Liputan6.com, Jakarta Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai harga emas dunia dan logam mulia akan bergerak dalam rentang fluktuatif pekan ini, seiring dinamika politik Amerika Serikat, perang dagang, serta ketegangan geopolitik global. Ia menyampaikan rilis pergerakan emas dunia, logam mulia, indeks dolar, dan rupiah sebagai acuan.
Ibrahim menjelaskan harga emas dunia pada Sabtu pagi pekan lalu ditutup di level USD 4.001,30 per troy ounce. Ia menyebut level support berada di USD 3.934 dan USD 3.837, sementara resistance berada di USD 4.063 dan USD 4.133. Menurutnya, rentang pergerakan harga emas dunia dalam sepekan diperkirakan berada di USD 3.837 hingga USD 4.133 per troy ounce.
Advertisement
“Kalau untuk harga emas dunia, Sabtu pagi ditutup di 4.001,30. Kalau seandainya melemah, yaitu di support pertamanya itu di 3.934. Kemudian, support kedua, di 3.837. Kemudian kalau harga emas dunia menguat, itu di 4.032. Di 4.032,” kata Ibrahim dalam keterangan resmi, Minggu (9/11/2025).
Untuk logam mulia Antam, harga ditutup di Rp 2.299.000 per gram. Support berada di Rp 2.260.000 dan Rp 2.200.000, sementara resistance berada di Rp 2.320.000 dan Rp 2.390.000. Ibrahim memperkirakan rentang pergerakan logam mulia selama sepekan berada antara Rp 2.200.000 hingga Rp 2.390.000 per gram.
Ia menjelaskan, fluktuasi emas dan logam mulia dipicu sejumlah faktor eksternal, mulai dari kebuntuan politik di AS terkait RUU pendanaan, penutupan pemerintahan yang sudah berlangsung enam minggu, penurunan tenaga kerja, hingga potensi penurunan suku bunga The Fed pada Desember.
Perang Dagang AS–Tiongkok
Ketegangan perang dagang AS–Tiongkok juga memperburuk sentimen pasar, terutama setelah AS berencana membatasi akses Tiongkok terhadap teknologi chip canggih.
“Nah ini yang membuat ketegangan antara Washington dan Beijing semakin memanas sehingga meresakan pasar dan orang kembali kemas,” ujar Ibrahim.
Ia menambahkan kondisi geopolitik di Eropa, khususnya perang Rusia–Ukraina, turut mendorong kenaikan permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Sementara itu, pelemahan rupiah yang diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.600 hingga Rp 16.800 juga menjadi faktor yang mendorong kenaikan logam mulia di dalam negeri.
Menurut Ibrahim, kombinasi ketidakpastian global, tekanan geopolitik, dan dinamika perang dagang membuat emas tetap menjadi instrumen yang banyak diburu investor.
Harga Emas Makin Mahal, Tembus Level Segini
Sebelumnya, harga emas naik pada hari Jumat (Sabtu waktu Jakarta) karena dolar melemah dan ketidakpastian seputar penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS) menambah permintaan aset safe haven. Sementara indeks Wall Street diperkirakan mengalami penurunan mingguan yang tajam.
Dikutip dari CNBC, Sabtu (8/11/2025), harga emas spot naik 0,7% menjadi USD 4.007,01 per ons. Sedangkan harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember naik 0,6% menjadi USD 4.013,10 per ons.
Pasar saham yang sarat teknologi tetap bersiap untuk penurunan mingguan terbesarnya dalam tujuh bulan pada hari Jumat, karena investor khawatir atas keberlanjutan reli saham kecerdasan buatan.
Dolar AS melemah, membuat emas batangan yang dihargakan dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
“Pergerakan harga baru-baru ini secara teknis menunjukkan bahwa kita mungkin telah menetapkan batas bawah harga emas dan perak,” kata Analis Senior Kitco Metal, Jim Wyckoff.
Emas dianggap sebagai lindung nilai selama ketidakpastian, dan sebagai aset yang tidak menghasilkan, cenderung menguntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.
Karena penutupan pemerintah AS menunda penerbitan laporan penggajian non-pertanian bulanan, para pedagang beralih ke data sektor swasta, yang menunjukkan hilangnya pekerjaan pada bulan Oktober, untuk mengukur kemungkinan pemotongan suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) lagi tahun ini.
Pemotongan Suku Bunga
Pasar sekarang melihat peluang 67% terjadinya pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember, menurut alat FedWatch CME Group.
Sementara itu, Tiongkok telah mulai merancang rezim perizinan tanah jarang baru yang dapat mempercepat pengiriman, meskipun tidak mungkin sepenuhnya mencabut pembatasan seperti yang diharapkan Washington.
“Meskipun gejolak dalam kebijakan perdagangan telah sedikit mereda, konflik-konflik tersebut belum sepenuhnya terselesaikan. Oleh karena itu, emas kemungkinan akan tetap diminati sebagai aset safe haven,” demikian pernyataan Commerzbank dalam sebuah catatan.
Di tempat lain, perak spot naik 0,6% menjadi USD 48,26 per ons. Platinum turun 0,5% menjadi USD 1.533,10 dan paladium stabil di USD 1.374,75. Ketiga komoditas ini akan mengalami kerugian mingguan.