang diberikan oleh salah seorang pengusaha yang membangun perumahan elit di kawasan itu. Gubuk yang dulunya reot, pernah mendapat bantuan program bedah rumah oleh pemerintah Kota Bengkulu.
Kemas Abdulah, salah seorang warga yang beberapa kali menyalurkan bantuan dari masyarakat yang peduli mengatakan, bantuan hanya bersifat sementara dan seadanya. Tidak secara rutin dan mencukupi kebutuhan bertahan hidup keluarga ini secara terus menerus.
"Para tetangga juga sering mengulurkan bantuan, tetapi hanya untuk bertahan hidup saja," ungkap Kemas.
Diceritakannya, kekahawatiran Elismi meninggalkan rumah untuk mencari sesuap nasi bukan tanpa alasan. Salah seorang anaknya sering bertingkah diluar kontrol. Berteriak sambil mengamuk dan melempari rumah tetangga dengan batu.
"Ini yang menyebabkan rumahnya selalu dikunci," lanjut Kemas.
Warga berharap, keluarga ini bisa diberi perhatian khusus. Apalagi usia janda ini sudah termasuk golongan jompo dan butuh orang untuk berinteraksi. Serta ada pihak yang mau sekedar membantu bersama-sama mengurus anak-anaknya yang serba kekurangan.